Trekking ke Puncak Negeri Andalas (2)

Sebagai gunung tertinggi di Sumatra, Kerinci mempunyai bentuk segitiga yang nyaris sempurna seperti layaknya gunung yang kita gambar sewaktu kecil. Trek menuju puncak sangat terjal dan ngetrek kalau anak gunung sering bilang. Karena hal itu pula, rata-rata pendaki menggapai puncak Kerinci cuma dalam sehari perjalanan, berbeda dengan temannya di Pulau Jawa dan Lombok. Akhirnya saya akan menjajal gunung satu ini, puncak yang saya idam-idamkan dari 3 tahun lalu.
 
 Gunung Kerinci dengan view Danau Gunung Tujuh.
Selama pendakian kita akan menemui 3 pos dan 3 shelter. Entah kenapa ada yang disebut pos dan ada yang dinamakan shelter, padahal dari luasnya juga sama saja. Dari pintu rimba ke pos 3 trek masih terbilang landai walau sedikit menanjak. Kenikmatan pendakian baru dirasakan dari pos 3 ke atas. Vegetasi hutan yang rimbun akan menemani kita sepanjang pendakian sampai shelter 3. Dari sini, jalur berganti dengan kerikil dan pasir seperti umumnya gunung berapi.

Pintu Rimba – Shelter 2
Jalur dari pintu rimba ke pos 3 masih terbilang landai walau agak menanjak di beberapa tempat dengan vegetasi masih cukup rapat. Waktu tempuh total dari pintu rimba ke pos 3 yaitu 2 jam. Di tiap pos terdapat bangunan dari beton dengan atap seng. Tdak ada sumber air di pos-pos ini.
Pos Pendakian Gunung Kerinci.
Shelter 1 dari pos 3 dapat ditempuh dalam waktu 2 jam, itupun dengan diselingi istirahat sebentar untuk makan siang. Jalur mulai menanjak dan terjal dengan vegetasi yang makin rapat. Karena kemarin hujan cukup deras, jalur yang saya lalui kala itu penuh dengan lumpur. Di shelter 1 terdapat sumber air walau agak jauh. Di sini dapat menampung 5-8 tenda.

Shelter 1 Pendakian Gunung Kerinci.
Jalur ke sheler 2 makin asoy dengan adanya tanjakan vertikal setinggi kurang lebih 1 meter pada beberapa bagian. Sehingga tangan dan kaki sebaiknya dapat bergerak dengan bebas untuk membantu berjalan. Pohon-pohon tinggi dengan akar yang kokoh sangat membantu kita di sepanjang jalur. Waktu yang dibutuhkan sampai ke shelter 3 yaitu 3.5 jam. Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi jalur sepanjang perjalanan dapat dilihat pada foto-foto berikut.

Jalur Pos Shelter 1 ke Shelter 2.
Jalur Shelter 1 ke Shleter 2.
Untuk bertenda saya dan rekan-rekan memutuskan untuk mendirikannya di shelter 2. Di sini dapat menampung sampai 10 tenda dan terdapat sumber air yang tidak begitu jauh. Sumber air berupa rembesan dari akar-akaran. Alasan lain kenapa mendirikan tenda di shelter 2 adalah kondisi medan yang terlindungi dari angin, berbeda dengan shelter 3 yang terbuka. Sementara shelter 3 yang juga memiliki sumber air adalah lokasi bertenda yang ideal dari segi view karena tidak terhalang vegetasi. Yah, tinggal dipilih mau bertenda dimana, sesuai selera dan kondisi tenda. :)

Shelter 2 – Puncak
Demi berdiri di puncak saat matahari terbit, kami relakan untuk bangun pukul 3 pagi. Setelah packing dan sedikit mengisi perut, pukul setengah 3 pagi kami memulai perjalanan. Sayang, dari 3 anggota tim, 1 orang memutuskan tetap tinggal di tenda karena kondisi yang kurang fit.

Untuk menuju shelter 3 saat itu kami menempuhnya dalam waktu 45 menit. Lumayan cepat mengingat tanpa beban dan setelah beristirahat lama. Jalur menuju shelter 3 inilah trek sesungguhnya dari Gunung Kerinci, asoy tiada tara. Penuh akar-akar yang merintangi dan harus memilih melewati jalur air yang dalam atau melewati pinggirannya yang terjal. Untuk lebih jelasnya mungkin dapat dilihat pada foto-foto di berikut.

Jalur Shelter 2 -Shelter 3.
Jalur Shelter 3 ke Shelter 2.
Dari sheler 3 jalur akan berganti dengan kerikil dan pasir mengingat di sinilah batas vegetasi puncak Andalas. Pasirnya tidak selabil di Semeru, jadi lumayan enak buat dipijak. Jika kawan pernah mendaki Gunung Slamet di Jawa Tengah, jalur Gunung Kerinci mirip sekali dengannya. Tanpa hambatan berarti, pukul 6 kurang 10 menit sampailah kami di puncak. Suhu yang sudah dingin bertambah makin dingin  berkat angin yang bertiup kencang. Entah berapa suhu kala itu, yang jelas di shelter 3 saja sempat 5 derajat ungkap seoarang rekan yang membawa termometer.

Angin dan kabut yang kencang membuat keinginan untuk menikmati sunrise di puncak sirna sudah. Puncak Kerinci berupa pinggiran kawah yang lumayan terjal. Jangan bayangkan lapangan luas untuk upacara di puncak macam di Semeru, tempat datar untuk berpose bagi 10 orang saja tidak ada.

Jalur Menuju Puncak.
Tidak tahan dengan suhu dingin, setengah jam kemudian kami memutuskan untuk turun. Saat mendekati shelter 3, kabut mulai hilang dan di kejauhan di sebelah kiri, DanauGunung Tujuh tampak jelas. Menggoda hati ini untuk merengkuh jernihnya air danau tertinggi se Asia Tenggara itu. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan turun dan pukul 4 sore kami sudah menginjakan kaki di Pintu Rimba kembali.

Untuk menuju Kersik Tuo sebagai desa terakhir sebelum pendakian silahkan baca link berikut. (dm 06.07.13)

4 comments:

  1. bang dhani, mw tanya dong.travel padang - kersik tuo/sungai penuh brp tiketnya? punya no kontaknya ga ? bisa langsung turun di kersik tuo ? trims

    ReplyDelete
  2. mantapp, trims ya bro--informatif

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...