Pesta Durian Banggai

Mulai bulan Maret, suasana pasar-pasar di Banggai akan ramai dengan para pedangan durian. Tidak hanya itu, di sepanjang jalan Luwuk-Toili dengan mudah buah berkulit duri ini kita temui. Tak terkecuali di Batui, tempat saya singgah, setiap malam di pasar – di sini pasar beroperasi sampai larut malam – suasana makin meriah oleh penjual dan penikmat buah beraroma tajam ini. Ya, bulan Maret adalah saatnya warga Banggai untuk berpesta durian.

Belah Durian.
Mungkin yang membedakan durian di sini dengan di Jawa atau Sumatra yakni ukurannya yang tergolong imut. Kecil. Rata-rata hanya berdiameter 10-15 cm saja, daging buahnya pun tidak begitu tebal, biasa saja. Namun yang jelas, selama merasakan durian-durian imut itu hampir tidak pernah menemukan durian yang rasanya tidak enak. Semua enak, manis! Apalagi kalau tinggal makan, hehe..

‘Berkunjung’ ke Nusakambangan

Bagi kebanyakan orang, Nusakambangan tentu bak Alcatraznya Indonesia. Sebuah penjara yang dibangun di sebuah pulau ‘tak berpenghuni’ membuat tahanan terisolasi di tengah lautan. Karang, obak, dan laut menjadi batas yang hampir mustahil ditembus. Namun bagi warga Cilacap, selain sebagai tempat para napi menjalani masa hukuman, pulau kecil ini juga berfungsi sebagai tempat rekreasi. Tidak percaya?

Benteng Pendem.
Untuk menuju Pulau Nusakambangan yang berada di Kabupaten Cilacap ini, kita dapat melalui berbagai jalur. Pengalaman saya hendak menuju ke pulau ini sedikit mengalami penolakan. Mungkin karena faktor ketidaktauan saja. Ketika hendak menyebrang dari dermaga Departemen Perhubungan, ditolak. Tidak menyerah mencoba peruntungan dari Departemen Kehakiman, itupun juga di tolak. Akhirnya pergi ke Pantai Teluk Penyu, ternyata bisa menyebrang dengan harga murah dan disambut oleh plang Departemen Pertahanan.

LOST

Pernah tersesat di gunung? Saya pernah. Untungnya tidak sampai berhari-hari, hanya beberapa jam saja. Kebingungan saat mencari jalan naik walau sudah beberapa kali mendaki gunung yang sama atau kebingungan saat mencari jalan turun membikin frustasi memang. Ketika kondisi fisik sudah mulai menurun dan kondisi lingkungan yang tidak begitu bersahabat bertemu maka secara psikologis akan membuat kita makin panik.

Mencari Jalan.
Jika dilihat dari ketinggiannya, Gunung Ungaran yang memiliki puncak 2.050 mdpl memang tidak terlalu tinggi. Pun gunung ini mudah dijangkau dan masih terdapat perkampungan dekat dengan puncaknya. Namun di gunung ini pula saya beberapa kali sempat tersesat. Entah kebingungan mencari jalur naik hingga harus sedikit memutar ataupun terjebak di rimbunnya pepohonan hingga tidak bisa tembus. Rencana berfoto di puncak pun kandas karena terlalu meremehkan medan.

Menghilangkan Pening di Rawa Pening

Jika kawan melintas dari arah Jogya atau Solo menuju Semarang, pastinya pernah melewati sebuah rawa luas yang mencakup beberapa kecamatan. Dengan luas 2.670 ha, Rawa Pening membentang dari Ambarawa, Banyubiru, bahkan sampai Salatiga. Untuk menuju kesini kita tidak perlu bersusah-susah. Ada tiga titik wisata yang dapat dituju, di Tuntang ada Rawa Permai yang ramai, di Banyubiru ada Bukit Cinta yang katanya lebih teduh, dan tempat terakhir yang menjadi tujuan saya: Wisata Apung Kampung Rawa di Ambarawa.

Karamba.
Kampung Rawa sejatinya adalah hasil paguyuban warga Ambarawa untuk menarik wisatawan ke Rawa Pening. Di samping dapat menciptakan lapangan kerja baru, hal ini dapat mempermudah dan memberikan alternatif untuk para wisatawan. Terdapat perkumpulan perahu yang dapat di sewa untuk menjelajah Rawa Pening, kios-kios oleh-oleh, warung-warung jajanan dan makanan, dan restoran apung yang menawarkan aneka menu lokal.

