Toboh Ketek


Toboh Ketek adalah sebuah nagari (atau desa, sebutan untuk pulau jawa) yang berada di Kecamatan Enam Lingkung, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sebuah nagari yang kecil, sesuai namanya ketek yang berati kecil.

Mulai pukul 6 sore, suasana sudah sepi bukan kepalang. Hal ini diperparah dengan tradisi orang minang sebagai bangsa perantau, hampir setengah penduduk merantau ke luar Sumatra Barat. Maka jangan heran jika Rumah Makan Padang bertaburan dimana-mana.

Menjelang malam, keramaian hanya dapat ditemui di warung-warung atau lapau dalam bahasa minang. Para pemuda dan bapak-bapak bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk secangkir kopi. Bercengkrama, nonton tv, bahkan tidur di situ. Biasanya mereka pulang ketika detik-detik pergantian hari.

Rata pekerjaan masyarakat Toboh Ketek sebagai petani, pembuat batu bata (yang katanya sampai diekspor), peternak ikan, dan pemetik kelapa dengan melatih baruak. Sebutan untuk monyet pemanjat kelapa.

Terdapat banyak suku yang hidup bersama, Jambak, Sikumbang, Gucci, Panyalai/Piliang, Koto, dan Tanjung adala beberapa dari suku-suku tersebut. Setiap suku di pimpin oleh seorang Datuak. Yang memastikan hukum adat terlaksana dengan baik. Orang Minang pada umumnya lebih takut terhadap hukum adat daripada hukum pemerintah.

Sebagai contoh, disana terdapat yang namanya sungai larangan. Setiap orang tidak boleh mengambil ikan disitu, kecuali pada bulan Muharram. Sehingga, baru pertama kali dalam seumur hidup, saya melihat selokan dengan banyak ikan sebesar telapak tangan berlarian bebas kesana-kemari. Suatu hal yang perlu kita tiru!

Dengan hukum adat yang kuat, masyarakat dapat hidup harmonis, tentram dan saling menghormati. Konflik langsung diselesaikan oleh para datuak dan ninik mamak dari tiap suku.

Masyarakat Toboh Ketek, seperti halnya masyarakat minang pada umumnya, menganut sistem matrealisme, yang artinya anak dari buah suatu perkawinan akan mengikuti suku dari pihak ibu. Perkawinan sesama suku tidak diperkenankan, sehingga setiap orang harus mencari jodohnya dengan orang dari suku lain.

Di sini, ketika melangsungkan acara pernikahan, pihak perempuan harus mengeluarkan uang jamputan, yakni sejumlah uang yang dimaksudkan untuk mengganti biaya hidup laki-laki pinangannya yang dikeluarkan semenjak ia kecil sampai sekarang. Besarnya pun bervariasi sesuai pekerjaan atau jabatan si laki-laki. Dari 25 juta untuk pegawai PNS biasa sampai senilai mobil Avanza untuk Taruna (calon perwira).

Mempelai laki-laki kemudian tinggal bersama suku dari mempelai wanita. Sang mempelai laki-laki disebut orang samando. Orang samando dapat dianalogikan sebagai seorang tamu. Sehingga harus diperlakukan dengan penuh hormat, setiap tutur kata yang diucapkan harus sopan. Sang ibu dari pihak mempelai laki-laki akan marah besar jika mengetahui anaknya sampai mencuci baju.

Hampir setiap rumah disana mempunyai satu kolam ikan yang lumanyan besar. Dan bentuk rumahnya pun seragam, yaitu seperti huruf L dengan badan rumah yang besar dan ujung L yang kecil. Segala macam buah ada disana, maka tak heran ketika disana, durian, duku, manggis tinggal memetik di belakng rumah.

