Memacu Andrenalin di Puncak Pulau Dua

Jika dilihat dari arah perkampungan, Puncak Pulau Dua hanya seperti gundukan bukit kecil. Tingginya pun paling hanya 100 meter dari permukaan laut. Di puncaknya tertancap bendera merah putih, peninggalan tim ekspedisi pulau terluar NKRI. Gersang. Hanya rumput kering yang menghiasi Puncak Pulau Dua ini. Di satu sisi menampilkan keindahan tersendiri, di sisi lain berarti harus ada usaha ekstra saat menggapai puncaknya.

Pulau Dua dari Atas.
Tepat setahun yang lalu saya mencoba mendakinya, namun karena terjalnya medan dan belum tahu jalur yang harus dilalui, percobaan kala itu hanya berakhir 10 meter dari batas pepohonan. Mungkin saya melewati jalur yang salah. Bagaimana mungkin bisa berjalan dengan kemiringan hampir 60 derajat tanpa pegangan satu apapun? Gundukan rumput tidak bisa diandalkan, sekali pegang, tercabut sudah. Ah, bisa-bisa, saya terguling jatuh ke bawah.

Lu Kapan ke Lukapan?

Tepat setahun yang lalu saya pertama kali menginjakan kaki di ujung semenanjung Sulawesi Tengah, namun belum kesampaian untuk mendaki ke bukit kecil tempat memandang Pulau Dua dari atas. Percobaan kedua, gagal total karena motor yang kecemplung ke rawa-rawa sampai sedalam pinggang. Jangan tanya “kok bisa kecemplung?”, memalukan untuk membahasnya lagi. Mana butuh satu jam lebih untuk dapat membuat motor bisa kembali melaju. Sial. Namun, di percobaan ketiga saya berhasil, pas sunrise pula, jackpot!

Pulau Dua dari Lukapan.
Pada kali ketiga ini pula baru saya ketahui nama gunung (menurut saya lebih cocok disebut bukit, tapi warga sini menyebutnya dengan gunung) tersebut adalah Lukapan. Ketika saya tanya apa artinya, ternyata warga sekitar juga tidak tahu, sepertinya bukan bahasa Balantak. Yang jelas, dari Lukapan kawan dapat melihat seluruh gugusan Pulau Dua dari ketinggian, indah sekali.

Laumarang, Rajanya Air Jatuh di Luwuk

Setahun lebih berlalu sudah saya tinggal di Banggai, dan kian hari ternyata makin banyak saja lokasi menarik yang dapat dikunjungi. Pada kesempatan kali ini saya mendapat informasi tentang air jatuh (sebutan untuk air terjun di Banggai) yang berada tidak jauh dari Luwuk, pusat pemerintahan Kabupaten Banggai. Namanya Air Jatuh Laumarang, yang menurut orang sini namanya berasal dari nama Pak Laumarang, orang yang pertama kali membuka lahan dan menemukan air jatuh tersebut.

Air Jatuh Laumarang.
Untuk menuju kesini tidak begitu sulit. Dari arah Luwuk kita menuju ke Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro Kalumpang yang hanya 10 menit dengan kendaraan roda dua atau empat. Ohya, karena jalurnya yang lumayan susah, sebaiknya tidak menggunakan moda roda empat dari sini, jalan kaki paling hanya satu jam saja dari Kalumpang. Kemudian ambil jalan naik di sebelah kanan, jalan lumayan menanjak dan pada musim hujan akan menjadi licin serta berlumpur karena memang belum diaspal.

Tambora Bercerita (#3) Puncak!

Tepat pukul 9 lebih 15 menit kaki yang sudah sempoyongan ini berhasil menjejak di titik 2.851 mdpl. Finally I made it! Setelah perjuangan dan penantian yang panjang, puncak Tambora dapat kuraih. Dari puncak, keseluruhan kawah dapat terlihat dengan jelas. Kawah inilah yang membuat Gunung Tambora terkenal sampai ke mancanegara. Pada April 1815, gunung setinggi 4.300 mdpl memuntahkan kandungan magmanya dan meninggalkan kawah terluas di Indonesia dengan diameter hampir 6 km.
 
