Mengecup Maut di Merbabu

Pendakian gunung kali ini memang kulakukan spontan saja. Di kala ada dua hari kosong saat di Semarang, tiba-tiba ingin melepas kangen ke Gunung Merbabu. Terakhir ke sini saat aku masih semester satu di bangku kuliah. Sudah lama sekali. Berbekal peralatan kemping yang selalu siap tersedia dan seorang teman yang bersedia menemani, jadilah kaki kembali menapakan kaki di gunung 3.145 mdpl ini. Dan pendakian inilah pertama kalinya aku hampir mengecap maut.

Jalur Pendakian Merbabu.
Karena jarak yang dekat dari Semarang, kami berdua memutuskan untuk menggunakan sepeda motor. Adapun rute yang kami pilih yakni Selo, mengingat jarak tempuh yang lebih pendek ketimbang rute yang lain. Selo yang berada di Boyolali dapat ditempuh sekitar 3 jam dari Semarang. Logistik pun dapat kita dapatkan di Pasar Cepogo atau Selo. Kalau ingin membawa logistik ayam utuh yang siap bakar atau goreng, mampir ke Cepogo. Dijamin pendakian makin terasa nikmat, hehe…

Selo adalah sebuah desa yang terletak persis di tengah-tengah Gunung Merbabu dan Merapi. Ke kiri Merapi, ke kanan Merbabu. Setelah mengurus perizinan di basecamp yang tidak jauh dari jalan raya dan re-packing, maka saatnya menyiksa kedua kaki dengan rute Selo yang terkenal curam itu.
 
Trek Merbabu.
Hanya berdua dan hanya sedikit membawa barang bawaan membuat kami berjalan santai tetapi cepat. Pos demi pos kami lewati dengan enaknya. Kalau di Merbabu banyak tersedia sumber air, mungkin kami bakal berjalan lebih cepat karena berat bawaan bisa berkurang hampir separuh. Tak terasa juga sampailah kami ke Pos 3 Batu Tulis. Dari sinilah tanjakan sebenarnya dimulai. Dari sinilah kita perlu ekstra hati-hati.

Dengan kemiringan antara 45-70 derajat membuat tangan harus ikut andil. Andrenalin pun makin terpacu pada beberapa bagian yang rawan longsor. Di jalur inilah aku hampir menemui ajal. Jadi ceritanya ketika sudah mulai jenuh melewati jalur yang menanjak terus, tiba-tiba terlihat di sebelah kanan terdapat jalur yang lumayan landai. Bekas jalan dan bentuk jalan yang jelas benar-benar menggoda imanku.
 
Pos 4 Sabana 1.
Edelweis Merbabu.
Awalnya seh enak, landai dengan ilalang di kanan kiri sepanjang jalur. Tetapi setelah berjalan kurang lebih 50 meter, tiba-tiba jalur berubah menanjak drastis hampir tegak lurus. Jika pada jalur yang seharunya banyak terdapat batuan dan pepohonan yang bisa kita jadikan pegangan, di sini tidak ada. Hanya ilalang kering. Malas putar arah, terus saja kudaki ke atas.

Pada saat itulah tiba-tiba kaki terpeleset. Jantung serasa mau copot, langsung terpikir bakal terjungkal ke bawah!

Untungnya tangan kanan masih memegang ilalang kering. Hanya pada ilalang kering itulah saat itu nyawa ini tertambat. Langsung saja tangan kiri menggapai apapun yang ada di sekitar dan kedua kaki mencari-cari yang bisa dipijak. Kejadian tersebut memang hanya berlangsung selama tidak lebih dari 5 detik, tetapi rasanya seperti berjam-jam. Setelah merasa aman, kuputuskan untuk istirahat cukup lama. Bukan mengistirahatkan kaki, tetapi lebih mengistirahatkan jantung, hehe…
 
Gunung Merapi dari Merbabu.
Gunung Sumbing dari Merbabu.
Cukup lama aku beristirahat hingga teman yang jauh di depan berteriak-teriak mencari diriku. Bisa kutangkap suaranya di sebelah kiri, di jalur yang semestinya. Kurang lebih pukul 5 sore kami sampai di Savana 1. Sebenarnya tujuan kami bertenda malam ini yakni di Savana 2. Tetapi karena kejadiaan yang barusan kualami, kuajak kawanku untuk camp di sini saja.

Kebetulan, hanya kami berdua pendaki yang bertenda di Savana 1 sehingga banyak pilihan tempat yang tersedia. Setelah tenda berdiri dan semua beres, saatnya santap malam. Menu kami malam itu cukup istimewa: Ayam bakar utuh seorang satu, oseng sayuran, dan krupuk serta secangkir kopi panas. Nikmat sekali. Kejadian tadi sore  membuatku makin bersyukur masih dapat menikmati hidangan selezat ini.
 
Sunrise dari Merbabu.
Keesokan harinya kuteruskan mencapai puncak. Cuaca yang bersahabat tanpa kabut menyambut kedatanganku di puncak. Matahari pun tanpak malu-malu keluar pagi itu. Terima kasih Tuhan aku masih dapat menghirup udara pagi lagi. Pesan berharga yang kuperoleh pada pendakian kali ini yakni: Ikuti jalur yang sudah ada, tak selamanya yang landai itu enak. Keep safe, clean, and fun climbing. (dm 040913)

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...