Tips Ikut Pendakian Massal

Mengikuti pendakian massal (penmas) atau bersama memang memudahkan kita yang tidak mengenal medan atau kurang pengalaman dalam mendaki gunung idaman. Bagi perseorangan yang tidak memiliki relasi atau kenalan namun takut mendaki sendirian, penmas adalah salah satu pilihan yang umum ditempuh. Keuntungan lain yang diperoleh adalah kita mendapat kenalan baru, teman baru, bahkan pacar baru (eh) sambil merencanakan pendakian selanjutnya.

Beriringan.
Beberapa pendaki memperdebatkan pendakian massal, ada yang setuju, tidak sedikit juga yang menentang. Dari yang alasan konyol seperti ‘bukan pendaki sejati’ sampai alasan masuk akal yang berkaitan dengan ekosistem gunung. Setuju atau tidak itu sah-sah saja, tergantung pendapat masing-masing mengingat tujuannya sama, cuma caranya yang berbeda.

Semarak Kemerdekaan dari Banggai

Sudah berhari-hari Banggai diguyur hujan, bahkan dua hari terakhir hujan turun dari pagi sampai pagi lagi. “Ntar kalau bendera sudah dikerek, sudah, berhenti hujannya.”, kata orang lokal. Semoga saja benar, tentu upacara peringatan kemerdekaan bakal menjadi amburadul jika tiba-tiba hujan datang. Pukul tujuh pagi itu, saya sudah berada di dalam barisan upacara di kilang gas Donggi Senoro. Inilah pertama kalinya mengikuti upacara dalam nuansa perusahaan.
 
 

Jika dipikir-pikir, sedikit terasa lucu atau bisa juga dikatakan ironis. Ketika inspektur upacara membahas soal Indonesia yang telah lepas dari tangan penjajah, upacara ini didirikan oleh perusahaan bermodal negara Jepang, salah satu mantan penjajah Republik Indonesia. Dua orang yang berdiri di depan saya, juga adalah ekspatriat Jepang yang merupakan petinggi maincontractor di proyek kilang gas ini.

Pengalaman Rental Sepeda Motor di Bali

Bagi yang ingin menikmati Bali hanya dalam rentang waktu tiga empat hari tentu mendambakan sarana transportasi yang aman dan cepat. Menggunakan transportasi umum akan menjadi sangat tidak efisien dan boros waktu jika dalam waktu yang hanya beberapa hari tersebut ingin mengunjungi banyak tempat sekaligus. Menjelajah pantai-pantai yang belum terjamah, menyusur jalur pedesaan sambil menikmati persawahan, atau sekedar jalan-jalan di kota tentu akan mudah dilakukan jika menggunakan sarana transportasi sendiri.

Menanyakan Arah.
Di Bali, magnet bagi wisatawan Indonesia bahkan mancanegara, rental sepeda motor atau mobil adalah pilihan yang tepat, praktis, dan nyaman. Pada kesempatan berkunjung ke Bali tempo hari saya memilih sepeda roda dua ini sebagai sarana transportasi selama di sana. Dan benar saja, mudah sekali. Praktis dan fleksibel. Memudahkan untuk berpergian ke tempat tujuan dan tentunya sangat menghemat biaya.

Lawu, antara Bunga dan Banjir

Gunung Lawu adalah gunung ketiga bagi saya, yang waktu itu masih belia dan tanpa dosa (#uhuk). Kini setelah sembilan tahun lamanya dengan sedikit memaksa pada kesempatan cuti yang kesekian kali, akhirnya dapat bertemu kembali. Nostalgic rasanya. Waktu itu mendaki dengan teman-teman kuliah yang masih sepantaran, sekarang bersama dua gadis kuliahan yang cantik jelita (#uhuk).

Pos 1 Gunung Lawu.
Selepas mendaki Gunung Rinjani, dengan mengawali naik ojek di jam tiga pagi buta dari Senaru, perjalanan menuju Lawu dimulai. Di hari yang sama, terlambat dua jam dari perkiraan semula, pada pukul tujuh malam sudah bisa menginjakan kaki di Solo. Bus Surabaya-Solo yang saya tumpangi cukup nyaman, melaju dengan kencang dan hanya berhenti sekali di Ngawi untuk makan.

