Tambora Bercerita (#3) Puncak!

Tepat pukul 9 lebih 15 menit kaki yang sudah sempoyongan ini berhasil menjejak di titik 2.851 mdpl. Finally I made it! Setelah perjuangan dan penantian yang panjang, puncak Tambora dapat kuraih. Dari puncak, keseluruhan kawah dapat terlihat dengan jelas. Kawah inilah yang membuat Gunung Tambora terkenal sampai ke mancanegara. Pada April 1815, gunung setinggi 4.300 mdpl memuntahkan kandungan magmanya dan meninggalkan kawah terluas di Indonesia dengan diameter hampir 6 km.
 
Kawah Gunung Tambora.
Memandang keagungan Kawah Tambora memang membuat merinding. Di satu sisi keindahan alam yang tiada duanya dan di sisi lain, gunung  inilah penyebab kematian lebih dari 71.000 jiwa dan setahun tanpa musim panas di Eropa dan Amerika Utara. Letusan gunung ini juga menyebabkan hilangnya satu kerajaan di Bumi Sumbawa, karena itulah disebut Tambora yang berarti hilang.

Jalur yang Rapat dan Panjang
Untuk menghemat waktu, kami menggunakan jasa ojek untuk menuju pintu hutan seharga 35 ribu yang membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari basecamp rumah Pak Saeful. Pintu hutan gunung satu ini biasa saja, hanya seperti percabangan dengan plang kecil dari kayu yang dipaku di pohon. Papan penunjuk jalan pun tidak begitu besar.

Kesan yang mendalam saat di perjalanan yakni kondisi jalur yang rapat dan dan panjang. Sampai pos 5, jalur didominasi oleh tumbuhan dan pepohonan yang rimbun namun landai,tidak begitu banyak tanjakan. Asyiknya, di sepanjang jalan banyak pohon-pohon besar yang tumbang sehingga mengharuskan kita berjalan merangkak di bawahnya atau merayap di atasnya, menyenangkan sekali. Namun sialnya, dari pos 3 ke pos 5, banyak juga tanaman jelatang yang mengintai, pastikan tangan tidak melambai-lambai sembarangan karena kalau tidak, hmm… rasakan sesasi panas menyengat di kulit, hehe..

Untuk lebih mempermudah memahami kondisi jalur dan waktu yang dibutuhkan, dapat dilihat pada tabel di bawah dengan durasi waktu kaki keong saya, hehe..



Setelah seharian berjalan, kami memutuskan untuk bermalam di pos 3, selain tempat yang lapang, jarak ke puncak sudah tidak begitu jauh lagi. Pos 3 berupa dataran pada punggungan bukit dengan pepohonan yang tidak begitu rapat, cocok untuk lokasi bertenda. Mengistirahatkan kaki di dalam tenda sambil menunggu malam rasanya nikmat sekali.

Menuju Puncak!
Akhirnya, pukul 3 pagi kami berangkat meninggalkan tenda setelah rencana pada pukul 1 cuma terbangun dan tidur lagi, kemudian baru membuka mata dan bangun pada pukul 2. Satu-satunya tim pendaki lain dari Kanada-Belgia yang kami temui sudah berangkat duluan sejam yang lalu. Alhasil, pekatnya dini hari itu hanya milik kami bertiga, tanpa antrian, tanpa suara bising pendaki lain. Sunyi. Nikmat.

Menurut Arman, porter kami, jarak dari Pos 3 ke Pos 4 dapat ditempuh hanya dalam waktu setengah jam. Yah, itu kan kaki porter, bagi kaki kami waktu tempuh tersebut harus dikalikan 2, hehe.. Jalur sudah mulai sedikit menanjak dan jelatang makin banyak saja. Pukul 5 pagi kami sampai di Pos 5, cuaca sudah mulai sedikit terang walau masih remang-remang. Dari sinilah trek sesungguhnya dari Gunung Tambora dimulai.

