Menyusur Kuala ke Air Jatuh

Hampir empat bulan hanya bergumul dengan laporan, laporan, dan laporan selama tujuh hari seminggu membuat kepala lama-lama terasa panas juga. Karena itu, walau badan sedang tidak fit, kupaksakan mengiyakan ajakan teman untuk berburu air jatuh, sebutan Warga Luwuk untuk air terjun. Lokasi air jatuh yang dimaksud ternyata tidak begitu jauh dari kantor, pintu masuknya cuma sepuluh menit dengan kendaraan bermotor. Dekat!

Air Jatuh.
Ternyata, warga sekitar pun jarang yang mengetahui adanya air jatuh ini. Warga yang tahu pun hanya menyebutnya dengan air jatuh, tanpa nama. Info ke sana kami dapat dari warga lokal yang kebetulan waktu kecil pernah kesana. Secara wilayah, air jatuh ini masuk ke Desa Lamo, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Singkat cerita, pulang kerja lebih awal dari biasanya, hanya berdua dengan teman yang juga buta arah, kami menuju ke sana.

Menyusur Kuala
Pintu masuk atau start poin memang cuma sepuluh menit dari kantor, namun asyiknya perjalanan ini dimulai setelah itu. Untuk menuju ke sana kita harus menyusur kuala, nama untuk sungai dalam bahasa setempat. Kuala yang juga sekaligus menjadi jalan merupakan akses satu-satunya untuk menuju ke air jatuh.
 
Pengendara Sepeda Motor di Kuala.
Kuala Menuju Air Jatuh.
Kuala ini dialiri air yang jernih namun dangkal. Bebatuan dari sebesar kepalan tangan sampai sebesar ban mobil menghiasi sepanjang kuala, tanpa adanya lumpur. Mungkin karena faktor inilah kuala ini dijadikan akses lalu-lalang warga sekitar untuk mengambil hasil kebun yang ada di dekat air jatuh. Motor sampai mobil 4wd melintasinya setiap hari.

Asyik sekali sore-sore berjalan menyusur kuala. Udara yang segar, kadang terlihat burung-burung berbulu cerah, kadang elang, kadang biawak, dan semoga tidak ketemu babi hutan. Untuk sejenak, perjalanan ini bisa sedikit melepaskan penat di kepala. Sekitar setengah jam setelah asyik berjalan, datang mobil 4wd dari arah belakang. Pengemudi yang ramah menawari kami untuk naik ke bak di belakang bersama kedua anaknya. Rupanya mereka hendak mengambil kayu yang terletak dekat air jatuh tujuan kami.
 
Di Atas Bak Mobil 4wd.
Kuala dari Atas Bak Mobil 4wd.
Keren sekali rupanya warga lokal di sini. Untuk mengankut kayu saya mereka memakai mobil 4wd, bandingkan dengan di Jawa yang memakai truk atau mobil pick up yang sudah uzur, hehe.. Mobil 4wd yang keren itupun dimodif dengan ditambahi bangku dari kayu di bak belakngnya. Asyik sekali bisa sedikit merasakan off road menyusur kuala.

Air jatuh, Surga Kecil yang Tentram
Kurang lebih 15 menit menumpang truk 4wd, terdapat pohon rubuh di depan. Terpaksa harus dipangkas terlebih dahulu dan mengingat waktu yang semakin sore, kami putuskan untuk meneruskan dengan berjalan kaki. “Sudah dekat”, celetuk anak pengemudi yang baik hati tersebut.
Melihat jarum jam yang terus bergerak, makin mendekati angka 5, sempat beberapa kali kami memutuskan untuk kembali. Sampai pada akhirnya, “Habis belokan itu kita kembali ya, itu yang terakhir. Penasaran aku.” Ungkap temanku di depan yang langsung kuiyakan karena dalam hati pun terbesit rasa penasaran dan kuatir harus berjalan dalam gelap saat malam.

Untung saja kami menempuh belokan terakhir tersebut. Di ujung belokan bersembunyi air jatuh kecil yang indah sekali. Air jatuh itu terbelah menjadi dua aliran seperti kembar. Di bawahnya berwarna jernih kehijauan, sangat menggoda iman untuk mandi di sana. Kami seperti menemukan surga kecil di pesisir Luwuk yang masih belum terjamah. Indah dan damai.
 
Suasana yang Tentram.
Puas berfoto dan menikmati suasana, langsung kami putar arah mengingat hari yang akan segera berakhir. Perjalanan pulang terasa lebih ringan dan cepat. Mungkin hal ini lantaran kami berjalan searah arus sungai, berlawanan dengan saat berangkat. Perjalanan singkat yang menyenangkan, semoga bisa mengunjunginya lain waktu. (dm 230913)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...