Solotrip ke Gunung Padang


Jumat, 14 Febuari 2014, Gunung Kelud yang selama ini batuk-batuk kecil mengeluarkan letusannya yang besar. Untungnya, dampak yang dihasilkan tidak sedahsyat Gunung Merapi di Yogyakarta. Namun, cakupan imbas dari letusan Kelud lebih luas dari Merapi. Semua ini berkat abu vulkanik yang mengangkasa sampai ke Banten, di ujung lain dari Pulau Jawa. Gara-gara ini pula akhirnya dengan berat hati aku harus membatalkan trip ke Kiluan bersama teman-teman karena penerbangan dari Semarang ikut ditutup.

Mari Belajar Sejarah.
Pusing harus ke mana, kuputuskan untuk mengunjungi Gunung Padang, lokasi yang sedari dulu ingin kudatangi. Dengan berbekal jaringan paket internet yang sebentar lagi habis, kutemukan titik cerah transportasi ke sana. Lumayan gampang ternyata. Sarana yang kuambil dari Semarang yakni kereta Menoreh ke Jatinegara, disambung angkot-metromini-busway-plus nyasar ke Terminal Rambutan untuk mencari bus menuju Kabupaten Cianjur.

Dari pusat kota Cianjur naik ojek ke Warung Kondang dan lanjut ojek lagi ke Gunung Padang. Namun, tiba-tiba di tengah jalan ban sepeda bocor dan bapak ojek yang merangkap sebagai peramal tersebut mengoper saya ke tukang ojek lain. Ternyata tidak cuma bus saja yang hobi oper penumpang, tukang ojek pun tidak mau ketinggalan, hehe..

Singkat cerita, pukul dua belas siang dengan nafas ngos-ngosan, akhirnya bisa menjejakan kaki di Gunung Padang. Untuk sampai ke situs purbakala tersebut, kita diharuskan naik tangga yang lurus ke atas dan terjal. Belakangan, baru kutahu—dengan sedikit gondok, ternyata sudah ada jalur yang sedkit memutar ke kanan yang lebih manusiawi. Ah.. kenapa tidak lewat situ aja tadi, mana sampai atas pandangan menjadi kabur dan badan lemas pertanda mengalami penurunan kesadaran alias pingsan!

Situs yang konon katanya lebih tua dari Piramida Giza ini memang indah, batu-batuan yang berbentuk hampir serupa ditata sedemikian rupa. Batu-batu berbentuk balok panjang itu mengingatkanku akan kristasl-kristal kryptonite di film Superman. Imajinasiku segera melayang jikalau ternyata Situs Gunung Padang ini sejatinya adalah pesawat ruang angkasa yang dulu terjatuh ke Bumi, hehe..

Mengikuti kisah berita dan hasil penelitian akan situs ini memang menarik. Kita tentu akan berbangga jika benar di Indonesia sudah ada peradaban bahkan sebelum peradapan Mesir. Bisa jadi juga ini adalah salah satu bukti bahwa Atlantis adalah benar di Indonesia, siapa tahu? Pastinya, berada di situs ini dapat mengobati rasa jengkel karena gagal ke Kiluan. Gunung Padang menawarkan keindahannya sendiri. Megah dan indah.

Antrian ke Gunung Padang.
Tangga Menuju Gunung Padang.
Batuan Penyusun Gunung Padang (1).
Batuan Penyusun Gunung Padang (2).
Batuan Penyusun Gunung Padang (3).
Batuan Penyusun Gunung Padang (4).
Batuan Penyusun Gunung Padang (5).
Penjual di Gunung Padang.
Pengelola Gunung Padang.
Tidak terasa, matahari kian condong ke barat, sudah saatnya bagiku untuk pulang ke Jakarta kembali. Dari Warung Kondang, kuputuskan untuk naik angkudes ke pusat kota yang membawa ke pengalaman yang bakal tidak kulupakan seumur hidup. Pengalaman pertama kalinya melakukan CPR secara nyata, di dalam angkutan desa yang sedang berjalan kencang pula. Cerita lengkapnya bisa membaca di sini.

Berjalan-jalan dalam kelompok memang menyenangkan, namun, cobalah sekali-kali berjalan-jalan sendirian. Solotrip. Banyak pengalaman baru yang dapat dipetik. Keep travelling. (dm 051214)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...