Kawah Gunung Tambora.
Memandang keagungan Kawah Tambora memang membuat merinding. Di satu sisi keindahan alam yang tiada duanya dan di sisi lain, gunung  inilah penyebab kematian lebih dari 71.000 jiwa dan setahun tanpa musim panas di Eropa dan Amerika Utara. Letusan gunung ini juga menyebabkan hilangnya satu kerajaan di Bumi Sumbawa, karena itulah disebut Tambora yang berarti hilang.

Tambora Bercerita (#2) Desa Pancasila

Kaget! Itu adalah ekspresi pertama saya ketika dibangunkan di tengah gelap malam pada bis yang sedang berjalan. Bingung adalah ekspresi kedua ketika ditanya berulang-ulang hendak turun di mana oleh kernet, supir, dan para penumpang yang lain, tidak ketinggalan teman seperjalanan. Setelah beberapa saat akhirnya sel-sel otak yang kurang istirahat ini dapat bekerja, “Kadindi, Pak!”

Foto Bertiga Bersama Arman, Porter Kami.
La ini sudah sampai Kadindi, Kadindinya di sebelah mana, dek?”, makin bingung jadinya. Pertama karena saya belum pernah ke sini dan kedua dari semua informasi yang dapat kubaca di internet hanya menyebutkan untuk turun di Desa Kadindi, tetapi persisnya di sebelah mana, sayangnya tidak disebutkan. Ditambah lagi pada dini hari begini, semua tampak gelap dan horor di mata saya.

Tambora Bercerita (#1) Menuju Calabai

Jarak antar kursi yang dekat membuat kaki tidak leluasa bergerak. Namun itu masih tidak masalah jikalau tidak ditambah aneka macam barang yang dijejalkan ke dalam bus: kardus yang berisi buah-buahan, beraneka karung dengan isinya yang entah apa, dan tas-tas bawaan para penumpang. Untung saja kompor minyak (ya, kompor minyak di tahun 2014 ini!), ikan, dan karung-karung super besar tidak ikut dijejalkan ke dalam, tapi di atap bus. Kabar baiknya, kalau cepat dan tidak ada masalah, pukul satu malam sudah sampai di Calabai yang berarti 16 jam perjalanan darat!

Bus Tiga Perempat Mataram-Calabai.
Saking banyaknya barang-barang di dalam bus, untuk bisa duduk pun kami harus menaiki kardus dan karung-karung yang terdapat di lorong bus. Entah sebenarnya ini bus penumpang atau bus barang, sudah tidak dapat dibedakan lagi. Sedikitnya pilihan moda transportasi untuk menuju Calabai menjadikan bus ini favorit, atau lebih tepatnya satu-satunya pilihan, bagi warga Sumbawa.

Muria, Gunung Kecil dari Kudus

Jika orang mendengar kata ‘Muria’, mungkin yang terbayang pertama kali di benaknya adalah salah satu nama sunan dari Walisongo, penyebar agama Islam di tanah Jawa. Tapi, taukah kawan kalau Muria adalah nama sebuah gunung kecil di Kudus dan membentang sampai Pati dan Jepara? Sunan tersebut mendapat julukan demikian karena pusat pengajarannya berada di lereng Gunung Muria.

Puncak Argopiloso.
Daerah pantai utara Jawa memang miskin gunung, kebanyakan terletak di daerah tengah. Ketika berkendara di jalur pantura, jangan kaget ketika melewati jalur Kudus-Pati dan melihat sebuah rangkaian pegunungan di tengah bentangan sawah, itulah Gunung Muria. Dengan tinggi 1.602 mdpl, Muria lebih dikenal sebagai tempat pesanggrahan daripada lokasi pendakian.

Suka Duka menjadi Promopacker

Eh, jalan-jalan yuk ke Thailand, ada promo neh dari maskapai A*r*sia. Tapi tahun depan jalannya.”, ajak seorang teman. Di lain kesempatan seorang teman mengajak jalan ke Vietnam dengan tiket promo juga. Backpacking sedang booming akhir-akhir ini pada destinasi Asean yang murah meriah dan semakin digenjot dengan promo-promo dari berbagai maskapai budget. Ada yang menawarkan bayar sekali jalan untuk tiket pulang pergi, free seat, sampai diskon yang gila-gilaan.

On the Plane.
Belakangan ini gaya berpergian dengan mengandalkan tiket promo memang makin marak. Para promopacker makin banyak bermunculan dari kalangan muda, pekerja yang masih lajang, dengan penghasilan kelas menengah. Dengan tiket promo, biaya perjalanan bisa sangat murah dan waktu perjalanan yang dapat di-planning jauh-jauh hari.

