Lu Kapan ke Lukapan?

Tepat setahun yang lalu saya pertama kali menginjakan kaki di ujung semenanjung Sulawesi Tengah, namun belum kesampaian untuk mendaki ke bukit kecil tempat memandang Pulau Dua dari atas. Percobaan kedua, gagal total karena motor yang kecemplung ke rawa-rawa sampai sedalam pinggang. Jangan tanya “kok bisa kecemplung?”, memalukan untuk membahasnya lagi. Mana butuh satu jam lebih untuk dapat membuat motor bisa kembali melaju. Sial. Namun, di percobaan ketiga saya berhasil, pas sunrise pula, jackpot!

Pulau Dua dari Lukapan.
Pada kali ketiga ini pula baru saya ketahui nama gunung (menurut saya lebih cocok disebut bukit, tapi warga sini menyebutnya dengan gunung) tersebut adalah Lukapan. Ketika saya tanya apa artinya, ternyata warga sekitar juga tidak tahu, sepertinya bukan bahasa Balantak. Yang jelas, dari Lukapan kawan dapat melihat seluruh gugusan Pulau Dua dari ketinggian, indah sekali.

Pada kisah yang lalu saya sudah membahas tentang Pulau Dua, dua buah pulau yang terletak di semenanjung Sulawesi Tengah. Tepatnya di Desa Pulau Dua, Kecamatan Balantak, Kabupaten Banggai. Nah, untuk menuju Lukapan, kita harus minta izin terlebih dahulu ke Kepala Desa Kampangar yang dulunya adalah desa yang sama dengan Pulau Dua sebelum dimekarkan. Karena emoh gagal lagi setelah dua kali ke sini, kami memutuskan untuk memakai jasa guide lokal sebagai pemandu naik ke sana.

Pulau Dua sendiri berada lumayan jauh dari Luwuk, sekitar 3-4 jam melalui jalan darat. Agar dapat menikmati keindahan alamnya tanpa diburu waktu, kami memutuskan untuk bermalam di Balantak, mendirikan tenda di pinggir pantai. Jika biasanya bertenda di gunung, ternyata bertenda di pantai tidak kalah asyiknya. Keesokannya, satu jam sebelum matahari muncul, kami mulai berjalan menuju Puncak Lukapan ditemani Miras, guide kami dari Desa Kamparang. Menurut Miras, untuk sampai di puncak membutuhkan waktu setengah jam, namun karena team kami ini menyebut dirinya sebagai Lelet Adventour, menggandakan waktu perjalanan adalah pilihan yang bijak.

Setengah perjalanan kita harus menyusur tepi pantai, lumayan capek berjalan di pantai yang labil. Setelah sampai di dermaga, perjalanan dilanjutkan masuk ke hutan, dari sini tanjakan dimulai. Sepuluh menit berjalan kita sudah menemui padang sabana di perbukitan. Inilah yang membuat jalur ke puncak Lukapan menjadi menantang karena tiada pohon atau batu yang dapat dijadikan pegangan. Harus ekstra hati-hati, jangan jadikan rumput kering untuk pegangan karena langsung tercabut.

Sesampai di atas, kita akan disuguhi pemandangan yang sedap di mata. Dua pulau yang membentuk garis lengkung dengan deretan Bukit Lukapan dengan latar laut lepas. Agak di sebelah kiri, matahari pagi sudah mulai menampakan diri walau masih agak malu-malu. Semburat kekuningan di atas lautan biru membentang. Ah, indahnya Indonesia.

Wisata Sejarah
Selain menikmati keindahan alamnya, di Lukapan kita juga melakukan wisata sejarah. Pada jaman pendudukan Jepang, daerah ini mengingat letaknya yang di semenanjung Sulawesi, digunakan sebagai pos pemantauan kapal-kapal yang melintas dari arah Filipina ke arah selatan melewati jalur di antara Sulawesi dan Maluku. Di atas bukit terdapat bekas bungker yang, sayangnya, pintu masuknya sudah ambruk. Terdapat pula bekas lubang yang digunakan untuk membunuh para pekerja paksa dan istri pinjam (istilah untuk para budak seks).

Di bagian bawah, saat turun dari puncak Lukapan di jalur sebelah Desa Kamparang, kita akan menemui bekas dapur. Tungku perapian yang digunakan masih dengan jelas dapat kita lihat bekasnya. Tak jauh dari dapur terdapat seperti tempat penampungan air, yang katanya digunakan untuk tempat mandi para ‘istri pinjam’. Hmm.. dapat kubayangkan dahulu suasana para penduduk sekitar dipaksa untuk menyediakan makanan para serdadu Jepang yang bertugas di pos pengamatan puncak Lukapan.

Ohya, untuk menyewa guide, kemarin kami membayar seharga 100k, harga yang pantas untuk jumlah rombongan kami sejumlah tujuh orang plus anak kecil dan berangkat selepas subuh. Pastikan juga kawan membawa air dalam jumlah yang cukup mengingat medan yang dilalui tidak terdapat sumber air dan panas pada siang hari.

Teluk Desa Pulau Dua.
Sapi Gunung!
Foto di Puncak Bukit.
Pulau Dua di Belakang.
Turunan dari Lukapan.
Bekas Tempat Penampungan Air.
Bekas Dapur.
Nemu di Tengah Jalan.
Jikalau ada kesempatan mampir ke Banggai, cobalah main ke Lukapan, dijamin tidak menyesal. Jadi, lu kapan ke Lukapan? (dm 10 Desember 2014)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...