Semarak Kemerdekaan dari Banggai

Sudah berhari-hari Banggai diguyur hujan, bahkan dua hari terakhir hujan turun dari pagi sampai pagi lagi. “Ntar kalau bendera sudah dikerek, sudah, berhenti hujannya.”, kata orang lokal. Semoga saja benar, tentu upacara peringatan kemerdekaan bakal menjadi amburadul jika tiba-tiba hujan datang. Pukul tujuh pagi itu, saya sudah berada di dalam barisan upacara di kilang gas Donggi Senoro. Inilah pertama kalinya mengikuti upacara dalam nuansa perusahaan.
 
 

Jika dipikir-pikir, sedikit terasa lucu atau bisa juga dikatakan ironis. Ketika inspektur upacara membahas soal Indonesia yang telah lepas dari tangan penjajah, upacara ini didirikan oleh perusahaan bermodal negara Jepang, salah satu mantan penjajah Republik Indonesia. Dua orang yang berdiri di depan saya, juga adalah ekspatriat Jepang yang merupakan petinggi maincontractor di proyek kilang gas ini.

Dalam hati saya berucap, tampaknya apa yang diucapkan oleh inspektur upacara tersebut salah. Penjajah belum pergi dari bumi Indonesia. Tujuannya tetap sama, mengeruk sumber daya alam Indonesia. Mereka hanya bermetamorfosa menjadi bentuk lain. Dari yang semula menggunakan kekuatan militer, kini menggunakan kekuatan ekonomi. Dari yang semula dengan peluru timah panas, kini berubah menjadi lembar-lembar rupiah yang tidak seberapa.

Apakah ini salah mereka? Tentu tidak. Kitalah yang menjual tanah ke mereka, kitalah yang menjual sumber daya alam ke mereka, dan kitalah yang mengemis untuk memberikan tenaga ke mereka demi pundi-pundi rupiah. Kita belum mampu untuk mengelola sumber daya alam kita sendiri baik dari skill atau finansial, pahit, tapi begitulah apa adanya. Pahit, tapi memang kita belum merdeka sebagai bangsa.

Sebuah renungan untuk kita semua, putra putri Indonesia Raya. Namun, sudahlah, mari berbenah diri untuk memerdekakan diri , sementara itu mari kembali ke upacara dan perayaan ‘kemerdekaan’ kita..

Di pagi hari itu untungnya hujan tidak turun. Upacara berlangsung khidmat. Upacara dimulai pada pukul tujuh pagi, mungkin antisipasi pada hujan yang biasa mengguyur di atas pukul delapan. Jika biasanya mengikuti upacara dengan peserta bertopi, kini yang ada peserta dengan helm proyek. Upacara pun berlangsung tepat waktu, pukul delapan lebih sedkiti sudah selesai. Uniknya, ketika petugas upacara yang hendak mengumpulkan peserta untuk berfoto bersama, mereka malah sibuk selfie sendiri-sendiri. Dampak adanya smartphone memang luar biasa, hehe..

Di Banggai, khususnya daerah Batui sampai Luwuk, pusat pemerintahan kabupaten,ramai oleh semarak kemerdekaan. Dari lomba-lomba khas tujuh belasan yang diadakan oleh warga, sampai arak-arakan gerak jalan dan tampilan gaya-gaya unik dan lucu tiap desa. Tiap SD-SMP-SMA memperlihatkan kebolehannya dalam lomba gerak jalan. Sementara tiap desa berdandan konyol untuk menghibur warga seperti berpura-pura menjadi waria sampai berdandan bak layaknya pejuang kemerdekaan. Semarak!












Dirgahayu Indonesia dari Banggai! (dm 18 Agustus 2014)

2 comments:

  1. HAHAHAHHAA itu "Janda Semakin di Depan" HAHAHA -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin maksudnya sekarang itu jamannya emansipasi janda mas bro, hehe...

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...