Lima Gunung dengan Danau Menawan

Tentu semua setuju, danau dan gunung adalah perpaduan yang ciamik! Bayangkan saja, pemandangan alam pegunungan yang indah ditambah permukaan danau yang bak kaca. Tambahkan di imaji tadi dengan kawan mendirikan tenda di pinggirannya, berkemah dan bersantai memancing ikan. Aih, siapa yang bisa menolak pesonanya? Maka tidak heran, perpaduan gunung dan danau seringkali dipotret untuk foto landscape kalender atau background wallpaper.

Menyusur Danau.
Nah, pada tulisan kali ini, izinkan saya untuk mengupas beberapa gunung di Indonesia yang memiliki danau di dalam kawasannnya. Danau-danau ini tentu sayang untuk dilewatkan untuk lokasi bertenda yang strategis. Selain menjadi sumber air minum yang mudah, feel berkemah di pinggir danau itu lo.. yang.. ah, rasakan sendiri ya, hehe..

Bersantai di Danau Segara Anak

Di luar tenda mulai terdengar hiruk pikuk para pendaki walau udara masih dingin menusuk. Sinar mentari pagi sedikit terlambat sampai ke tempat ini, terhalang tebing-tebing tinggi. Tak ingin ketinggalan menikmati suasana pagi di pinggir danau, kulepas sleeping bag, dan membuka pintu tenda. Hanya berjarak kurang dari sepuluh meter, Danau Segara Anak menjadi santapan nan lezat bagi mata yang lapar. Ah, akhirnya, yang dulu cuma angan kini menjadi nyata.

Heaven.
Di pinggir danau, para pendaki dan warga sekitar sudah asyik memancing ikan. Berbagai jenis joran menjulur ke tengah danau, mencoba peruntungan di pagi itu. Danau yang indah ini memang terkenal akan ikan mas dan mujair sebagai penghuninya. Dari sebesar jari sampai lengan orang dewasa dapat kita pancing. Mau digoreng atau dibakar, sama enaknya, sama gurihnya.

Beach Hopping di Bali Selatan

Siapa yang tidak kenal Bali? Destinasi favorit wisata ini menjadi primadona bagi Indonesia bahkan dunia. Malahan, saking terkenalnya, kadang kala turis mancanegara salah mengira bahwa Bali dan Indonesia adalah dua negara yang berbeda. Segala jenis wisata dapat kita temukan di Bali, tidak terkecuali pantai. Pulau Dewata ini banyak menyimpan pantai-pantai yang menawan hati. Nah, kali ini saya ingin sedikit menulis pengalaman tempo hari beach hopping di pantai bagian selatan Bali.

Pantai Padang-padang.
Hampir di sepanjang pinggiran pantai telah menjadi spot wisata yang dikelola dengan baik. Dengan berbekal rental sepeda motor lima puluh ribu sehari, menyusuri jalanan di pesisir selatan Bali menjadi pengalaman yang menyenangkan. Lupakan saran-saran tempat tujuan favorit, terkadang kita bisa menemukan pantai yang indah dengan tidak terduga-duga.

Menengok Perkampungan Bajo di Pagimana

Jarum alroji sudah menunjuk ke arah angka sebelas, cuaca cukup terik walau saat di jalan hujan sedikit mengguyur malu-malu. Di kiri jalan terlihat gapura besar ‘Pelabuhan Pagimana’ yang memberitahukan bahwa saya sudah sampai di Kecamatan Pagimana. Tidak ada objek wisata yang menarik di sini, tidak ada pula pusat perbelanjaan atau tempat hiburan. Sebenarnya, hanya rasa penasaran yang membawa langkah kakiku ke sini, lain tidak.

Pemandangan di Pinggir Jalan.
Berawal dari obrolan-obrolan di kantor seputar ‘kota’ di sekitar Luwuk, terucaplah Pagimana. Pagimana sebenarnya hanya sebuah kecamatan yang termasuk dalam Kabupaten Banggai. Dibanding Luwuk yang menjadi ibukota kabupaten, Pagimana masih kalah jauh. Hanya terdapat pelabuhan yang menghubungkan ke Gorontalo, Kepulauan Togean, dan tempat lainnya. Penyebrangan di sini lumayan ramai akan hilir mudik feri setiap harinya.