Alam Liar dan Kisah Argopuro

Embun pagi dan bau tanah pagi hari menyeruak masuk ke sanubari. Gerimis yang semalam iseng menyapa sekitaran tenda menambah harum pagi ini. Tidak mau kalah, dingin yang menusuk tulang ikut datang tidak mau ketinggalan. Di kejauhan, kabut pekat masih belum rela melepas pelukan dari permukaan danau yang jernih bak kaca. Pagi itu, Danau Taman Hidup seperti menyambut kami dengan segala keindahannya yang hendak menuju Puncak Argopuro.

Cikasur.
Dikisahkan, Argopuro adalah tempat pelarian Dewi Rengganis karena tidak merasa diakui oleh ayahnya Prabu Brawijaya. Bersama patih dan pengikutnya yang setia beliau melarikan diri dari istana. Hal ini mungkin bukan hanya cerita isapan jempol, di puncaknya masih dapat kita lihat sisa-sisa seperti pura dan bangunan lainnya. Mungkin karena itu pula, gunung ini disebut demikan. Dari kata argo yang berarti gunung dan puro berarti pura.

Piknik di Hutan Belakang Kampus

Ingat kisah Nobita dan kawan-kawan yang suka bertualang di hutan belakang sekolah? Mencari serangga, berkemah, atau melakukan hal-hal yang menegangkan. Aku yakin kawan pasti ingat. Jika Nobita melakukannya saat masih di Sekolah Dasar, aku melakukannya ketika sudah menginjak bangku kuliah. Hehe.., bersenang-senang tidak mengenal umur kawan. Beruntunglah di belakang kampusku dulu terdapat ‘hutan’ yang masih permai sehingga aku dapat sedikit merasakan kecerian sahabat Doraemon ini.

Memasak Mie.
Berada di lokasi yang berbukit-bukit, kampusku  dibangun di tempat yang dulunya hutan. Kini, di belakangnya masih menyisakan sedikit bekas hutan. Sebagian telah berubah menjadi perkerbunan penduduk sekitar. Sebagian lagi menjadi tempat berlatih tentara sehingga kesan ‘hutan’nya masih terpelihara dengan baik. Mungkin malah sengaja dipelihara.

Mendaki Gunung Slamet

Berdiri menjulang setinggi 3.428 meter dari permukaan laut menjadikan Slamet sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah. Rumornya, Slamet dianggap gunung suci pada masa Kerajaan Majapahit sehingga kawasan ini tetap tidak terjamah. Hal ini pula yang menyebabkan dialeg penduduk di kakinya sedikit (baca: tetap) berbeda dengan penduduk Jawa yang lain. Kalau di Bayuwangi ada Bahasa Osing, di kaki Slamet di kenal dengan nama Bahasa Ngapak.

Di Puncak Slamet.
Bersama dengan Sindoro dan Sumbing, Slamet terkenal dengan sebutan triple S. Kesamaan huruf awal dan lokasi yang berdekatan mungkin menjadi latar belakang adanya istilah ini. Keindahan gunung satu ini sayang untuk dilewatkan. Jalur dengan vegetasi hutan yang lebat dan terkesan mistis. Sementara selepas Pos 5 kita akan disuguhi pemandangan di atas awan yang luar biasa. Indah sekali. Namun seperti kedua saudaranya, di sepanjang jalur Gunung Slamet tidak memiliki sumber air.

Asyik Naik Becak di Kotagede

Gerimis sedikit menggoda siang itu ketika bus transjogya berhenti di Halte Tegalgendu. Ikon baru Yogyakarta ini makin mempermudah para wisatawan menjelajah Kota Gudeg. Keluar dari halte kami sedikit kebingungan akan bagaimana menikmati keindahan Kotagede. Memang, rencana ke bekas peninggalan Kerajaan Mataram ini tercetus secara spontan saja. Seperti menjawab kebingungan kami, datanglah tukang becak yang menawarkan jasanya dengan ramah. Menyusur Kotagede dengan becak? Kenapa tidak!

Para Abdi Dalem yang Hendak Pulang.
Memasuki kawasan Heritage Kotagede terdapat sebuah plang selamat datang yang sederhana di pinggir jalan sebelum jembatan. Mulai dari sini suasana Jogya yang sudah terkenal akan keramahtamahan dan ‘adem’nya makin terasa. Rumah-rumah yang berpadu apik dengan jalanan dan kebun. Gang-gang kecil yang menanti untuk ditelusuri. Ada pula peninggalan Panembahan Senopati selaku raja Mataram Islam pertama yang menanti untuk dikunjungi.

