Peleisir ke Ratu Baka

Dalam Bahasa Jawa, ratu artinya raja, sedangkan baka mempunyai arti bangau. Sehingga kata Ratu Baka (dibaca ratu boko) secara leksikal berarti raja bangau. Konon ceritanya Ratu Baka adalah ayah dari Loro Jonggrang, salah satu tokoh sentral dari cerita Candi Prambanan. Benar atau salah, Ratu Baka hanya berjarak 3 km dari candi anaknya, Loro Jonggrang.

Dua Sepatu Lusuh Sehabis Perjalanan.
Penasaran akan pesona Ratu Baka, sehabis dari menjelajah deretan Pantai Gunung Kidul, kami sempatkan untuk mampir sebentar. Jika kawan dari Gunung Kidul, ambil belokan ke kanan di pertigaan pertama setelah melewati jalan yang menanjak. Sehabis jembatan, ketemu jalan lurus datar, ada lampu merah belok kanan. Haha.. ngasih petunjuk arahnya sangat Indonesia ya. :p

Paling enak ya kalau dari arah Prambanan. Di terminal Prambanan cukup ambil jalan ke arah selatan, Komplek Ratu Baka ada di sebelah kiri jalan. Atau jika ingin ambil gampangnya, bisa sekalian ambil tiket terusan di Prambanan yang juga menyediakan sarana transportasi Prambanan – Ratu Baka. Tidak perlu susah-susah mencari moda transportasi.

Jalan Masuk ke Ratu Baka.
Gerbang Ratu Baka.
Candi atau Istana?
Pertama kali datang ke sini, ada sedikit perasaan janggal. Sebagai pelancong yang gemar mengunjungi candi, entah itu Hindu atau Budha, aku tidak menemukan kesan candi pada umumnya. Beberapa artikel dan papan jalan selalu melabeli tempat ini dengan kata ‘candi’ yang merupakan tempat peribadatan.

Keanehan itu seperti adanya gerbang atau gapura di pintu masuk. Selain itu, terdapat juga bangunan seperti benteng. Buat apa tempat ibadah memiliki benteng pertahanan? Kecuali kalau bangunan ini dibuat untuk tempat tinggal raja. Ada juga bangunan seperti panggung, bangunan berbetuk persegi dengan panjang sisi sepuluh meter dan tinggi sekitar satu meter. Dugaanku ini tempat untuk upacara atau pertunjukan.

Salah Satu Penghuni Ratu Baka.
Ibu-ibu Penjual.
Benteng Ratu Baka.
Di bagian belakang “candi” terdapat kolam pemandian. Dari sisa-sisa yang terlihat sekarang, imajinasiku menerawang jauh ke belakang. Pemandian ini tentu sangat megah pada masanya dengan putri-putri raja yang tengah membasuh badan ditemani dayang-dayang abdi dalem. Duh, andai bisa mengintip barang sebentar, eh. :p

Belakangan baru aku tahu ternyata memang Ratu Baka adalah sebuah keraton pada abad ke-8 yang dibangun oleh Wangsa Sailendra. Dan seperti layaknya istana dengan kubu pertahanan, lokasi situs ini berada di perbukitan. Karena itu sebaiknya siapkan stamina ekstra jika ke sini. Mengingat juga lokasi keraton ini lumayan luas.

Pemandian Ratu Baka.
Model Ratu Baka.
Reflection.
Walau suasana cukup terik di siang hari, namun kami tetap asyik menikmati keindahan Ratu Baka. Tak lupa juga mengabadikan kemegahan keranton dalam bingkai kamera. (dm 122613)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...