Menghilangkan Pening di Rawa Pening

Jika kawan melintas dari arah Jogya atau Solo menuju Semarang, pastinya pernah melewati sebuah rawa luas yang mencakup beberapa kecamatan. Dengan luas 2.670 ha, Rawa Pening membentang dari Ambarawa, Banyubiru, bahkan sampai Salatiga. Untuk menuju kesini kita tidak perlu bersusah-susah. Ada tiga titik wisata yang dapat dituju, di Tuntang ada Rawa Permai yang ramai, di Banyubiru ada Bukit Cinta yang katanya lebih teduh, dan tempat terakhir yang menjadi tujuan saya: Wisata Apung Kampung Rawa di Ambarawa.

Karamba.
Kampung Rawa sejatinya adalah hasil paguyuban warga Ambarawa untuk menarik wisatawan ke Rawa Pening. Di samping dapat menciptakan lapangan kerja baru, hal ini dapat mempermudah dan memberikan alternatif untuk para wisatawan. Terdapat perkumpulan perahu yang dapat di sewa untuk menjelajah Rawa Pening, kios-kios oleh-oleh, warung-warung jajanan dan makanan, dan restoran apung yang menawarkan aneka menu lokal.

Kisah si Baru Klinting
Hiduplah seoarang gadis desa bernama Endang Sawitri yang hidup di Desa Ngasem. Walau hidup sendiri, gadis ini hamil dan akhirnya memiliki anak. Anehnya, anak yang lahir tidak berwujud manusia seperti ibunya, namun berupa seekor naga yang dapat berbicara layaknya manusia biasa. Naga itulah si Baru Klinting yang menjadi asal muasal kisah Rawa Pening.

Tiket Perahu Wisata.
Bywatch-nya Rawa Pening.
Pengunjung Rawa Pening.
Menginjak dewasa, Baru Klinting akhirnya bisa menemui dan bergabung dengan ayahnya yang ternyata adalah seorang raja. Ki Hajar Salokantara bertapa di sebuah gua di lereng Gunung Telomoyo. Baru Klinting yang seekor naga ikut bertapa dengan ayahnya dengan mengelilingi gunung. Pada suatu ketika, penduduk desa yang sedang berburu di hutan terus mengeluh karena tidak berhasil menemukan seekor hewanpun. Ketika hendak pulang mereka menemukan tubuh naga dan memotong-motongnya untuk dibawa pulang.

Marah akan perlakuan warga desa, Baru Klinting datang ke desa menyamar sebagai seorang anak kecil kumal bak pengemis. Warga desa yang sedang berpesta merasa jijik dan kemudian mengusirnya. Baru Klinting pun menancapkan sebatang lidi dan menantang warga desa untuk bisa mencabutnya. Ajaib, tidak ada yang sanggup mencabut lidi tersebut. Akhirnya, Baru Klinting sendiri yang mencabut dan keluarlah air yang mengubur warga desa yang sombong. Genangan air tersebut kini menjadi Rawa Pening karena airnya yang bening (pening=bening) sekali.

Pemandangan di Rawa Pening.
Nelayan Sedang Menjala Ikan.
Mendayung.
Pesona Rawa Pening
Dahulu, Rawa Pening sempat penuh dengan enceng gondok. Hampir seluruh permukaannya penuh dengan tumbuhan parasit ini. Namun kini, walau masih ada sebagian, tetapi tidak separah dahulu. Sekarang, saat mengarungi Rawa Pening dengan perahu kita dapat menikmati keindahannya dengan leluasa. Bangunan semacam keramba yang dibangun oleh warga sekitar menjadi daya tarik tersendiri. Rupanya, satu bangunan adalah milik satu keluarga. Ada gubuk kecil di atasnya untuk sekedar beristirahat.

Di lain pihak, aktivitas nelayan yang mencari ikan dengan jala menjadi pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Pada sudut lain, bebek-bebek tengah asyik mencari cacing. Di arah selatan, bertengger Gunung Merbabu dan Telomoyo yang menjadi setting cerita Baru Klinting di atas. Air yang jernih, kapal yang mengalur pelan, suasana yang damai. Ah, nikmat apa lagi yang kurang dari nikmat Sang Pencipta?

Bebek yang Sedang Mencari Makan.
Armada Perahu Wisata.
Resto Apung.
Sajian di Resto Apung.
Ohya, untuk menikmati keindahan Rawa Pening paling maksimal sebaiknya saat matahari terbenam atau terbit. Tentu kawan bisa membayangkan suasana senja atau wajar saat matahari berbinar kemerahan menyinari air Rawa Pening yang jernih. Namun, ada satu lagi yang belum kesampaian olehku: yakni berjalan-jalan di atas rel yang melintas di sisi Rawa Pening. Semoga suatu saat bisa kesampaian. Happy travelling. (dm 022514)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...