Jalan-jalan ke Banten Lama

Bagi warga ibukota, mengunjungi peninggalan kerajaan Banten ini mungkin dapat menjadi salah satu pilihan untuk melepas penat pada akhir pekan. Terletak di Kota Serang, Banten Lama dapat dicapai dalam waktu 2 jam. Untuk mengunjungi semua peninggalan kerajaan yang pernah berjaya pada abad ke-15 ini pun tidak membutuhkan waktu lama. Berangkat dari Jakarta pagi hari, pada sore harinya kita sudah dapat berada di Jakarta kembali.

Keraton Kaibon di Sore Hari.
Penasaran akan sisa-sisa peninggalan sejarah kerajaan masa lampau tersebut, aku pun menyempatkan diri ke sana. Dengan menggunakan kendaraan roda dua kususuri jalanan Tangerang-Serang di pagi hari. Mengingat tempatnya yang agak berjauhan, mengunjungi Banten Lama akan lebih enak jika menggunakan kendaraan pribadi.

1.       Istana Keraton Kaibon
Sekarang, istana ini hanya berupa reruntuhan di pinggir jalan tempat anak-anak kecil bermain bola. Pohon beringin besar dan sebuah sungai mengalir di sampingnya. Kaibon sendiri diambil dari kata Ke-Ibu-an, yaitu sebagai ibukota pemerintahan Kasultanan Banten. Namun pada tahun 1832, Belanda menghancurkannya saat terjadi pertempuran dengan Kerajaan Banten.

Anak-anak Bermain Bola di Keraton Kaibon.
Bekas Gerbang Keraton Kaibon.
2.       Masjid Agung Banten
Masjid yang memiliki menara di sebelahnya yang menjulang tinggi ini telah menjadi landmark bagi Kota Serang. Lokasi persis masjid ini terletak di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen. Masjid satu ini selalu ramai oleh para penziarah yang mengunjungi makam Sultan-sultan Banten dan keluarganya.

Masjid Agung Banten.
3.       Museum Kepurbakalaan Banten Lama
Sehabis mengunjungi Masjid Agung Banten, kita dapat mampir ke museum satu ini. Terletak sekitar 200 meter dari masjid, museum ini banyak menyimpan benda purbakala peninggalan jaman Kerajaan Banten pada khususnya. Biaya masuk untuk ke museum sangat terjangkau, cukup dengan 2000 rupiah kita sudah dapat menikmati koleksi museum.

Museum Situs Kepubakalaan Banten Lama.
4.       Istana Keraton Surosowan
Persis di depan Museum Kepurbakalaan berdirilah sisa-sisa bangunan yang dulu sangat megah. Kita dapat menyaksikan sisa-sisa kemegahannya dari luasnya pondasi yang sekarang masih tersisa. Istana ini dibangun pada 1552 oleh Kesultanan Banten dan menemui ajalnya pada masa Sultan Ageng Tirtayasa pada 1680.

Bekas Keraton Surosowan.
Bekas Tangga di Keraton Surosowan.
Anak-anak Kecil Mandi di Bekas Keraton Surosowan.
5.       Vihara Avalokitesvara
Vihara satu ini merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia. Suasana yang rindang karena banyaknya pepohonan membuat orang yang beribadah semakin nyaman. Pada sebagian dinding selasarnya terdapat relief cerita hikayat Ular Putih.

Vihara Avalokitesvara.
6.       Benteng Spellwijk
Persis di depan Vihara, terdapat benteng bikinan Bangsa Portugis. Dibangun pada 1585, Benteng Spellwijk pada mulanya digunakan sebagai menara pantau yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda. Namun, sekarang ini lapangan luas di dalam benteng telah beralih fungsi menjadi tempat anak-anak bermain bola di sore hari.

Penyusup Benteng Spellwijk.
Anak-anak Bermain Bola di Benteng Spellwijk.
7.       Masjid Pecinan Tinggi
Terletak kurang lebih setengah kilometer, dikatakan masjid ini merupakan masjid yang pertama kali dibangun oleh Sultan Hasanudin. Masjid ini didirikan di pemukiman cina, oleh karena itu mendapat nama Masjid Pecinan. Sekarang ini, hanya tersisa sebuah menara yang berdiri sendiri setinggi hampir 5 meter. Lokasi masjid ini persis di pinggir jalan.

Masjid Pecinan Tinggi.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya. Oleh karena itu, tentunya akan mengasyikan jika kita dapat jalan-jalan sambil sekaligus mengenal cerita kejayaan salah satu sejarah Bangsa Indonesia, khususnya di Banten. Happy travelling. (informasi yang ada di artikel ini diambil dari Wikipedia dan berbagai sumber) (dm 051013)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...