#kompetisi #mendaki #gunung

Terinsipirasi dari twit @sepatumerah tentang #kompestisi #travelling, saya ingin menuliskan suatu hal yang mirip pada kegiatan mendaki gunung. Saya sendiri mengartikan pendaki gunung adalah orang yang meluangkan waktunya untuk mendaki sebuah gunung dengan tujuan untuk menikmati keindahannya atau untuk memompa andrenalin mengingat kondisi alamnya yang ekstrem sekaligus indah. Bahasa kerennya climber.


Edeilweis Papandayan.
Sebagian pendaki menganggap mendaki gunung sebagai sebuah kompetisi. Merasa levelnya lebih tinggi jika telah mendaki gunung lebih banyak dari pada kompetitornya. Merasa lebih jagoan kalau bisa dan sudah pernah mendaki gunung yang lebih tinggi, lebih ekstrem, atau lebih cepat dari kompetitornya. Merasa lebih benar jika peralatan yang dibawa lebih lengkap, lebih bermerk, dan lebih terkini.


Sebagian merasa sebagai pendaki sejati karena tidak pernah mendaki dalam pendakian massal atau tidak pernah bergabung dengan organisasi tertentu. Atau sebaliknya merasa eksklusif karena berasal dari suatu orgnisasi terntentu. Ada pula yang merasa paling hebat karena tidak terpengaruh suatu film tertentu dan menganggap remeh pendaki yang naik gunung karena hal itu. Di samping itu mengasihi pendaki lain karena hal-hal tersebut adalah suatu bentuk pernyataan kompetisi yang lain.


Mengarungi Danau Gunung Tujuh.
Saya tidak berkata saya bukanlah semua yang saya tuliskan di atas. Saya sendiri masih suka berfoto narsis di gunung, suka upload foto keren di puncak di berbagai social media. Saya cuma berharap saya tidak seperti itu.

Saya sendiri melabeli diri sebagai pendaki gunung. Titik. Bukan sebagai porter karena saya tidak kuat membawa beban yang berat sampai menjulang tinggi. Bukan pula pecinta alam karena saya pun terkadang masih merusak alam dari tissue dan kertas yang saya gunakan, entah pula apa padanan kata pecinta alam dalam Bahasa Inggris. Saya bukan guide karena masih sering nyasar walau untuk gunung yang sudah pernah saya daki. Bukan pemburu karena saya hanya memburu puncak gunung, bukan binatang. Saya bukan pula pujangga karena saya tidak bisa membuat kata-kata puitis tentang pendakian hingga maknanya menjadi bias.

Turun dari Kawah Bulan Sabit.
Jadi mari mendaki gunung dan hilangkan pikiran-pikiran negatif. Tiap orang pasti berawal dari ketidaktahuan ke professional. Tiap orang mempunyai gaya dan selera sendiri-sendiri ketika mendaki. Tiap orang mempunyai tingkat kenyaman sendiri-sendiri dalam melakukan pendakian. Dan tiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendaki gunung yang diikuti kewajiban yang sama untuk menjaganya.

Keep safe, clean, and fun climbing! (dm 020713)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...