Tambora Bercerita (#1) Menuju Calabai

Jarak antar kursi yang dekat membuat kaki tidak leluasa bergerak. Namun itu masih tidak masalah jikalau tidak ditambah aneka macam barang yang dijejalkan ke dalam bus: kardus yang berisi buah-buahan, beraneka karung dengan isinya yang entah apa, dan tas-tas bawaan para penumpang. Untung saja kompor minyak (ya, kompor minyak di tahun 2014 ini!), ikan, dan karung-karung super besar tidak ikut dijejalkan ke dalam, tapi di atap bus. Kabar baiknya, kalau cepat dan tidak ada masalah, pukul satu malam sudah sampai di Calabai yang berarti 16 jam perjalanan darat!

Bus Tiga Perempat Mataram-Calabai.
Saking banyaknya barang-barang di dalam bus, untuk bisa duduk pun kami harus menaiki kardus dan karung-karung yang terdapat di lorong bus. Entah sebenarnya ini bus penumpang atau bus barang, sudah tidak dapat dibedakan lagi. Sedikitnya pilihan moda transportasi untuk menuju Calabai menjadikan bus ini favorit, atau lebih tepatnya satu-satunya pilihan, bagi warga Sumbawa.

Menuju Tambora dari Mataram (Rute Desa Pancasila)
Sebelumnya perlu diketahui  bahwa Tambora terletak di Pulau Sumbawa bagian utara. Untuk menuju ke sana paling mudah kita mencari angkutan ke Calabai (kota kecil dekat Pulau Satonda) kemudian turun di Kadindi, sebuah desa kecil di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Kadindi terletak sebelum Calabai, jadi jangan sampai terlewat sampai Calabai. Dari Kadindi kita harus naik ojek ke Desa Pancasila, basecamp pendakian Gunung Tambora. Atau kalau berbanyak atau pintar merayu Pak Sopir, bus dapat mengantar langsung ke Desa Pancasila.

Saya ingin mengupas transportasi darat menuju Calabai dari dua bandara terdekat, yakni dari Lombok dan Bima. Jika kawan berangkat dari Lombok, pastikan sudah di Terminal Bertais sebelum jam sembilan pagi. Terdapat dua bus yang menuju Calabai setiap hari dari Mataram, yakni Mulya Sejati dan Sri Rejeki dengan jam pemberangkatan yang sama, jenis bus yang sama, dan harga tiket yang sama: Rp. 150.000,00 (2014). Namun dari bisik-bisik penumpang, bus yang saya sebut belakangan kurang bertanggung jawab terhadap barang bawaan kita, entah benar atau tidak.


Suasana di Dalam Bus.

Muatan yang Overload.

Harga tersebut sudah termasuk tiket penyebarangan ke Sumbawa dari Lombok tapi tanpa makan selama 17 jam perjalanan menuju Calabai. Jadi bagi kawan yang suka beser, pikirkan baik-baik karena kesempatan ke toilet cuma dua kali: saat di feri dan jam makan malam di warung antah berantah. Jika lancar maka akan sampai di Kedindi pukul dua dini hari (yang pastinya sudah tidak ada ojek menuju Desa Pancasila) karena itu minta tolonglah agar diantar sampai ke Desa Pancasila.

Tambahan, terminal di Mataram terkenal akan calo-calonya yang “sangat ramah”, penumpang belum turun dari taksi/bus saja sudah ditawari aneka destinasi pilihan. Kalaupun tidak tertarik, mereka akan “dengan senang hati” membawakan barang barang bawaan kita. Karena itu, sebaiknya membeli tiket di agen resmi bus yang hendak kita tuju, lebih bagus lagi tidak perlu ke terminal, hehe..

Menuju Tambora dari Bima-Dompu
Jika memang sudah tertinggal bus ke Calabai, kita dapat menuju Dompu terlebih dahulu dengan waktu yang kurang lebih sama kemudian dilanjut bus ke Calabai keesokan harinya. Dompu menjadi semacam persinggahan di jalur Bima-Jakarta, karena itu jenis bus yang dapat kita pilih pun beragam, mulai dari ekonomi sampai AC eksekutif.

Sementara bagi kawan yang tidak mau berdesakan selama 17 jam dapat mengambil penerbangan ke Bima dari Jakarta untuk dilanjut angkutan darat selama empat jam ke Dompu. Mengingat bus Dompu-Calabai cuma berangkat sehari dua kali yakni pukul enam pagi dan dua siang, maka pastikan kedatangan di Dompu dari Bima direntang waktu tersebut, kalau tidak terpaksa bermalam di Dompu atau rental mobil yang pastinya lumayan mahal.