Cidera yang Sering Terjadi Saat Travelling dan Penanganannya

Saat melakukan perjalanan tentu kita tidak berharap akan mengalami suatu kecelakaan, baik kecil maupun besar, dari sekedar luka lecet atau bahkan sampai patah tulang. Tentu alangkah baiknya pula jika kita mengerti dan dapat melakukan pertolongan yang baik dan benar. Kadangkala bentuk pertolongan pertama yang tepat dan cepat dapat menentukan hidup mati kita atau orang lain.

Ilustrasi.
Ketika melakukan trekking yang jauh masuk ke hutan atau daerah yang sepi tanpa ada peradapan, bantuan akan susah didapatkan. Jangankan mengharap bantuan medis,  desa terdekat terkadang baru dapat ditemui sehari dua hari perjalanan. Berikut adalah beberapa cidera yang sering ditemui saat berpergian dan bagaimana untuk pertolongan pertamanya.

Pendaki [yang kian] Lebay

Tulisan ini hanya melihat realita yang ada dari kaca mata saya. Melihat tingkah polah pendaki di alam nyata dan alam media sosial. Menarik—atau lebih tepat dikatakan parah, untuk diamati. Mungkin saja ini cuma pesimisme saya yang berlebihan atau bisa jadi ini cuma rasa jengkel yang ingin saya wujudkan dalam tulisan kali ini. Apapun itu, semoga saya dan kita tidak seperti itu.


Ada banyak tipe-tipe pendaki (secara tanpa sadar saya kotak-kotakan) yang hilir mudik di gunung. Ada yang menjadikan gunung sebagai media pembuktian ke-keren-an diri, ada juga yang menjadikannya usaha promosi berjalan, dan banyak pula yang cuma ingin menikmatinya. Ada yang sadar gunung itu medan ekstrem, ada pula yang masih belum sadar kalau gunung itu bukan mall. Ada yang sadar kalau petugas kebersihan DKI ruang lingkup kerjanya tidak sampai Semeru, namun sayangnya banyak yang belum.

Uwe Molino Tontouan

Satu lagi tempat wisata di Luwuk yang menarik dikunjungi di akhir pekan yakni Uwe Molino Tontouan. Uwe molino dalam bahasa lokal berarti air yang menggenang, mungkin sama artinya dengan telaga. Penasaran, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat satu ini. Makin lama di Luwuk, ternyata makin banyak tempat-tempat wisata menarik yang dapat dikunjungi. Asyiknya lagi, lokasi ini di seputaran Kota Luwuk, tidak butuh waktu lama untuk perjalanan ke sana.
 
Uwe Molino Tontouan.
Kurang lebih sepuluh menit dari pusat kota ke arah barat daya kita akan menemui sebuah plang kecil di pinggir jalan. Tulisan di plang tersebut yakni: Pemandian Wisata Uwe Molino Tontouan. Dinamakan demikian karena berada di Desa Tontouan. Dari pintu masuk, kita masih harus berjalan kurang lebih 300 meter menuruni tangga. Pemandian yang kita tuju ada di ujung tangga. Ohya, tidak ada penjaga pintu yang menjual tiket di sini, bebas alias free.

Masjid Agung Jawa Tengah

Jika kawan hendak berwisata religi di Kota Semarang, tentu sayang jika melewatkan Masjid Agung Jawa Tengah. Sebuah masjid yang didesain dengan perpaduan gaya Islami, Jawa, dan Romawi ini merupakan masjid terbesar di Jawa Tengah. Yang menarik, di sini juga dibangun 6 payung raksasa di halaman masjid yang menyerupai Masjid Nabawi di Arab sana. Payung ini hanya dibuka saat sholat Jumat, Idul Adha, dan Idul Fitri bagi jamaah yang berada di halaman masjid.
 
Masjid Agung Jawa Tengah.
Selain itu, kita juga dapat menikmati pemandangan Semarang dari atas Menara Asma Al-Husna yang memiliki ketinggian 99 meter. Tidak perlu kuatir membayangkan menaiki tangga sampai ke atas karena sudah disediakan lift untuk para pengunjung dengan membayar biaya masuk yang sangat terjangkau. Dari atas menara kita dapat melihat Kota Semarang dengan pandangan 360 derajat. Hati-hati, terkadang angin lumayan kencang di atas.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...