Baluran, Secuil Afrika di Pulau Jawa

Tiba-tiba saja puluhan monyet berlarian dari Pondokan menuju hutan seperti hendak tawuran. Meloncat dan berteriak-teriak entah ke siapa. Sang pejantan yang badannya paling besar berlari paling depan diikuti monyet-monyet yang lain. Monyet betina dengan anak di gendongannya pun tak kalah cepat berlari mengekor. Entah apa gerangan yang membuat monyet-monyet ini berlarian, aku cuma bisa berdiri menatap dari Padang Savana Taman Nasional Baluran.

Savana Bekol.
Di ujung lain terlihat rusa-rusa sedang asyik merumput, ada pula yang tengah berteduh di bawah rindangnya pohon. Rusa dengan tanduk yang besar-besar itu tanpak asyik dengan dengan aktivitasnya sendiri, tak mempedulikan kehadiran kami di kejauhan. Di sini juga banyak terdapat berbagai jenis burung termasuk merak, sempat aku melihat beberapa merak yang sedang melintas. Sayangnya aku tidak sempat menyaksikan maskot Baluran, banteng liar, katanya baru pada sore hari mereka muncul.

Rusa yang Asyik Berteduh.
Monyet yang Berlarian ke Hutan.
Dengan luas 25.000 ha Taman Nasional Baluran merupakan padang savana terluas di Pulau Jawa, maka tak heran kalau mendapat julukan Africa van Java. Memang aku belum pernah ke Afrika, tetapi kalau kawan sempat berkunjung kesini tentu akan mengalami sensasi seperti dalam film Lion King yang mengambil setting di Afrika itu. Untungnya Simba dan Scar sedang tidak ada di sini, hehe…

Secara geografis, Baluran terletak di Kecamatan Banyuputih, Situbondo. Dengan lokasi persis di pinggir jalan raya Situbondo-Banyuwangi tentu memudahkan kita untuk berkunjung kesini. Biaya retribusi pun murah sekali, hanya dengan 2.500 rupiah saja kita sudah dapat menikmati seluruh area Taman Nasional. Karena itu, sehabis puas menjelajah Pulau Dewata, saya sempatkan untuk mampir kesini saat perjalanan pulang ke Semarang.

Jalur Menuju Savana Bekol.
Dua Motor Kesayangan.
Tugu di Savana Bekol.
Untuk menuju Savana Bekol, tempat aku menyaksikan monyet-monyet tadi, kita harus berjalan sekitar 12 km dari pintu masuk yang persis di pinggir Jalan Pantura itu. Jalurnya datar dan dapat diakses dengan mobil. Sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan hutan Baluran yang khas.  Di Savana Bekol terdapat pondokan atau homestay yang dapat disewa dengan harga yang terjangkau.

Kita juga dapat menikmati indahnya Pantai Bama, pantai yang terletak tidak begitu jauh dari Savana Bekol. Di Pantai ini juga terdapat 4 homestay yang berbentuk rumah panggung yang dapat disewa. Satu rumah panggung terdiri dari dua kamar kapasitas 4 orang. Untuk makan juga dapat pesan sehingga tidak perlu repot-repot membawa sendiri. Menikmati sore hari di rumah panggung di pinggir pantai tentu nikmat sekali.

Pantai Bama.
Bintang Laut!
Banyak aktivitas yang dapat dilakukan di Baluran. Trekking ke Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi, melakukan safari untuk menyaksikan hewan-hewan di Baluran, melakukan pengamatan burung, atau night trekking dengan dipandu ranger Taman Nasional. Bagi yang suka bermain dengan air bisa berkano, berenang, snorkeling, diving atau sekedar memancing di pantai. Bisa juga seperti yang aku lakukan, hanya duduk berlama-lama menikmati suasana Baluran yang asri. Benar-benar menyegarkan mata.

Bagi yang suka membeli souvenir, jangan lewatkan untuk membeli T-Shirt khas Baluran yang dijual di dekat pintu masuk Taman Nasional. Banyak pilihan T-Shirt dengan desain menarik yang dapat kita pilih. Ada juga berbagai cinderamata seperti pin dan sticker. T-Shirt hitam bergambar hutan mangrove akhirnya menjadi pilhanku untuk kenang-kenangan sehabis mengunjungi Baluran.

Welcome to Baluran.
Perjalanan ke Baluran ini adalah motobiketravelling dari Jakarta setahun yang lalu oleh tiga orang yang dipertemukan dan dipersatukan oleh kegilaan akan jalan-jalan. Sayangnya dua teman aku ini sudah tidak berkomunikasi selama setahun ini gara-gara bertengkar hebat. Semoga ketika membaca tulisan ini Erika dan Lei dapat rukun kembali. I miss you both, girls.  (dm 280713)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...