Muria, Gunung Kecil dari Kudus

Jika orang mendengar kata ‘Muria’, mungkin yang terbayang pertama kali di benaknya adalah salah satu nama sunan dari Walisongo, penyebar agama Islam di tanah Jawa. Tapi, taukah kawan kalau Muria adalah nama sebuah gunung kecil di Kudus dan membentang sampai Pati dan Jepara? Sunan tersebut mendapat julukan demikian karena pusat pengajarannya berada di lereng Gunung Muria.

Puncak Argopiloso.
Daerah pantai utara Jawa memang miskin gunung, kebanyakan terletak di daerah tengah. Ketika berkendara di jalur pantura, jangan kaget ketika melewati jalur Kudus-Pati dan melihat sebuah rangkaian pegunungan di tengah bentangan sawah, itulah Gunung Muria. Dengan tinggi 1.602 mdpl, Muria lebih dikenal sebagai tempat pesanggrahan daripada lokasi pendakian.

Karena itu pula, kebanyakan pengunjung gunung satu ini adalah para peziarah. Mereka mengunjungi makam Sunan Muria dan pemuka-pemuka Islam yang dihormati oleh warga sekitar gunung. Dengan berbagai macam tujuan, entah hanya sekedar berziarah, mencari ‘pertolongan’, meminta ‘doa’, atau tujuan pribadi lainnya. Ada yang datang sendirian sebagai sebuah laku spiritual ada pula yang beramai-ramai dalam satu rombongan bus besar.

Selain tempat pesanggrahan, di gunung cantik ini juga terdapat Air Terjun Montel. Pada musim penghujan airnya akan mengguyur dengan deras, namun pada musim kemaru hanya seperti curahan kecil dari tebing.  Airnya yang dingin asyik untuk mandi-mandi dibawa guyurannya. Di parkiran mobil dan motor banyak terdapat penjual makanan dan aneka oleh-oleh seperti layaknya lokasi wisata.

Jalur Pendakian
Muria memiliki banyak puncak, diantaranya terdapat tiga puncak yang terkenal: Songolikur, Argowiloso, dan Argojembangan. Saat pertama kali ke sana, saya melalui Colo di Kudus sebagai pintu masuk pendakian. Belakangan saya ketahui ternyata puncak yang saya tuju dari situ adalah Argowiloso. Colo hanya berjarak satu jam dari pusat kota Kudus.

Colo adalah kawasan wisata yang mirip dengan Tawangmangu namun lebih kecil, kita dapat parkir motor di Colo kemudian berjalan ke Air Terjun Montel, lanjut ke atas ke Rejenu, sebuah sumber air dengan tiga rasa yang berbeda, dan dilanjutkan perjalanan ke puncak selama kurang lebih 3-4 jam.

Sampai Rejenu jalan sudah diaspal karena memang masih termasuk di dalam kawasan wisata, cukup rimbun dengan pepohonan besar di kiri kanan dan sungai yang mengalir di pinggir jalan. Dari Rejenu jalan mulai menanjak, vegetasi cukup rapat, dan seringkali kita harus berjalan di atas akar-akaran. Malah pada beberapa titik kita harus memanjat akar-akaran pohon. Asyik sekali.

Dari rejenu sampai puncak tidak ada lokasi untuk berkemah, untuk berkemah dapat di daerah sekitar puncak yang lumayan landai. Air terakhir terdapat di Rejenu, yang di situ juga banyak terdapat warung-warung penjual makanan. Tidak perlu kawatir kehabisan air di puncak, setelah diajarin penduduk lokal yang saya temui di puncak, batang bambu muda yang ada di puncak ternyata dapat kita jadikan alternatif. Potong pada bagian paling bawah, dan pada ruas-ruas paling bawah tersebut terdapat air untuk mengusir dahaga.
 
Gunung Muria.
Jalur Pendakian.
Memanjat Akar.

Minum dari Batang Bambu.
Meniti Akar.
Curug Montel.
Dari Puncak Argowiloso kita dapat melihat puncak-puncak yang lain. Walau hanya sebuah gunung kecil di pantai utara Jawa, namun tak kalah indah dari gunung-gunung tinggi yang terdapat di tengah Jawa. Lumayanlah untuk mengisi akhir pekan. Keep safe, clean, and fun climbing. (dm 20 Agustus 2014)

4 comments:

  1. kaka, aku ada rencana mau naik ke Muria setelah ziarah. masih sebulan lagi sih. ni lagi cari persiapan.

    Total perjalanan dari monthel berapa jam, Ka? bisa untuk one day trip ga? makasih btw.

    ReplyDelete
  2. Ka, kalo boleh minta no hpnya buat komunikasi. Ini no hpku. 085776618462. Thanks. Dwi

    salam lestari

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...