Blue Fire dan Pesona Kawah Ijen

“Miaaww…”, terdengar suara tiga anak kucing yang tengah asyik bermain-main di depan warung Pak Im. Walau udara semakin dingin dimana sore akan berganti malam, mereka tampak makin asyik berlarian kesana kemari. Putih, Belang, dan Hutan adalah tiga anak kucing liar kesayangan Pak Im. Kecerian mereka bermain petang itu aku rasakan seperti sebuah tarian penyambutan bagiku di Kawah Ijen.

Pesona Kawah Ijen.
Blue Fire
Sejak tahun 2009, tutur Pak Taufiq yang berprofesi sebagai pemandu lokal, Kawah Ijen mulai terkenal ke seluruh dunia akan pesona api birunya. Turis-turis asing berdatangan kesini cuma hendak menyaksikan blue fire yang berada di Kabupaten Banyuwangi ini. Kawasan Cagar Alam ini sebenarnya sudah dua tahun ditutup karena berstatus awas sehingga tidak ada aktivitas penjualan tiket masuk. Meski begitu, jumlah kunjungan ke sini semakin ramai saja dari tahun ke tahun.

Blue Fire (doc. Ferdik).
Salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah kunjungan mungkin disebabkan gencarnya promosi pemerintah Banyuwangi akan potensi wisatanya. Hal ini juga ditunjang kemudahan akses menuju Kawah Ijen. Menurut pengakuan teman seperjalanan, empat tahun lalu akses ke sini terbilang susah. Kondisi jalannya jelek dan penuh dengan batu-batuan terjal. Karena itu, kala itu hanya dia turis lokal yang berkunjung, sisanya turis manca.

Blue fire hanya dapat disaksikan saat tidak ada cahaya matahari. Perjalanan dari pintu masuk ke kawah membutuhkan waktu sekitar dua jam ditambah 30 menit untuk turun ke kawah tempat lokasi blue fire. Jalan menuju ke kawah sudah diperlebar walau masih lumayan menanjak, karena itu siapkan stamina yang prima sebelum berjalan. Sementara dari pinggir kawah ke dasar jalan cukup terjal dan hanya cukup untuk satu orang. Jika ingin sekalian menikmati sunrise, sebaiknya berangkat pukul 2-3 pagi. Perhitungan ini untuk lama perjalanan dan menikmati nuansa blue fire yang magis sambil menunggu matahari terbit.

Penambang Belerang 1.
Blue fire yang menjadi incaran banyak fotografer luar negeri ini berlokasi di dasar kawah, persis di lokasi penambangan belerang. Dari situ keluar api biru besar yang menyala-nyala di tengah asap belerang. Nuansa magis yang diciptakan api biru ini mengingatkan aku tentang Bubuk Flo yang digunakan Harry Potter untuk berpergian. Ohya, karena asap belerang yang pekat, pastikan membawa masker atau sapu tangan yang dibasahi untuk membantu bernafas selama di sana. Konon katanya di dunia cuma ada dua blue fire, satunya berada di Islandia. Tetapi setelah googling sana-sini dengan bermacam-macam keyword, kesimpulan saya blue fire Kawah Ijen adalah satu-satunya di dunia.

Kisah Para Penambang Belerang
Di samping blue fire, Kawah Ijen sendiri memang memiliki panorama yang indah. Pesona kawah dengan latar belakang gunung Merapi layak untuk diacungin jempol. Kita dapat menyaksikan kawah yang luas membentang dengan air berwarna hijau toska. Perjalanan dua jam yang melelahkan akan terasa impas ketika sampai di kawah. Jika ingin mendapatkan pemandangan yang lebih menarik, kita dapat berjalan menyusuri pinggiran kawah. Tetapi perhatikan langkah Anda karena jalan yang lumayan curam.

Air Kawah yang Hijau Toska.
Sisi lain Kawah Ijen yang terkenal adalah kondisi penambangan belerang yang ada di sana. Belerang Kawah Ijen dianggap salah satu belerang dengan kandungan sulfur terbaik di dunia, tetapi ironisnya dihargai sangat rendah. Dari tangan penambang ke tengkulak cuma 700 perak per kilo. Sementara penambang tiap harinya “hanya mampu” memanggul belerang seberat 50-80kg melewati medan yang berat. Ada beberapa penambang yang dapat melakukan 2-3 kali penambangan dalam sehari, tetapi itu pun jarang. Kebanyakan mereka tidak melakukan penambangan setiap hari karena memang jenis pekerjaan ini sangat berat.

Karena setiap hari terpapar gas belerang, yang patut menjadi keprihatinan kita bersama, tingkat rata-rata usia para penamang cuma berkisar 45 tahun. Sungguh miris. “Yah kalau ada sawah yang bisa saya garap, gak bakalan saya nambang, mas.”, aku seorang penambang yang sempat saya ajak makan makanan ringan bersama. Tuntutan hiduplah yang memaksa mereka melakoni pekerjaan ini. Keseluruhan, terdapat kurang lebih 400 penambang belerang di Kawah Ijen.

Penambang Belerang 3.
Keranjang Belerang.
Walau sebenarnya tidak begitu suka membeli souveinir kecuali kaos, saya sempatkan membeli patung kura-kura yang dicetak dari belerang bermutu tinggi. Aku membelinya dari penambang yang kebetulan sedang istirahat, alih-alih dari pedagang souvenir yang banyak di sana. Memang niatan membeli tadi lebih ke rasa ingin membantu ketimbang mencari oleh-oleh.

Setelah puas menikmati keindahan Kawah Ijen, kembali aku mengunjungi Warung Pak Im untuk sekedar bersapa dan memesan semangkuk mie kuah pakai telur. Putih yang paling aktif di antara mereka, berlari menubruk si Hutan, mengajak bermain di siang itu. Sementara si Belang tengah asyik tidur siang. Terdengar orang lokal yang sedang asyik bercengkrama dalam Bahasa Osing yang susah kupahami. Dan sekarang saatnya pulang setelah menuntaskan Diamond Triangle di Kabupaten Banyuwangi yang luar biasa ini. (dm 040813)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...