Trip Paling Mengenaskan

Pernahkah kawan mengalami sebuah trip yang penuh dengan kejadian yang tidak mengenakan alias apes? Maksudku kesialan yang terus-menerus terjadi sehingga seperti hendak membatalkan perjalanan kita. Kalau ya, berarti kita senasib. Kalaupun tidak, silahkan simak cerita berikut, kisah perjuangan untuk menuju Ciwidey, Bandung.

Kawah Putih.
“Lei, ke Bandung modal patungan 50 ribu naik motor cukup ga?”
“Cukup!”
“Sabtu-minggu ini ke Bandung yuk!”
Ayukkk!!!!”

Berawal dari percakapan spontan lewat sms di tengah kejenuhan kerja, dimulailah perjalanan kami ke Bandung. Perjalanan yang harus ditempuh dengan banyak sekali aral yang melintang.

Masalah produksi yang tiba-tiba terjadi memaksaku untuk lembur, membuat rencana molor 2 jam. Padahal sejatinya jam 3 sore seharusnya aku sudah harus sampai Cibubur untuk bertemu dengan  Lei si Setan Kopi. Gapapalah molor dikit, yang penting tetap bisa jalan-jalan, sudah suntuk dengan segala urusan kerjaan! [derita #1]

Begitu terbebas dari urusan kerjaan, langsung tancap ke kosan dan kabur ke Cibubur naik P117. Setelah duduk nyaman di bus, baru teringat kalau harus mengambil Sony Alphanya Beta. Tak lengkap kalau tak ada kamera, mana sudah mendapat izin dari empunya kamera, jarang-jarang pula Beta mau minjemin. Terpaksa ku turun lagi walau sudah membayar ongkos bus. [derita #2]

Setelah kamera di tangan, kembali ku menunggu bus arah Cibubur. Tak berapa lama datanglah dua pria bertampang preman yang menuduhku sebagai orang yang telah menusuk temannya. Perdebatan pun dimulai. Akhirnya dibawanya aku ke Bang Benny yang berjarak 10 m dari kami saat itu. Bang Benny mempunyai tampang paling sangar diantara mereka bertiga, dengan gigi yang sudah pada rontok. Bang Benny pun tidak percaya dan hendak menggeledah isi tas dan sakuku untuk mencari pisau. Karena aku merasa tidak bersalah, ku persilahkan dia melakukan itu (bodohnya akuuu!!!!).

Saat Bang Benny menggeledah, dua orang yang lain mengajakku ngobrol dengan ramah. Dari sini aku mulai curiga. Proses penggeledahan berlangsung cepat, mulai dari isi tas, dompet, sampai saku celana. Setelah digelah, barang-barang itu hendak dimasukan ke dalam tas oleh Bang Benny. Nah, saat itulah ada seorang pria yang datang menghampiri kami. Tanpa dinyana-nyana, ketiga preman brengsek itu kabur dengan cepatnya. Barulah aku sadar modus mereka. Nokia 5130 dan uang di dompet RAIB! F*ck binti Dj*anc*k! [derita #3]

Kebingunngan melanda, mana uang di saku tinggal 10 ribu rupiah. Haruskah tetap ke Cibubur dan berangkat ke Bandung. Kalau ke Cibubur jelas uang tidak mencukupi. Batal ke Bandung, sudah terlanjur janji. Akhirnya kuputuskan tetap ke Cibubur tetapi dengan Bluemerry, Vega R biru yang selalu setia menemani. Kukeluarkan kocek 3000 rupiah untuk angkot ke kos.

Sebelum berangkat kusempatkan balik ke kantor lagi untuk meminjam handphone ke teman yang shift kedua guna mengabari Lei perihal kejadian yang baru kualami. Sesampai di kantor tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya hingga membuatku mengurungkan niat untuk menyusur jalanan dengan motor. Kami pun memutuskan untuk naik kereta ekonomi ke Bandung. Uang tujuh ribu cukuplah buat ongkos ke Stasiun Senen dari Serpong. [derita #4]

Tanpa babibu, walau hujan teramat deras, kuayuhkan kaki ke Kebon Nanas untuk mengejar bus P100 arah Senen. Sesampai di Kebon Nanas langsung saja ku naik bus P100 yang sedang ngetem, waktu menunjukkan pukul 18.00. Masih banyak waktu pikirku, kereta berangkat pukul 21.00. Hingga sejam menunggu bus P100 bulukan ini masih saja ngetem di Kebon Nanas. Habis sudah kesabaranku, kuputuskan turun dan naik P77 atau P100 lainnya. Hujan masih belum berhenti, uang tinggal lima ribu. [derita #5]

Situ Patenggang 1 (doc. Lailia).
Saat ku turun, bus bulukan itu dengan enaknya berjalan keluar dari Kebon Nanas. Harga diri memaksaku untuk tidak naik bus itu lagi. Sial. Tak berapa lama menunggu, lewatlah bus berikutnya. Bersyukur sekali akhirnya bisa menuju Senen, semoga tidak telat.

Saat di tengah jalan tol, tiba-tiba saja bus yang aku tumpangi mogok. Parahnya lagi, setelah menepi ke pinggir, dari kap mobil keluar asap pekat yang membuat penumpang panik dan berhamburan keluar. Shit! Sepertinya perjalanan kali ini tidak direstui oleh yang Maha Kuasa. Uang tinggal dua ribu rupiah dan jika harus naik bus lagi tentu tidak cukup, kurang seribu! Panik melanda. [derita #6]

Tak berapa lama datang bus P100 yang lain, kami pun dioper ke bus tersebut dengan syarat tetap membayar ongkos normal. Sial! Kunekatkan tetap naik dan menggunakan trik lama agar tidak bayar di bus: Pura-pura tidur seperti penumpang yang sudah bayar. It’s worked! Akhirnya sampai juga aku di Senen.

Sampai di stasiun, waktu menunjukan pukul 21.00, langsung saja lari ke pintu masuk untuk menemui si Lei. Parahnya Lei tidak ada di tempat ketemuan yang sudah disepakati. Ternyata dia berkeliling mencariku sehingga kami saling mencari. Ketika sudah bertemu, langsung kami lari ke peron pemberangkatan dan ternyata kereta sudah berangkat, berjalan di depan mata kami seperti kisah-kisah di FTV. Arrrggghhh… [derita #7]

Situ Patenggang 2.
Di tengah segala kejadian sore itu, kami masih sempat-sempatnya menertawai kesialan ini. Setelah berdikusi diputuskan tetap ke Bandung dengan moda bus. Dari rencana semula naik motor, berganti kereta, dan sekarang bus. Semoga tidak gagal lagi. Meluncurlah kami ke Kampung Rambutan dengan bus Transjakarta dari Pasar Senen. Setelah bertemu Lei, akhirnya kesialan bertubi-tubi yang kualami menghilang. Kami dapat sampai Bandung dengan selamat dan finally dapat menikmati akhir pekan di Bandung, tepatnya di Ciwidey. Dibayarin, eh ngutang, tentunya, hehe… (dm 260713)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...