Menengok Perkampungan Bajo di Pagimana

Jarum alroji sudah menunjuk ke arah angka sebelas, cuaca cukup terik walau saat di jalan hujan sedikit mengguyur malu-malu. Di kiri jalan terlihat gapura besar ‘Pelabuhan Pagimana’ yang memberitahukan bahwa saya sudah sampai di Kecamatan Pagimana. Tidak ada objek wisata yang menarik di sini, tidak ada pula pusat perbelanjaan atau tempat hiburan. Sebenarnya, hanya rasa penasaran yang membawa langkah kakiku ke sini, lain tidak.

Pemandangan di Pinggir Jalan.
Berawal dari obrolan-obrolan di kantor seputar ‘kota’ di sekitar Luwuk, terucaplah Pagimana. Pagimana sebenarnya hanya sebuah kecamatan yang termasuk dalam Kabupaten Banggai. Dibanding Luwuk yang menjadi ibukota kabupaten, Pagimana masih kalah jauh. Hanya terdapat pelabuhan yang menghubungkan ke Gorontalo, Kepulauan Togean, dan tempat lainnya. Penyebrangan di sini lumayan ramai akan hilir mudik feri setiap harinya.

Bentor
Walau pada awalnya tidak ada yang menarik, ternyata ada saja hal-hal kecil yang dapat kita temukan. Hal biasa bagi warga sini, namun unik bagi mataku. Walau hanya sebuah kecamatan kecil, angkutan yang laris di Pagimana yakni bentor, becak motor. Tidak perlu jauh-jauh ke Gorontalo untuk naik becak motor. Di Pagimana yang hanya satu jam setengah dari Kota Luwuk, kita dapat menjajal angkutan yang khas Indonesia bagian timur ini.

Perkampungan Bajo
Sejatinya, warga asli Pagimana adalah Suku Saluan. Bahkan masih ada Suku Saluan asli yang hidup terasing di hutan dekat Pagimana. Mereka hidup tanpa listrik, tanpa mengenal uang, dan mengandalkan hutan untuk mendapatkan makanan. Suku Saluan tinggal di sebagian besar wilayah daratan Pagimana. Namun, seperti sebuah anomali, terdapat sebuah desa yang seluruhnya tinggal di atas laut. Desa itu adalah Desa Jayabakti, sebuah perkampungan Suku Bajo.

Yang menarik, walau luas daratan yang saya yakin masih sangat cukup untuk dibangun seribu rumah lagi, mereka rela mendirikan rumah berjejal-jejal di sini. Terdapat sebuah jalan ‘utama’ selebar satu setengah meter sepanjang hampir setengah kilo dan rumah-rumah dibangun di kanan-kirinya. Rata-rata, rumah dibangun dari kayu yang setengah bagian ada di tanah dan setengahnya lagi terdapat di laut. Bahkan ada yang seluruhnya di laut.

Tak pelak, Desa Jayabakti menjadi desa terpadat di Pagimana. Kebetulan, saat ke sana sedang ada perhelatan rakyat lima tahunan untuk menentukan para wakil rakyat. Jika pada sepanjang perjalanan saya jarang-jarang melihat TPS di perkampungan yang terletak berjauhan. Di sini terdapat tujuh TPS untuk mengakomodir satu desa. Warga sangat antusias dalam pesta rakyat ini, semua TPS penuh dengan warga yang mengantri. Anak-anak kecil pun tidak kalah dalam meramaikan suasana berlarian ke sana-ke mari.

Ketika menyusuri jalan satu-satunya di kampung bajo ini, ingatan menerawang ke perkampungan kumuh di pinggir Sungai Ciliwung. Kondisi fisiknya mungkin tidak jauh beda, terlihat padat dan kumuh. Namun, di tempat yang terlihat demikian, rasa toleransi warga sangat besar. Saat mencapai ujung jalan, terlihat beberapa warga menangis dan berteriak, sebagian berlarian menuju rumah salah satu warga. Usut punya usut, ternyata ada seorang warga yang baru saja meninggal dunia.

Merasa tidak ingin menganggu, saya niatkan untuk segera kembali, berkendara pelan-pelan sambil menikmati suasana. Ternyata, kabar warga yang meninggal di ujung jalan menyebar dengan cepatnya. Hampir di rumah-rumah yang saya lewati membicarakannya dan sebagian bergegas ke rumah duka. Sampai pintu keluar Desa Jayabakti pun masih terdengar warga yang membicarakan kematian hari itu. Begitu cepat informasi menyebar dan tampak mereka saling mengenal satu sama lain dengan baik.

Tidak ingin berkendara di malam hari saat menuju Luwuk, pukul dua siang saya melanjutkan perjalanan menyusur jalan di pinggir tebing pantai dan hutan. Di kiri jalan kita dapat melihat laut luas yang membiru, indah sekali. Namun, tentu horor rasanya jikalau harus berkendara malam hari sendirian di mana jarak antar perkampungan sangat jauh dan tidak ada lampu penerangan jalan.

Kampung Bajo.
Rumah Bajo.
Bentor.
Keramaian Pemilu.
Laut di Jalan Menuju Pagimana.
Tikungan.
Sampai jumpa Pagimana, semoga kita bisa bertemu lagi saat rencana menyebrang ke Gorontalo dapat terlaksana. Happy travelling. (dm 060214)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...