Teringat Akan Kereta K3

Sumpek, harus berdesak-desakan, dan gelesotan di lantai gerbong karena tidak kebagian tiket mungkin adalah pemandangan yang lumrah pada kereta K3 dulu. Kereta api bak supermarket berjalan yang menawarkan segala jenis barang dan jajanan kepada penumpang. Portable charger, boneka, baju batik, pecel, gorengan, hingga oleh-oleh khas tiap daerah yang dilewati dapat kita peroleh tanpa keluar gerbong. Bahkan tanpa berdiri dari kursi. Ya, itulah sedikit gambaran kereta api ekonomi atau yang dikenal dengan kereta K3.

Adek-adek Penumpang K3.
Nama K3 ini sebenarnya berasal dari sistem penomoran tingkatan kereta api. Kelas ekonomi dikategorikan ke dalam kelas tiga. Oleh karena itu di gerbongnya tertulis K3, semisal K3 99207 mempunyai arti kereta kelas ekonomi dengan tahun pembuatan 1999. Digit ketiga dan empat adalah tahun pembuatan, sedangkan digit kelima adalah jenis bogie dan dua digit terakhir adalah nomer urut.

Menyisir dan Menelisik Mitos Maninjau

Alkisah hiduplah sepuluh bersaudara yang dikenal dengan nama Bujang Sembilan dengan si Bungsu yang cantik jelita. Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di kaki Gunung Tinjau. Menginjak dewasa, terjalinlah cinta kasih antara Sani si Bungsu dengan Giran, anak dari kerabat mereka. Namun, hubungan tersebut harus berakhir tragis karena Kukuban, sulung dari Bujang Sembilan menaruh dendam hingga fitnah kepada Giran. Singkat cerita, Gunung Tinjau meletus berkat doa si Giran dan menghancurkan Bujang Sembilan. Gunung yang meletus tersebut sekarang berubah menjadi Danau Maninjau.

Mengayuh Sampan di Maninjau.
Begitulah sepenggal mitos terjadinya Danau Maninjau yang merupakan danau terbesar kedua di Provinsi Sumatera Barat. Pesan moral legenda tersebut sangat jelas, janganlah kita mendendam orang lain karena hal yang bukan menjadi kesalahannya. Dari dendam dapat muncul iri dengki hingga fitnah yang tidak berdasar. Kini, yang tersisa adalah keindahan Danau Maninjau yang sayang untuk dilewatkan jika kita berkunjung ke Sumatera Barat.

My First CPR in Real

Mungkin sudah puluhan atau bahkan ratusan kali aku mempraktekan CPR, namun hanya sebatas latihan pada manekin atau teman, itupun tidak di dada. Tidak pernah terbersit untuk bisa mempraktekan secara nyata. Karena, jika kita berharap untuk melakukan CPR, berarti kita berharap orang lain, bisa juga saudara atau kenalan kita, mengalami musibah. Orang yang harus diberikan CPR secara teknis sudah meninggal mengingat jantung sudah tidak lagi berfungsi. Dan itulah yang harus kulakukan saat dalam perjalanan pulang dari solo trip ke Gunung Padang.

Ilustrasi CPR (doc. @aliepodja).
CPR (Cardio Pulmonari Resusitation) atau dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah RJP (Resusitasi Jantung Paru) adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi pernafasan pada korban henti jantung. Tindakan ini dianggap sebagai langkah yang paling efektif dilakukan oleh orang awan tanpa bantuan alat. Dan terutama sangat penting dilakukan untuk korban henti jantung karena masih ada kemungkinan untuk dapat diselamatkan.

Fotografi Buta di Arjuna Welirang

Yang aku maksud dengan fotografi buta ini bukan fotografi oleh orang buta, bukan pula memoto orang buta. Namun ketika kita memotret dalam kondisi tidak bisa melihat objek yang hendak kita foto. Bukan tidak ada view finder, bukan pula karena sedang aksi. Hal ini semata-mata disebabkan layar lcd kamera pocket yang rusak sehigga kita tidak bisa melihat objek yang hendak kita ambil, hehe..

Menyusur Gunung Arjuna.
Awal kisah sebagai mahasiswa kere yang agak narsis, ketika jalan-jalan yang pertama kali dicari yakni pinjaman kamera. Setelah cari sana-sini tiada hasil, tinggal kamera pocket Nikon Coolpix temen yang dapat dipinjam. Sialnya, lensa kameranya rusak dan memang desain kamera tersebut tidak menyediakan view finder. Okelah, daripada tidak ada dokumentasi sama sekali, foto-entah-bagaimana-hasilnya pun tak mengapa.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...