Merdunya Alunan Biola di Taman Suropati

Penat, panas, gerah. Itulah yang kurasakan ketika tertarik dalam arus massa di Pasar Tanah Abang. Sebagai pusat grosir terbesar se-Asia Tenggara, tempat ini memang menawarkan harga yang terjangkau kalangan menengah ke bawah, maka tak heran jika ribuan orang memadatinya setiap hari. Apalagi pada hari-hari menjelang lebaran seperti ini, tidur di kosan sepertinya merupakan pilihan yang lebih baik.

Violis muda yang tengah berlatih.

Dalam perjalanan pulang, aku dan Leila, teman seperjuangan dalam memburu baju lebaran di pasar yang penuh sesak itu terpaksa melewati jalur yang berbeda. Sebagai pendatang di kota metropolitan yang berbekal modal nekat dan ingatan samar-samar, alhasil kami nyasar entah kemana. Dan karena harga diri kami masih terlalu tinggi untuk bertanya, maka plang penunjuk jalan dan ‘dugaan samar-samar’ menjadi patokan utama untuk mencari jalan pulang.



Mengejar burung dara.

Namun, berkat itulah kami sampai di suatu tempat yang sangat asri dan tertata dengan baik. Rumput yang dipotong secara rapi dan teratur. Bangku-bangku untuk duduk, tempat sampah di tiap sudut taman, dan daun kering tak tampak ada di halaman, menandakan perawatan yang bagus sekali. Nama tempat itu, Taman Suropati. Terletak di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat dan dengan luas 14.000 meter persegi, Taman Suropati menawarkan sedikit ruang terbuka hijau bagi warga Jakarta.


Sontan saja kami parkir motor dan menuju kerindangan taman. Serasa tak cukup jika menikmati dengan mata, segera kulepas alas kaki agar kulit juga dapat ikut menikmati sejuknya rumput hijau disana. Terlihat di bangku depan ada rombongan musisi saxophone sedang asyik membawakan lagu-lagu nostalgia. Sepasang kekasih yang duduk mesra di dekat air mancur. Dan sepasang suami istri tengah asyik melukis di kaos warna putih untuk kedua anaknya yang sedang asyik bermain bola plastik, tak jauh dari kami.

Dirigen muda yang tengah beraksi.

Terlihat juga, anak kecil sedang berlari-lari kecil hendak menangkap kerumunan burung dara yang banyak dijumpai disana. Seorang gadis cantik mulai memainkan jari lentiknya pada biola yang bersandar di lehernya. Tak lama, nada-nada indah mengalun lembut di bawah siraman matahari sore. Makin menambah indahnya sore itu.

Tiba-tiba, air menyembur ke atas dari air mancur di samping kami. Angin sore meniup sisa-sisa semburan air mancur setinggi tiga meter itu ke samping, dan tanpa ragu-ragu, aku berdiri di tepian kolam, berdiri dengan tangan terbuka untuk menyambutnya. Hembusan air mancur membasahi seluruh tubuhku. Asyik sekali rasanya. 

Dua anak kecil yang tengah asyik bermain bola.
Beberapa musisi-musisi cilik mulai berdatangan. Membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berlatih menggesek biola. Tampak sang pelatih yang antusias dan tetap sabar mengajari calon violis-violis cilik yang sama antusiasnya itu. Mungkin sekali akan muncul violis kenamaan dari Taman ini.

Calon violis kebanggaan Indonesia.

Seniman yang sedang melukis sketsa pasangan paruh baya, sekelompok orang yang sedang berlatih yoga, dan beberapa muda mudi yang tengah asyik bercengkrama di samping sepeda-sepeda mereka menambah nikmatnya suasana sore hari di Burgemeester Bisschopplein, nama tempat ini pada masa VOC berjaya dulu.

Tak terasa adzan magrip pun terdengar, kamipun bergegas untuk membatalkan puasa. Namun, berat sekali rasanya untuk meninggalkan tempat itu, kembali ke kepenatan Jalanan Ibukota. (dm, 220811)


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...