Melewati Malam di Little Tokyo

Dari kecil aku suka sekali membaca manga dan menonton serial dorama di tv swasta. Dari situ gambaran Kota Tokyo terpatri kuat di ingatan. Papan iklan bertuliskan huruf hiragana atau katakana, bahkan tak jarang kanji. Tempat makan dan pub yang berjajar sepanjang gang meramaikan suasana malam. Bagi yang belum pernah ke Tokyo, kita pun dapat menikmati secuil nuansa tersebut di sini, Indonesia. Tidak percaya? Datang saja ke Jaksel, tepatnya di Blok M atau dikenal juga dengan julukan Little Tokyo.

Ruffy dan Shank Berpose Bersama.
Pada dasarnya, Blok M adalah kawasan perniagaan dan juga terminal bus dalam kota. Di areal yang kecil ini, mall dan terminal terpadu secara apik. Sewaktu pertama kesini, sempat saya terkaget-kaget ketika mengetahui fakta bahwa di bawah terminal bus terdapat sebuah mall. Sebuah hal yang baru bagi saya kala itu, bagaimana sampai bisa terbesit ide untuk membangun mall di bawah terminal?

Di samping itu, ketika hari sudah berganti malam, kita dapat memuaskan nafsu kuliner masakan Jawa yang gurih dan manis. Silahkan datang ke emperan Mall Blok M, tepatnya di Pintu Berlian, di situ banyak berjejer warung lesehan yang menyajikan gudek lengkap dengan krecek serta menu khas Jawa lainnya. Harganya pun ramah di kantong. Karena hal inilah, emperan Blok M menjadi semacam basecamp bagiku dan teman-teman untuk bertemu. Ngobrol ngalur-ngidul sambil membahas trip perjalanan selanjutnya sampai dini hari, asyik sekali. :D

Makan di Lesehan Blok M.
Festival Kebudayaan Jepang.
Kembali ke cerita Little Tokyo. Menariknya, berkat suasana gang-gang pertokoan yang mirip dengan ibukota negara matahari terbit tersebut, di sini sering diadakan festival kebudayaan Jepang. Beruntung aku berkesempatan mengikuti salah satunya.

Di festival tersebut, fantasi kita akan kehidupan dan kebudayaan akan Jepang dapat sedikit terobati. Bagi yang suka manga dan anime, banyak dijual figure action tokoh idaman. Acara cost play dan pertunjukan band J-Pop maupun J-Rock pun tak ketinggalan. Untuk penggemar kuliner, banyak pilihan menu khas Jepang yang dapat kita nikmati. Sebut saja dorayaki, takoyaki, mocha, dan tentunya ramen.

Penjaja Takoyaki.
Matsuri.
Persis di emperan Blok M, berdiri sebuah panggung yang di dalamnya terdapat sebuah genderang yang lumayan besar atau bedug menurut istilah kita. Nantinya genderang tersebut akan diarak keliling ‘kota’ sambil ditabuh dengan penuh semangat sesuai rangkaian acara matsuri.

Matsuri menurut ajaran agama Shinto berarti upacara persembahan dari kami. Tetapi seiring waktu festival ini juga diadakan oleh penganut Budha dan, bahkan, diadakan tanpa ada hubungan dengan agama sekalipun.

Ada juga stan yang memperkenalkan sumo yakni olahraga nomer satu di negeri asal samurai tersebut. Stan lain menjual pernak-pernik yang khas dengan harga bervariasi. Sayangnya, setelah memutari semua stan, ternyata tidak ada stan yang mengenalkan sejarah Jepang di jaman keshogunan. Padahal sudah gatal lidah ini ingin berdikusi dengan warga Jepang tentang betapa hebatnya Musashi sang ronin legendaris, Oda si Bodoh Besar, Togugawa yang penyabar, atau si Monyet Hideyoshi.

Untuk menikmati malam itu, tak lupa aku mampir di stan penjual mie ramen. Setelah memilih menu yang tanpa daging babi, aku memesan semangkuk. Ternyata, rasanya berbeda sekali seperti yang kubayangkan selama ini. Keras dan tajam. Tidak cocok dengan lidah Jawaku ini. 

Suasana Blok M.
Mie Ramen.
Meski begitu, kupaksakan menyantap sampai habis. Dalam hati kuberucap, menu seperti inilah yang disantap oleh penulis favoritku, Eiji Yoshikawa hingga bisa menghasilkan mahakarya yang tidak bosan kubaca berkali-kali. (dm 250813)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...