Papandayan Kini

Pada long weekend kali ini, saya akhirnya bisa menginjakan kaki kembali di Papandayan, gunung kecil di Garut yang tersohor akan pesona hutan matinya. Ini adalah kali ketiga saya. Terakhir ke sini pada tahun 2013 silam, dua tahun yang lalu. Saat itu saya dalam rombongan delapan orang, namun kini hanya berdua saja dengan kekasih. Pendakian perdana sebagai latihan untuk pendakian selanjutnya dengan medan yang lebih berat.

Warung dekat Kawah.
Agak kaget juga dengan kondisi Papandayan kini, bagi saya, Papandayan bukan lagi sebuah gunung, tetapi lebih cocok disebut tempat wisata, hehe.. Namun tetap saja kita harus melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dari sisi penduduk sekitar, anemo masyarakat akan “gunung” tentu berarti prospek pendapatan tambahan dari segi ekonomi. Tak ayal, sekarang bermunculan warung-warung yang menjajakan cemilan, nasi goreng, minuman panas, cinderamata, bahkan sampai peralatan pendakian.

Dudul saat Naik Kereta

Kereta selalu menjadi moda transportasi favorit saya, apalagi kalau bukan karena jadwal yang hampir pasti tepat dan tidak terjebak macet. ya, iyalah, gak mungkin kan metromini menyerobot jalur kereta api? Yang ada tergilas, ups, semoga tidak pernah terjadi. Tidak seperti bis, kita dapat berjalan-jalan dengan bebas di dalam kereta asal tidak membawa barang dagangan, nanti bisa-bisa bukan lagi jalan-jalan, tetapi kejar-kejaran dengan Bapak-bapak satuan pengamanan, hehe..

Stasiun Bandung.
Banyak kejadian lucu (baca: tragis) yang saya alami dengan moda satu ini. Jika diingat-ingat kembali, kok bisa ya dulu kayak gitu. Dari ketinggalan kereta, salah tanggal dalam membeli tiket, atau salah membaca jam. Semua itu terjadi karena, terus terang harus diakui, kedodolanku sendiri, hikss.. Berikut kisah lengkapnya.

Gunung Karang yang Mistis

Seperti yang sudah-sudah, saya tidak membutuhkan perencanaan jauh-jauh hari untuk mendaki gunung sejenis Lembu, Pulosari, atau Karang. Gunung-gunung lokal ini sudah lumayan ramai dikunjungi sehingga akses menuju ke titik mulai pendakian dan jalur ke puncak sudah tergambar dengan jelas. Keterangan pun sudah dengan mudah dapat kita peroleh di internet. Semenjak membaca bukunya Clement Steve berjudul Menyusuri Garis Bumi, saya ingin sekali mendaki gunung satu ini. Karena itu, ketika ada teman yang bisa menemani, sore itu kami putuskan untuk mendaki Gunung Karang.

We made it!
Seharusnya jika membaca keterangan di internet, akses ke sana cukup mudah, ada beberapa jalur yang dapat dilewati seperti Kaduengang dan Pagerwatu/Ciekek. Seharusnya gunung ini pun cukup mudah didaki karena sering ‘dijamah’ oleh pendaki, tentunya jalur pendakian jelas dan tidak harus membuka jalan. Seharusnya pula, bagi kami berdua yang belum pernah mendakinya tentu tidak akan banyak mengalami kendala, tetapi…

Menikmati Akhir Pekan di Bandung

Jalan di Braga pagi itu cukup lengang. Pejalan kaki tidak begitu banyak, toko-toko pun sebagian masih menutup tirainya. Memang, sudut Kota Bandung satu ini biasanya lebih ramai pada sore atau malam hari. Asyik kami berdua menikmati gedung-gedung tua di kiri kanan jalan, berfoto di kursi taman dengan latar dinding bata yang antik, dan menikmati lukisan yang dipajang sepanjang jalan.Tak lama, lewat bus tingkat pariwisata Bandung yang berwarna biru dengan penumpangnya yang penuh tawa, asyik berfoto dan selfie.
  
Braga.
Kupegang erat tangan kekasihku, senang dapat berjalan-jalan berdua lagi di tengah kesibukan dan jarak yang memisahkan kami berdua. Sudah lama kami berencana berkunjung di kota ini dan akhirnya terwujud pada pagi hari yang cerah itu. Memang, ini bukan kunjunganku yang pertama, sudah beberapa kali saya singgah di kota ini bersama kawan-kawan atau memang ada keperluan sendiri.