Sepanjang tanjakan yang lumayan menyiksa tersebut masih dapat kita jumpai eidelweis dan pepohonan walau sudah jarang. Sayangnya, rerumputan jalur ke puncak berwarna hitam legam tanda sebelumnya sempat terjadi kebakaran di sini. Pada beberapa sisi masih terlihat asap mengebul, untung saja kami datang setelah kebakaran selesai. Tidak bisa kubayangkan jika kami terjebak di tengah kobaran api.

Sepertiga jalur terakhir ke puncak, jalur berganti dengan bebatuan dan kerikil, agak sedikit labil namun masih enak dilewati. Makin ke atas, jalur semakin susah, nafas semakin kembang kempis dan lutut semakin berat melangkah. Entah karena sudah lama tidak mendaki atau perut yang makin maju (sepertinya gegara kebanyakan nasi padang) saya jauh tertinggal di belakang. Badan serasa sudah tidak kuat, tetapi selangkah demi selangkah akhirnya sampai juga di pinggiran kawah.

Tapi jangan senang dulu, dari pinggiran kawah ke puncak masih lumayan jauh melewati ‘padang pasir’ dan melompati rekahan-rekahan puncak Tambora. Pada satu bagian kita harus menuruni rekahan untuk naik kembali ke atas dan pada bagian lain kita harus melompati rekahan dengan jarak yang lumayan jauh. Untuk kondisi tubuh yang agak ngedrop, jalur ke puncak benar-benar memacu andrenalin.

Pulang
Saat berangkat menuju puncak dari Pos 3, kami membawa air 1 botol 1,5 liter, 1 botol 1 liter, dan 1 botol 600 ml. setelah tiba di pinggiran kawah, jumlah air hanya tinggal seteguk saja. Tampaknya kami harus turun dari puncak tanpa persediaan air. Bagiku yang membutuhkan air dalam jumlah yang banyak, perjalanan turun kala itu benar-benar melelahkan dan menyiksa. Tertatih-tatih memilih pijakan yang kuat dipijak benar-benar menguras tenaga. Sempat berkali-kali beristirahat cukup lama, bahkan sempat tertidur.

Setelah sampai di Pos 5, mendapatkan air yang agak keruh berwarana kemerahan serasa minum fanta dingin, nikmat sekali, hehe… Lumayan untuk dapat mengembalikan dahaga dan tenaga guna melanjutkan perjalanan. Sejam kemudian kami sampai di Pos 3, tiduran sejenak, makan, dan packing kembali untuk melanjutkan perjalanan. Rencananya kami akan bermalam sekali lagi di Pos 2 yang sumbernya air melimpah, atau di Pos 1 jika masih tidak terlalu malam.
 
Pintu Rimba.
Pos 1.
Pos 2.
Pos 3.













Pos 4.
Pos 5.

Tepian Kawah.
Pinggiran Kawah.

Puncak Tambora.
Jelatang.
Air di Pos 5.
Jalur yang Terbakar.
Menyusur Pohon.
Jalur yang Rimbun.
Tambora memang gunung yang indah. Karena susahnya akses ke sana membuat gunung ini jarang didaki seperti di Jawa, kondisi alamnya tidak begitu tercabik eksploitasi ribuan pendaki. Pendakian yang menyenangkan, sampai bertemu kembali Tambora.

Kisah sebelumnya dapat dibaca pada tautan ini.

Keep save, clean, and fun climbing! (dm 20Nov14)

10 comments:

  1. Gan boleh minta kontak pak saeful....berminat ke tambora ini....thanks
    Email yah gan tofan_tri@yahoo.co.id

    ReplyDelete
  2. thanks catper ke Tambora..
    btw apa ada info dari Desa Pancasila ke Pelabuhan Pototano harus kemana dulu?

    ReplyDelete
  3. Nggk kapok ke tambora lagi boss. . .

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...