Bus Dompu-Calabai juga bus tiga perempat yang sama seperti bus Mataram-Calabai dengan tarif Rp. 15.000,00. Per 2014, jalan menuju Calabai sudah diperbaiki yang katanya sebagai persiapan 200 tahun meletusnya Gunung Tambora pada April 2015 sehingga waktu tempuh hanya 3 jam saja.

Satu yang unik saat melewati jalur darat Sumbawa, sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan sangat khas Tambora: padang rumput tempat peternakan kuda dan sapi. Pada siang hari musim panas akan terkesan tandus dan gersang. Tiap padang dibatasi pagar pohon untuk mencegah hewan ternak lari dari ladang penggembalaan. Eksostis bagi mata saya.


Pelabuhan Pototano.

Di bangku depan saya duduklah ibu-ibu dengan putrinya yang masih kecil yang membawa berkarung-karung buah kelapa. Heran, kenapa beliau rela membawa segitu banyaknya barang dan berdesak-desakan, saya pun iseng bertanya. Apakah di Pulau Sumbawa, khususnya di Calabai tidak ada buah kelapa? Dijawab dengan santai, “Ndak, banyak pohon kelapa di sana, ini buat oleh-oleh saja.” Hehe.. tampakanya logika saya belum sampai untuk memikirkan sampai ke situ.

Hmm… semoga perjalanan ini menyenangkan, let’s hike!

Untuk kisah pendakian Tambora kita bahas pada cerita selanjutnya. (dm 4 November 2014)

14 comments:

  1. Hahaaa....seru euyyy...!!!!

    *menunggu lanjutannya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe... seph seph... makasie udah mampir uni.

      Delete
  2. wah keren kakak...trimaksih ulasanya sangat membantu,,

    #sambilnunggukisahselanjutnyah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, senang bisa berguna bagi kawan sesama trekker.

      Sabar ya, besok launching kok. Ciehhh bahasanya, hehehe...

      Delete
  3. salim sepuh salam kenal kk ,,iya nih kk lagi galau menentukan moda apa yang mau dijadikan tumpangan untuk tiba di calabai pada tgl 8 april nanti,,,makelum lah pekerja terkungkung kalender :(
    dengan waktu yang super singkat tapu musti dg biaya murah :(
    sesuai salah satu tulisan kk ,,yang promopacker #eikeh bangett yaaakk :D
    #Bangga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh... mantapppp...
      Ndak papa, sama kok sama aku, hehehe....
      Ya tulisan saya sepertinya sudah cukup jelas. tinggal rajin mantengin jadwal dan harga tiket pesawat aja.

      Kemarin mau lewat bima, tapi sepertinya pesawat cuma ada dari Jakarta atau Lombok, dan karena berhubung aku dari Semarang, maka penerbangan dari Surabaya-Lombok paling pas buatku. Penerbangan ke Bima sampainya juga sore (kalau ndak salah cuma sehari sekali) jadi pasti nginpe juga di Dompu. sama aja jatuhnya walau lebih nyaman, hehe...

      Delete
  4. Hallo mas salam kenal sebelumnya..:)
    Mas apakah punya info bagaimana menuju satonda dari calabai?
    Mungkin mas nya punya infonya saya boleh dibantu kah?
    Trima mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal mas/mbak. Makasie udah mampir. Wah kemarin ada rencana ke satonda tapi ndak jadi. Setahuku itu penyebrangan per kapal lumayan mahal. Lupa harganya.. hehe.. bentar.. ada temen yang tau nomer pemilik perahu buat penyebrangan keknya. Tak tanyain dulu.

      Delete
  5. boleh nanya mas, kalo mau ke tambora dari surabaya, paling efisien waktu yang mana ya ?,, saya cuman punya waktu sedikit buat kesana ni
    http://obeliksndut.blogspot.co.id/

    ReplyDelete
  6. Kalo boleh tau jadwal bus malam ke ke calabai dari Lombok dompu gan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bus malam ke Calabai saya kurang tahu, Mas/Mbak. Mungkin bisa ambil bus arah Bima.

      Delete
  7. Salam lestari!
    Terima kasih untuk catatan pendakian dan perjalanannya. Sangat informatif lho... Saya senang bacanya dari awal sampai akhir.
    Kalau dari Desa Pancasila kembali menuju ke Lombok, naik bis nya dari terminal mana Mas Dhani? Dan kalau masih simpan, bolehkah saya minta info nomor telepon Pak Syarief?
    Terima kasih sebelumnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, senang bisa membantu. untuk pulang, ada kok dari Calabay yang langsung ke Lombok. Namun kalau ketinggalan seperti saya tempo lalu, bisa ke dompu, dari sana banyak bis ke lombok dari bima. Nomornya sepertinya sudah raib deh, hiks..

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...