Mendaki Gunung Salak

Sejak 2010, Salak selalu menjadi wacana bagi kami berdua, saya dan Lei, teman naik gunung yang sangat doyan ngopi (dan akhir-akhir ini, lari). Saya hitung, sudah tiga kali rencana ke sana gagal sebelum eksekusi, batal sebelum berangkat. Entah dari segi waktu yang tidak tepat karena tiba-tiba ada keperluan mendadak atau tiba-tiba, entah kenapa, kami berdua memutuskan untuk mengganti tujuan pendakian ke gunung lain, hehe..

Melewati Jalur yang Longsor.
Di benak saya, Salak selalu menjadi gunung yang penuh mitos. Sepertinya saya terpengaruh dari cerita-cerita yang beredar seperti cerita mistis atau cerita tersesat karena banyaknya percabangan yang harus dilalui. Horor pokoknya. Mungkin itulah penyebab ‘pembatalan’ rencana pendakian-pendakian sebelumnya. Tanpa sadar, benak saya mengatur agar tidak mendaki Gunung Salak. Mungkin saja.

Pulosari, Gunung Kecil dari Banten

Pernah dengar Gunung Pulosari? Belum? Jika Anda berdomisili di luar Provinsi Banten, wajar saja jika belum pernah mendengarnya. Saya pun baru mendengarnya setelah tiga bulan tinggal di Cilegon, Banten. Munkin saya yang katrok dan tidak gaul, yang jelas, pendakian kali ini bukan menentukan  gunungnya terlebih dahulu baru kemudian tanggal, sebaliknya, ada tanggal kosong baru mencari ilham untuk mendaki gunung mana. Ilham kali ini jatuh ke Gunung Pulosari.

Gunung Pulosari.
Gunung Pulosari sendiri terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten. Gunung setinggi 1.346 mdpl ini berdiri gagah di ujung barat Pulau Jawa bersama Gunung Karang dan Gunung Aseupan. Tiga puncak ini seperti membentuk sebuah segitiga terbalik kalau dilihat di peta. Gunung Karang di sebelah kanan, di kiri ada Gunung Aseupan, dan Pulosari terletak di bawahnya.

Jangan Lupakan Bawa Benda Kecil ini Saat Pendakian

Menikmati keindahan alam di daerah pegunungan memang penuh dengan tantangan. Kondisi alam yang tidak menentu, baik itu cuaca yang kadang suka berubah-ubah atau dari kontur alamnya yang kadang membuat kita kehilangan orientasi. Namun, tentunya hal-hal seperti inilah yang membuat pendakian makin berkesan dan diganjar dengan panorama alam pegunungan yang indah membuat pendakian menjadi seperti candu untuk selalu meminta diulang kembali.



Untuk menghadapi kondisi terburuk di gunung, kita membutuhkan persiapan yang baik. Baik dari segi tubuh kita yang harus dilatih terlebih dahulu, dibiasakan berolahraga agar tubuh dalam kondisi prima dan sehat, maupun dari segi perlengkapan yang harus dibawa. Selain perlengkapan ‘besar’ yang harus dibawa seperti tenda, alat masak, sleeping bag, matras, dan lain sebagainya, ada juga perlengkapan ‘kecil-kecil’ yang tidak kalah penting. Pada tulisan kali ini, saya ingin mengulas beberapa item yang sebaiknya tidak dilupakan dibawa ini.

Krabi, a Nice Place to Honeymoon

Menjelang pernikahan, umumnya orang akan pusing dengan persiapan prosesi pernikahaan yang ruwet dan seabrek. Tidak terkecuali diriku, pernikahan ini memang menyita sebagian waktuku, namun untungnya hanya sebagian kecil saja. Sebagian besar fokusku malah jatuh pada “rangkaian” akhir prosesi pernikahaan yang disebut honeymoon. Sengaja kumasukkan ke dalam rangkaian pernikahan, yah, agar kelihatan kerja sedikit, ikut membantu acara, hehe…

Berkendara Roda Dua di Krabi.

Akhirnya jatuh ke Krabi
Pada mulanya Krabi tidak pernah terpikir sama sekali olehku. Keinginan kami saat itu yakni hendak mengunjungi bagungan tua di Osaka, melihat Sakura, dan makan mie ramen langsung di negara aslinya, Jepang. Membaca berbagai referensi dan kondisi yang ada, sepertinya haluan harus dirubah. Pergi ke Jepang dengan passport baru kami yang belum e-passport mengharuskan mengurus visa di Jakarta terlebih dahulu. Kala itu aku masih di pelosok Sulawesi, dan calon istriku sibuk dengan S2nya, membuat kami akhirnya memutuskan mengganti tempat atau negara yang tidak memperlukan visa.

