Cara-cara Unik Turun dari Angkot



Siapa seh yang gak pernah naik angkot? Sarana transportasi yang pasti ada di setiap kota besar di Indonesia, mempunyai sebutan berbeda-beda di tiap daerahnya. Ada yang menyebutnya mikrolet, elf (baca: elep), kol (dari merk colt), taksi, bemo, dan lain sebagainya. Nah, kali ini saya ingin mengupas hal kecil dari angkot, cara orang atau ucapan orang yang naik angkot ketika hendak turun, unik-unik loh.


Contoh angkot di Kota Padang. (doc. steppinoff.blogspot.com)

Angkot (kepanjangan dari Angkutan Kota) sendiri saya definisikan sebagai sarana transportasi non travel dan non bus dengan kapasitas 10-15 orang. Di pedesaan istilah ini harusnya menjadi angkudes (angkutan pedesaan) tetapi orang seringkali tetap menyebut angkot untuk gampangnya. Kapasitas angkot sendiri relatif karena di daerah pedesaan bisa saja dipaksakan sampai dua kalinya plus barang bawaan tentunya, fiuh, yang penting keangkut kawan! 

Sebagai orang Kendal saya akan nyeletuk ‘kiri’ ketika hendak turun, ucapan ini juga menurut saya digunakan di hampir semua daerah di Indonesia. Maksudnya tentu saja agar Pak Supir menepikan angkotnya ke sebelah kiri mengingat Indonesia mengadopsi sistem berkendara di sebelah kiri. Orang-orang ini mungkin akan teriak ‘kanan’ kali ya kalau berada di Amrik. Gak yakin juga di sana ada angkot apa gak, hehe..

Bergeser ke daerah Jakarta-Tangerang ada sedikit improvisasi, tanpa ucapan tetapi menggunakan ketukan tangan di langit-langit angkot. Sedikit kaget juga dengan ‘budaya’ ini ketika pertama kalinya melihat. Tampaknya warga sini irit bicara tetapi lebih suka memakai kode ketukan. Bagi saya hal ini `mencerminkan kesan Kota Metropolis yang individualistis dan lo gue lo gue, yah tapi tetap saja unik dan menarik. Hal ini mungkin susah dilakukan di Padang mengingat angkot disana didekor dengan wah dan biasaya langit-langit dilapisi karpet atau kain tebal, hehe…

Meloncat ke Balikpapan jangan gunakan kata ‘kiri’ ketika hendak turun karena Pak Supir gak bakal berhenti, tapi gunakan kata ‘stop’! Ya, harfiah sekali, kalau ingin berhenti ya bilang saja ‘stop’. Berbeda dengan budaya orang Jawa yang penuh kiasan dan halus. Yak, stop depan Bang!


Suasana di Dalam Angkot.

Agak sedikit ke pedalaman Sumatera, tepatnya di daerah Kerinci, Jambi, Anda akan mendengar orang meneriakan kata ‘minggir’ ketika hendak turun. Kalau mau berhenti memang kita harus menepi alias minggir seh, maka orang sini menggunakan kata ‘minggir’ sebagai kode ketika sudah sampai ke tempat tujuan.

Mungkin di daerah lain mempunyai cara atau ucapan yang berbeda yang tentunya unik dan khas daerah masing-masing. Menarik sekali mengamati hal-hal sepele semacam ini ketika travelling, tidak mesti harus upacara Adat yang wah atau perayaan agama yang unik. Kadang hal kecil dan sepele lebih menarik bagi saya. Kalau kata teman: menikmati shock culture itu pengalaman berharga. :) (dm 5/13)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...