Mengunjungi Laksamana Cheng Ho di Sam Po Kong

Pada abad ke-15, seorang Laksamana Tiongkok yang memeluk Islam terpaksa membuang sauh di Pantai Utara Jawa karena ada salah satu anak buahnya yang sakit keras. Laksamana yang dikenal dengan nama Cheng Ho ini mendarat di daerah Simongan, dekat dengan Kota Semarang. Tak hanya singgah, beliau juga membangun sebuah masjid dan mengajarkan cara bercocok tanam kepada warga. Bekas petilasan atau tempat persinggahan Laksamana ini sekarang dikenal dengan nama Sam Po Kong.

Teras Bangunan Utama.
Uniknya, walau beragama Islam, Umat Tionghoa yang menganut Kong Hu Cu memuja Cheng Ho sebagai dewa. Memang, bagi mereka, orang  yang sudah meninggal dianggap dapat memberikan pertolongan. Maka tak heran lokasi yang dulunya masjid kini berubah fungsi menjadi kelenteng untuk ziarah dan bersembahyang. Sam Po Kong juga dikenal dengan nama Gedung Batu karena di bagian belakangnya yang merupakan bukit, terdapat sebuah gua batu.

Sekarang ini, Sam Po Kong menjadi lokasi wisata favorit di Kota Semarang. Bentuk bangunan yang oriental dan apik membuat kita dapat merasakan seolah berada di negeri Tiongkok. Patung dewa-dewi yang berwarna-warni, bentuk atap yang khas budaya Tiongkok, altar persembahan, dan bentuk bangunan yang khas dapat kita saksikan di sini.
 
Lentera.
Patung Dewa Dewi.
Tiang Naga.
Pada bagian depan terdapat pelataran luas yang dapat digunakan untuk pertunjukan. Di sebelah ujung satunya terdapat gerbang besar berwarna merah dengan patung Laksamana Cheng Ho yang tinggi menjulang. Kelentengnya sendiri terdiri dari dua bangunan utama sebagai tempat beribadah. Di belakang bangunan terdapat sebuah gua batu yang dikeramatkan oleh warga keturunan China. Uniknya, di sepanjang ‘bukit’ gua batu tadi terdapat relief kisah pengarungan Cheng Ho ke Nusantara.

Tempat Ibadah
Namun perlu diingat bahwasanya Sam Po Kong tetaplah sebuah tempat peribadatan. Sopan santun harus tetap dijaga. Para pengunjung yang ingin melihat-lihat hanya diperkenankan berada di pelataran depan. Bangunan utama dan Gua Gedung Batu yang dipisahkan oleh sebuah pagar dikhususkan hanya bagi yang ingin bersembahyang.
 
Salah Satu Gerbang Sam Po Kong.
Atap yang Oriental.
Laksamana Cheng Ho.
Bagi umat beragama lain pun tetap diperkenankan untuk masuk untuk beribadah. “Ini bukan soal agama, ini hanya kepercayaan.”, demikan ujar papak penjaga pintu yang ramah. Tentu untuk masuk kita harus membayar biaya lebih untuk membeli dupa.

Sam Po Kong mudah sekali dijangkau mengingat berada dekat pusat pemerintahan Kota Semarang. Dapat dituju dari tiga arah, yang paling gampang tentu dari Bandara Ahmad Yani ambil jalan Pamularsih kurang lebih satu kilometer dari bandara. Jika dari Simpang Lima, cari arah RSUP Kariadi untuk terus ke arah bandara via Jalan Pamularsih.
 
Relief Perjalanan Cheng Ho di Gedung Batu.
Sam Po Kong.
Sementara dari arah Mijen jalurnya agak susah karena bukan jalan utama. Ohya, paling asyik mengunjungi Sam Po Kong di kala sore hari. Selain cuaca tidak terlalu panas, nuansa oriental akan makin terasa di kala senja hari.
 
Senja di Sam Po Kong.
Dengan armada terbanyak (27.000 pasukan) Cheng Ho dinobatkan sebagai penjelajah terbesar sepanjang sejarah. Walau begitu beliau merupakan penjelajah yang budiman. Terbukti dengan tiadanya daerah taklukan, alih-alih beliau membangun masjid dan mengajar cocok tanam. Hal ini memang sesuai dengan tujuan ekspedisinya untuk menjalin hubungan bilateral dan meningkatkan kejayaan Tiongkok yang sempat hancur akibat dinasti Mongol. Karena itu, sudah sepatutnya kita dapat mencontoh Cheng Ho sebagai ‘penjelajah’ yang bijak.  (dm 011914)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...