Melaut ke Pulau Tikus

Berada di bawah lautan bintang saat berada di atas gunung bagi saya sudah biasa, di atas gedung bertingkat, bukit, ataupun pantai pun sudah pernah. Namun baru kali ini pertama kali dapat merasakan di bawah taburan jutaan bintang di langit saat berada di atas perahu nelayan saat tengah malam. Samar-samar dapat melihat pemandangan sekitar, cahaya-cahaya dari pulau di seberang lautan. Di perahu berkapasitas tiga orang ini, saya duduk di paling depan, menerima hempasan angin malam dan deburan ombak yang tidak begitu tinggi. Tedapat sebuah kenikmatan tersendiri.
 
Senja di Pulau Tikus.
Sebenarnya, rencana untuk meninggalkan Pulau Tikus, tempat bermalam kami, akan kami lakukan  selepas subuh. Saat ombak tidak begitu kencang dan matahari sudah keluar dari peraduan. Namun alam berkehendak lain, pukul sebelas malam cuaca memberikan pertanda bahwa sebentar lagi akan datang badai. Ireng, teman nelayan saya sudah menyadarinya dari hawa yang panas karena tidak ada angin dan para nelayan senior lainnya sudah tidak tampak lagi di sekitar pulau. Benar saja, sejam kemudian saat sudah di tengah lautan, awan tebal menghampiri Pulau Tikus.

Amboinya Bukit Country

“Mas, ada yang mau ke Country neh, berangkat siang ini, mau ikutan ndak?”, pesan singkat yang masuk ke handphone pagi itu. Pesan yang sudah lama kutunggu-tunggu, sudah lama ingin menjejakan kaki di Country yang katanya mempunyai pemandangan yang aduhai. Padahal, hari itu sudah janjian dengan teman akan pergi ke Banggai Laut. Namun setelah menimang-nimang lagi, rute ke Country lumayan jauh, harus berjalan kaki (katanya) sampai empat jam, ke Banggai Laut dapat kulakukan kapan saja dengan kapal laut. Hmm.. Let’s hike, then!
 
Perjalanan Pulang Lewat Tombang.
Menurut info dari Wawan, ada temannya yang akan kemping di Country dan akan berangkat siang atau sore dari Luwuk. Walau belum kenal dengan teman jalan, tidak masalah, bukan sekali ini jala-jalan atau naik gunung dengan teman yang belum dikenal sebelumnya. Hobi jalan-jalan mengajarkan kita banyak hal dalam mengenal satu sama lain dengan baik. Tidak ingin membuat teman perjalanan menunggu, kupacu kendaraan agar sampai tepat waktu.

Menyaksikan Upacara Tumpe di Batui

Para pria berpakaian serba merah itu tampak resah, langit mendung yang sedari tadi siang mulai menampakan gelagat memuntahkan kandungan airnya. Gerimis mulai turun tepat ketika mereka tengah berbaris dengan masing-masing memegang beberapa butir telur burung Maleo yang sudah dibungkus daun Kamunong, sejenis daun Palma. Ukuran yang besar membuatnya mudah terlihat, dan ironisnya itu juga yang membuat telur burung Maleo makin sulit didapat karena diburu banyak orang.
 
Para Pengantar Telur.
Walau ukuran burung Maleo kecil, tidak sampai sebesar ayam kampung, namun telur yang dihasilkannya bisa dua sampai tiga kali besar telur ayam. Kian hari, populasi satwa endemik Banggai ini makin sedikit. Mungkin, itu pula penyebab Upacara Tumpe yang biasanya diadakan di bulan September harus diundur ke awal bulan Desember. Kira-kira dibutuhkan 160 telur burung Maleo untuk mengadakan acara Tumpe.

Mengejar Matahari di Lenyek

Selepas subuh kami mulai memacu sepeda motor keluar dari rumah. Suasana sekitar masih gelap, udara masih cukup tajam untuk membuat tubuh kedinginan. Jaket tebal, sarung tangan, slayer untuk menutup mulut, dan helm membalut tubuh kami menyusur jalanan pagi itu, berpacu dengan sang surya yang sebentar lagi keluar dari peraduan. Kami memang sengaja berangkat dini hari hari untuk bisa menikmati terbitnya mentari pagi di Lenyek, alhasil kami seperti mengejar matahari.

Mentari Pagi di Lenyek.
Estimasi perjalanan dari Kota Luwuk ke Lenyek sekitar 30-45 menit. Dengan dua sepeda motor membelah dinginnya pagi, kami berpacu dengan waktu. Jangan sampai ketika sampai, mentari sudah tinggi di atas. Jalanan masih lengang, hampir tidak ada pengguna jalan lain selain kami. Sepertinya kami memang benar-benar kurang kerjaan, hehe..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...