Bunda Tuti dan Sampah

Saat turun dari Puncak Prau, ada sesosok pendaki tipikal pendaki ibukota berduit: gear serba deuter dengan stick pole di tangan. Jika biasanya pendaki (termasuk yang menulis) ingin turun secepatnya, ibu satu ini malah dengan sabar memunguti sampah-sampah di sepanjang jalur turun. Dari bungkus permen sampai botol air mineral beliau pungut satu-satu. Ternyata, ibu itu adalah sosok yang selama ini hanya kukenal lewat millist dan facebook.
 
Bunda Tuti Saat Memunguti Sampah.
Bermula dari mailing list aku mengenal sosok satu ini. Kala itu hendak mencari barengan buat ke Kerinci, namun sayang pada akhirnya harus batal terlaksana karena waktu yang tidak sejalan. Dari millist berlanjut ke social media facebook. Kebetulan pula ibu satu ini lumayan doyan bergentanyangan di dunia maya, sehingga komunikasi tidak terputus walau tidak sempat naik gunung bareng. Beliau mengaku sebagai Tuti Jail.

Yang ingin aku ulas dari sosok ibu yang bekerja di bidang konstruksi satu ini bukanlah keperkasaannya karena telah menaklukan puluhan gunung. Bukan pula beliau telah mendaki puncak-puncak tertinggi di Indonesia. Satu hal yang membuatku kagum adalah perhatiannya akan sampah.

Jalur Gunung Prau via Dieng.
Sering kubaca di berbagai media sosial banyak pendaki mencaci maki pendaki lain yang meninggalkan sampah sembarangan. Tidak jelas pula makian tersebut sampai ke si pelaku atau tidak, yang penting terlihat gagah karena sudah bawa sampah sendiri dan “berhak” memaki pendaki lain yang tidak.

Namun, apa yang kusaksikan waktu itu adalah sebuah bentuk “protes” yang patut diacungi jempol. Bukan hanya membawa sampahnya sendiri, beliau dengan rela memunguti sampah orang lain. “Kalau gunung itu bersih kan enak dipandang.”, ujar beliau.

Bunda Tuti Saat Turun.
Sampai detik ini, aku memang masih masuk dalam kategori ‘suka mengumpat dalam hati kepada pendaki yang membuang sampah seenak udelnya sendiri di gunung’. Tingkat kesadaranku cuma baru sebatas membawa sampah anorganik yang kuhasilkan turun ke bawah. Minimal, pikirku, diri ini tidak ikut mengotori gunung-gunung tercinta.

Apa yang dilakukan Bunda Tuti sedikit menggugah kesadaranku. Beliau mencintai gunung-gunung dengan ikut membersihkan sampahnya, tidak egois hanya membawa sampahnya sendiri turun sepertiku. Kuakui  untuk saat ini aku memang belum bisa mengikuti jejak beliau, namun semoga dapat memulai di gunung berikutnya.

Bunda Putri and Me (doc. Temennya Bunda)
Sunrise Gunung Prau.
Aku yakin tidak sedikit juga pendaki yang melakukan hal serupa seperti dilakukan Bunda Tuti. Semoga yang sedikit itu dapat menjadi banyak di kemudian hari. Bayangkan jika tiap pendaki membawa turun sampahnya sendiri dan sedikit sampah orang lain. Bayangkan akan betapa bersihnya gunung-gunung kita tercinta. (dm 201013)

4 comments:

  1. Thanks Dhani ... semoga bisa bermaanfaat dan berharap agar semua pendaki tmembawa kembali sampahnya sekecil apapun (bungkus permen atau puntung rokok). Btw aku bukan pengusaha hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap! Marrriiiii!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

      hehehe... udah kuedit ya bun. :p

      Delete
  2. DAn aku bukan bunda putri (hiiiiiii...takut ditangkap )

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi... tenang bun, dan aku juga bukan KPK kok. :p

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...