Satu hal lagi yang cukup menarik untuk dikupas. Setiap suku di satu nagari mempunyai satu langgar/masjid. Maka banyangkan saja jika dalam satu nagari terdapat 5 suku! Dan uniknya lagi, masjid-masjid itu hanya dipakai saat Sholat Idul Fitri dan Idul Adha saja. Untuk sholat jumat ada masjid umum yang dipakai bersama dan hanya dipakai saat sholat jumat saja. Untuk sholat lima waktu, biasanya dilakukan di Pondok Pesantren. Benar-benar suatu pemborosan kalau menurut saya, hehe..
Secara umum masyarakat Toboh Ketek, seperti halnya orang minang, sangat suka menerima tamu. Sebulan disana bersama para taruna dalam acara Latsitardanus XXIX (23 Oktber-28 November 2008) terasa seperti hanya sekelebat saja. Miss u guys. (dm140209)

6 comments:

  1. maap brotha,ane rasa anda kurang paham deh degan istilah uang japuiktan..jangan sama kan kami ama kebo..penilaian dan telaah anda sunguh picik dan melecehkan kami.sebagai anak nagri toboh ketek..wassalam

    ReplyDelete
  2. ohya? informasi itu saya dapatkan dari warga Toboh Ketek sendiri, saya hanya menuliskan apa yang saya dengar. Jikalau saya salah penafsiran, mohon kiranya broda mau menjelaskan ke saya.

    Saat tulisan ini saya upload pun saya meminta warga Toboh Ketek yang saya dengar untuk membacanya terlebih dahulu, dan dia fine-fine aja.

    Tetapi, saya tetap menunggu penjelasan dari Anda. Ditunggu masukannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. “JUAL BELI LAKI-LAKI” DI TOBOH KETEK.. Kalimat yang bagus. jika anda yang tinggal satu bulan saja di suatu daerah ( toboh Ketek) bisa menyimpulkan budaya mereka dalam satu kalimat yang menarik begini, bayangkan jika anda tinggal selama satu tahun,, pasti bisa menyimpulkan banyak hal. saya yang tinggal selama 24 tahun disana aja, tidak bisa memberikan kesimpulan seperti.
      Ada beberapa hal yang perlu anda tinjau ulang lagi, bila perlu anda bisa pergi ke Toboh ketek lagi untuk mencari data yang lebih auntentik!
      1. Mahar dan uang jemputan ( japutan) ada dua hal yang berbeda. mahar, adalah suatu yang wajib dikeluarkan ketika seorang laki2 menikahi seorang perempuan. kami cukup tau tentang itu, walaupun pengetahuan agama kami tidak sehebat anda.
      2. Orang Asing, ketika mereka ingin menuliskan sesuatu yang terkait dengan budaya atau tradisi suatu daerah, melakukan penelitian sampai bertahun-tahun, sehingga mereka benar2 paham akan budaya itu seperti mereka memahami diri sendiri, baru menuliskan dan mempubliksikannya. so, U can do it ?
      3. anda menulis tulisan ini, sepertinya tidak memperhatikan efek negatif pemikiran orang terhadap budaya daerah tersebut. seakan2 anda menulis hanya untuk mencari keuntungan pribadi anda.
      Saran saya, sebaiknya anda belajar lai bagaimana etika menulis, karena beda topik atau tema beda cara penulisannya. jika anda menulis budaya suatu daerah, anda tidak berhak memberi kritik terhadap budaya tersebut.
      Untuk sensasi yang lebih hebat lagi efeknya, saya akan kasih sedikit bocoran untuk anda " Kami juga membakar pondok pesantren yang dikelola oleh ustadz yang bukan orang Padang ( Padang Pariaman ). selamat menulis !!

      Delete
    2. Maaf saya baru membaca komennya, dan terima kasih untuk sarannya. Hal ini akan saya jadikan cambuk buat diri saya di kemudian hari.

      Saya pastikan tulisan saya ini tidak ada maksud komersil, ini hanya share pengalaman saya ketika berada disana.

      Delete
  3. Dhani... bagaimanapun juga tulisanmu menurutku kurang etis. pemilihan kata diperhatikan lagi, mengupas budaya dan adat seuatu daerah adalah sesuatu yang sangat sensitif...
    dan satu hal lagi kata "Aneh" itu relatif, jadi jangan gunakan sebagai opini yah, coz tidak semua orang menganggak budaya "KdL" lah yang paling tidak aneh dan paling wajar bisa diterima dimasyarakat umum (malah buat aku banyak hal yang lebih aneh di KdL)
    pelajari budaya, bukan mengkritiknya, kearifan lokallah yang membentuk akar budaya bangsa ini.

    cheerss.. :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...