Asyik Naik Becak di Kotagede

Gerimis sedikit menggoda siang itu ketika bus transjogya berhenti di Halte Tegalgendu. Ikon baru Yogyakarta ini makin mempermudah para wisatawan menjelajah Kota Gudeg. Keluar dari halte kami sedikit kebingungan akan bagaimana menikmati keindahan Kotagede. Memang, rencana ke bekas peninggalan Kerajaan Mataram ini tercetus secara spontan saja. Seperti menjawab kebingungan kami, datanglah tukang becak yang menawarkan jasanya dengan ramah. Menyusur Kotagede dengan becak? Kenapa tidak!

Para Abdi Dalem yang Hendak Pulang.
Memasuki kawasan Heritage Kotagede terdapat sebuah plang selamat datang yang sederhana di pinggir jalan sebelum jembatan. Mulai dari sini suasana Jogya yang sudah terkenal akan keramahtamahan dan ‘adem’nya makin terasa. Rumah-rumah yang berpadu apik dengan jalanan dan kebun. Gang-gang kecil yang menanti untuk ditelusuri. Ada pula peninggalan Panembahan Senopati selaku raja Mataram Islam pertama yang menanti untuk dikunjungi.

Makam Raja-raja dan Masjid Tertua di Jogya
Kurang lebih seratus meter dari Pasar Kotagede kita akan sampai pada komplek makam para raja Mataram Islam. Di dalam komplek tersebut terdapat pula Masjid Kotagede yang merupakan masjid tertua di Jogya. Asri dan adem, begitulah kesan saya ketika pertama kali memasukin gerbang. Bangunan-bangunan kuno yang masih terawat dengan baik menambah kesan yang mendalam.

Tugu Selamat Datang.
Rumah di Dalam Komplek Makam.
Di dalam komplek makam ini terdapat dua sendang, Sendang Putri untuk wanita dan Sendang Kakung untuk laki-laki. Sampai kini sendang ini masih digunakan, tampak bekas sesaji yang masih baru dan dupa yang belum habis mengebul. Unik (atau mungkin ironis) memang, walau bersebelahan dengan sebuah masjid, praktik kejawen tampak kental terlihat di sini.

Komplek ini selalu dijaga oleh para abdi dalem 24 jam sehari. Para abdi ini masih melestarikan tradisi dengan baik, terlihat dari busana adat Jawa yang masih melekat dengan baik. Ramah dan santun menyambut kami yang hanya turis asing penasaran. Sampai di sendang atau tempat tinggal abdi dalem kita masih bebas memakai pakaian sehari-hari. 
 
Bunga.
Abdi Dalem.
Namun untuk memasuki makam para raja yang terletak dari gerbang ketiga, kita diharuskan memakai busana Jawa. Pakaian ini dapat disewa dengan harga 15 ribu (2014). Ohya, jangan lupa di dalam makam tidak boleh mengambil gambar dalam bentuk apapun.

Menyusur Kotagede
Keluar dari komplek makam, akan banyak tempat-tempat menarik yang dapat dikunjungi. Sebut saja Pasar Kotagede yang juga dikenal dengan nama Pasar Legi karena paling aktif pada hari Legi (kalender Jawa). Ada pula reruntuhan benteng yang berukuran 400 x 400 meter yang dulunya merupakan saranan pertahanan Mataram. Kedhaton yang terletak tidak begitu jauh dari makam dan lain sebagainya.

Naik Becak.
Pemandangan Salah Satu Gang (1).
Pemandangan Salah Satu Gang (2).
Tukang Becak.
Pak Paiman, Tukang Becak yang mengantar kami berkeliling Kotagede mengajak mengunjungi Pabrik Cokelat Monggo. Penasaran, kami pun mengiyakan ajakannya. Rupanya, Cokelat Monggo telah menjadi salah satu ikon Kotagede yang mulai terkenal. Lokasi toko/pabriknya sangat sederhana. Gapura kecil dengan parkiran  yang luas menyambut kami. Etalase toko yang ditata apik memajang aneka cokelat dengan berbagai rasa dan ukuran.

Asal mulanya,  seorang ahli pembuat coklat dari Belgia kecewa dengan rasa coklat di Indonesia yang merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Berawal dari ingin mengenalkan rasa coklat yang berkualitas ke teman-temannya berubah menjadi sebuah perusahaan besar dengan 100 staff. Untuk menjaga mutunya, Cokelat Monggo selalu menggunakan premium dark cokelat dengan100% mentega kakao.

Cokelat Monggo.
Narsis di Toko Cokelat Monggo.
Selain itu, berjalan-jalan menyusur gang-gang sempit pun tidak kalah asyiknya. Kita akan menjumpai rumah-rumah budaya Jawa yang masih alami dan digunakan hingga kini. Tak terasa hari kian sore saja. Dengan berat hati kami harus meninggalkan Kotagede untuk menuju ke Semarang. Hmm.. I wil always miss Jogya. (dm 022314)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...