Mengunjungi Danau Vulkanik Tertinggi se-Asia Tenggara

Kawan, tahukah kalian kalau danau vulkanik tertinggi se Asia Tenggara berada di Indonesia? Ya, lokasi persisnya berada di Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Dengan ketinggiannya, tak heran danau indah ini dikelilingi pegunungan, tepatnya ada tujuh gunung. Oleh karena itu mendapat nama Danau Gunung Tujuh. Danau ini masih termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat sehingga seringkali menjadi lokasi yang sempurna untuk bersantai sehabis trekking ke Puncak Kerinci.

Sunrise di Danau Gunung Tujuh.
Danau vulkanik yang berada di ketinggian ini memang asyik banget untuk kemping. Air danau yang jernih hingga sampai dasar dan pepohonan yang teduh membuat makin betah berkemah di sana. Saat sore atau pagi hari seringkali tupai-tupai yang usil menghampiri mencari remah-remah roti. Burung pun tak malu-malu berkicau di dekat tenda. Kepiting dan ikan, walau kecil-kecil, menanti untuk dipancing.

Menuju Danau
Patokan yang mudah untuk menuju ke sini yaitu Kersik Tuo, basecamp pendakian Gunung Kerinci. Lokasi masuk danau ini kurang lebih 30 menit dari Kersik Tuo dengan moda angkot. Dengan angkot atau travel Sungai Penuh-Padang kita tetap harus turun di Simpang Empat Kecamatan Gunung Tujuh. Baru dilanjut ojek atau jalan kaki ke pintu masuk Taman Nasional untuk membayar biaya retribusi sebesar 2500 rupiah bagi wisatwan domestik.

Simpang Empat, Kec. Gunung Tujuh.
Dari pintu masuk tadi, yang berupa kantor dan gapura sederhana, kita masih harus berjalan 4 jam. Siapkan stamina yang cukup karena jalurnya menanjak dan panjang. Walau tidak seterjal ke Puncak Kerinci, jalurnya lumayan juga buat mencari keringat. Jangan lupa membawa logistik yang cukup karena tidak ada warung di sana. Tiga puluh menit terakhir perjalanan berupa turunan yang lumayan terjal.

Pada awal perjalanan kita akan disuguhi perladangan penduduk dengan ilalang liar. Setelah melewati bekas pos gardu pandang, vegetasi berupa hutan dengan pohon-pohon yang besar. Pepohonan ini membuat perjalanan 4 jam tidak terasa letih karena kita terhalang dari sengatan matahari langsung. Pada beberapa bagian kita harus menunduk atau menaiki batang pohon yang jatuh melintangi jalan.

Mengayuh Sampan di Ketinggian 1950 mdpl
Bagiku, Danau Gunung Tujuh mempunyai view yang spektakuler. Air yang jernih dengan background puncak gunung di sekitarnya membuat terlena. Di pagi hari, kita bisa melihat pantulan pepohonan di danau. Sementara moment sunset atau sunrise tak kalah indahnya, mengobati hati ini sewaktu gagal melihat matahari terbit di Puncak Kerinci kemarin.

Pantulan Pohon di Air Danau.
Kartu Nama Pak Sahril, Penunggu Danau.
Satu hal yang menarik, di sana tinggal seorang bapak tua yang hidup dari mencari ikan di danau. Pak Sahril namanya. Beliau menawari kami untuk naik sampannya ke tempat berkemah yang nyaman dan tenang. Awalnya aku sedikit curiga, berburuk sangka orang ini bakal mematok harga tinggi atau hendak mencuri. Anggapan yang aku sesali, selain tidak menentukan tarif alias seikhlasnya, beliau juga memberikan sebagian tangkapannya untuk kami dengan cuma-cuma. Hebatnya lagi, dengan tangan yang sudah tidak begitu sempurna, Pak Syahril membagikan kartu namanya. Ya, kartu nama untuk mempromosikan wisata Danau Gunung Tujuh.

Ternyata, susah juga mengayuh sampan. Disamping tidak mempunyai penyeimbang seperti perahu di lautan, kita harus pintar-pintar menyeimbangkan berat bagian depan dan belakang. Karena itu, keril yang berat harus disusun terlebih dahulu agar sampan tidak oleng. Saat mendayung pun harus hati-hati jangan sampai terbalik. Asyik sekali!

Mengayuh Sampan di Danau.
Sampan Pak Syahril.
Bersantai di Pinggir Danau.
Permukaan danau yang nyaris tanpa ombak memudahkan ‘mengarungi’ danau dengan sampan. Sesekali kubiarkan tangan terjulur ke air, merasakan terpaan air danau yang dingin. Nikmat sekali. Sempat Pak Syahril menawari untuk berkunjung ke gubugnya di bagian agak ujung danau, tapi rasa lelah dan lapar mengalahkan tawaran tersebut. Sebenarnya lokasi bertenda yang kami tuju tidak begitu jauh, memutar lewat pinggiran danau pun bisa. Namun, kapan lagi kita bisa naik sampan di danau seindah ini?

Ketika menatap danau untuk terakhir kalinya saat pulang, dalam hati ku berjanji untuk mengunjunginya lagi suatu saat nanti. (dm 07.07.13)

2 comments:

  1. aaaakkkkkk,,,,, Dani aku tambah pengen kesanaaaaaaaa,,,, ini kenapa di posting siiiii,,,, kenapa pula aku baca yaaaakkkkk

    ps: tambah h sendiri ya ;)

    ReplyDelete
  2. Hehehe... rugi lo kalau gak kesana. :p

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...