Tips Membeli Sepatu di Mayestik

Ingin membeli sepatu berkualitas tapi murah? Baik sepatu untuk keperluan olahraga, kantor, atau bahkan trekking ke gunung. Semua jenis sepatu dari berbagai brand terkenal dapat kita dapati, sebut saja Nike, Addidas, Hi-Tech, atau Karrimor. Memang, tidak semua sepatu yang dijual asli. Ada yang seratus persen bajakan, ada yang fifty-fifty, ada pula yang ori. Semua bisa kita dapatkan di Mayestik, area khusus untuk menjual berbagai jenis sepatu.

Sepasang sepatu Berpasangan.
Mayestik terletak persis di sebelah Taman Puring, Kebayoran Lama. Dengan areal yang tidak lebih besar dari setengah lapangan bola, Mayestik selalu ramai oleh pengunjung. Apalagi di akhir pekan, beuh, penuh sesak di dalam. Biasanya puncak keramain hanya berlangsung saat sore hari. Ohya, rata-rata kios-kios penjual sepatu di sana sudah tutup menjelang magrib, jadi jangan sampai kemalaman kalau hendak ke sana.

Bagaimana Menangani Korban Hipotermia?

Bagi penggemar olahraga outdoor, terutama mounteneering tentu tidak asing dengan kata hipotermia. Kata serapan yang berasal dari bahasa asing Hypothermia ini diartikan sebagai kondisi suhu tubuh yang turun di bawah suhu normal (36.5- 37.5 derajat Celcius). Kondisi ini bisa terjadi karena dua faktor, suhu lingkungan yang turun drastis dan atau kondisi tubuh kita yang menurun sehingga tidak bisa menyesuaikan suhu lingkungan sekitar.
 
Ilustrasi Orang Menggigil Kedinginan di Puncak.

Oleh karena itu, kasus hipotermia tidak hanya dapat terjadi di pegunungan dengan suhu yang ekstrem. Pada kaum manula yang kondisi tubuhnya tentu sudah menurun, dapat juga mengalami hipotermia di atas ranjang. Orang yang terlalu lama berenang di siang hari yang terik, korban kebakaran, atau bayi mudah terkena hipotermia.

Tips Memasak Mie Instan yang Lezat

Oke, kita semua tahu yang namanya mie instan itu tidak baik buat kesehatan karena katanya di dalamnya mengandung bahan karsinogen. Mie instan juga sangat tidak dianjurkan sebagai bekal logistik kegiatan outdoor mengingat ketika sudah di dalam tubuh akan banyak menyerap cairan tubuh yang sangat kita butuhkan. Namun, siapa seh yang dapat menolak kepraktisan dan kenikmatan menyantap mie instan? Jelas aku tidak bisa, hehe..

Semangkuk Mie.
Kalau membahas soal makanan tentu akan kembali ke selera masing-masing. Ada yang suka sedikit pedas, ada yang suka manis, ada pula yang suka sedikit asam. Dan ini pula salah satu keunggulan mie instan: tersedia dalam aneka pilihan rasa yang menggiurkan! Namun, di sini aku tidak ingin membandingkan satu rasa dengan rasa lainnya, tetapi cara mengolahnya untuk mendapatkan hasil yang pas. Sekali lagi, ini soal selera, dan ini seleraku. :)

Tips Ikut Pendakian Massal

Mengikuti pendakian massal (penmas) atau bersama memang memudahkan kita yang tidak mengenal medan atau kurang pengalaman dalam mendaki gunung idaman. Bagi perseorangan yang tidak memiliki relasi atau kenalan namun takut mendaki sendirian, penmas adalah salah satu pilihan yang umum ditempuh. Keuntungan lain yang diperoleh adalah kita mendapat kenalan baru, teman baru, bahkan pacar baru (eh) sambil merencanakan pendakian selanjutnya.

Beriringan.
Beberapa pendaki memperdebatkan pendakian massal, ada yang setuju, tidak sedikit juga yang menentang. Dari yang alasan konyol seperti ‘bukan pendaki sejati’ sampai alasan masuk akal yang berkaitan dengan ekosistem gunung. Setuju atau tidak itu sah-sah saja, tergantung pendapat masing-masing mengingat tujuannya sama, cuma caranya yang berbeda.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...