Memacu Andrenalin di Puncak Pulau Dua

Jika dilihat dari arah perkampungan, Puncak Pulau Dua hanya seperti gundukan bukit kecil. Tingginya pun paling hanya 100 meter dari permukaan laut. Di puncaknya tertancap bendera merah putih, peninggalan tim ekspedisi pulau terluar NKRI. Gersang. Hanya rumput kering yang menghiasi Puncak Pulau Dua ini. Di satu sisi menampilkan keindahan tersendiri, di sisi lain berarti harus ada usaha ekstra saat menggapai puncaknya.

Pulau Dua dari Atas.
Tepat setahun yang lalu saya mencoba mendakinya, namun karena terjalnya medan dan belum tahu jalur yang harus dilalui, percobaan kala itu hanya berakhir 10 meter dari batas pepohonan. Mungkin saya melewati jalur yang salah. Bagaimana mungkin bisa berjalan dengan kemiringan hampir 60 derajat tanpa pegangan satu apapun? Gundukan rumput tidak bisa diandalkan, sekali pegang, tercabut sudah. Ah, bisa-bisa, saya terguling jatuh ke bawah.

Ohya, untuk menuju ke Pulau Dua ini, silahkan membaca catatan perjalanan saya yang lalu. Sedikit tambahan yakni adanya dermaga kecil untuk kapal berlabuh sehingga tidak perlu turun ke air. Vila-vila pun sudah selesai dikerjakan dan siap disewakan dengan gubuk-gubuk kecil untuk bersantai. Namun tampaknya, baru Pemda Banggai yang menggunakan fasilitas ini. Saya jadi curiga jangan-jangan ini program terselubung pemda sebagai tempat pertemuan internal di tengah pulau, hehe..

Vila Pulau Dua.
Pantai Pulau Dua.
Jalur yang ekstrem!
Mengaku sebagai pendaki gunung, saya merasa malu ketika harus berkali-kali meminta tolong ke Pak Kades Kampangar yang juga guide kami menuju puncak. Beliau membawa bambu panjang untuk menarik kami satu persatu ke atas. Jika tanpa bantuan Pak Kades, mustahil saya bisa sampai di puncak. Dengan enaknya beliau yang hanya bersandal jepit berjalan ke atas dan ke turun lagi ke bawah, bolak-balik untuk membantu kami.

Jalur yang ekstrem dengan dibayang-banyangin terperosok ke bawah membuat kami makin takut untuk bergerak. Bagaimana tidak, tingkat kemiringan punggungan dan tanpa ada pegangan membuat mustahil untuk bergerak ke atas. Setiap melangkah, harus dipastikan tanah yang kita pijak tidak longsor. Beberapa kali harus diinjak-injak terlebih dahulu sebagai pijakan selanjutnya. Tapi seringkali, bambu panjang Pak Kadeslah satu-satunya pegangan untuk terus ke atas.

Baru kali ini, dari pengalaman berpuluh-puluh kali mendaki gunung, melalui medan seperti ini dan harus dibantu sedemikian rupa.

Setelah hampir satu jam berkutat dengan peluh dan tanah labil, Puncak Pulau Dua dapat kami raih. Tidak sia-sia perjuangan kami. Pemandangan dari atas betul-betul sedap di mata. Keseluruhan pulau dapat dilihat dari puncak. Dari tempat berpijak yang hanya berukuran satu kali dua meter kita juga dapat menikmati pemandangan teluk Desa Pulau Dua yang indah dengan puncak Lukapan di sebelah kiri serta pulau ‘temannya’ Pulau Dua dan laut biru tua di antaranya. Mantap jaya!

Jalur Ke Puncak Pulau Dua.
Mendaki Puncak Pulau Dua.
Puncak Pulau Dua.
Sang Merah Putih di Puncak Pulau Dua.
Sesuatu yang naik pasti harus turun
Naik ke puncak adalah satu persoalan dan turun kembali ke bawah adalah persoalan lain. Dapat saya katakan, turun terlihat lebih menakutkan karena pandangan kita terus menerus menatap ke bawah. Jangankan berlari-lari macam turun gunung seperti biasanya, berjalan biasa pun masih gamang. Terpaksa menggunakan lima kaki yakni pantat dibantu dua kaki dan dua kaki-tangan, hehe.. Itupun masih harus dibantu oleh Pak Kades. Fiuh…

Melengkapi andrenalin yang sudah terpacu deras, hujan turun mengguyur. Padahal sedari pagi panas menyengat tidak ada tanda-tanda bakal turun hujan. Hujan pun membuat kami harus lebih cepat untuk kembali ke vila, bukan karena takut basah, tapi karena petir! Bayangkan saja, lima manusia di puncak bukit yang gundul tanpa satupun pohon, tentu akan menjadi santapan empuk panah Dewa Zeus yang sedang iseng.

Tidak peduli tanah yang makin labil berkat guyuran hujan, kami bergegas untuk turun ke bawah dengan tetap dipandu oleh Pak Kades. Benar-benar asyik sekaligus horor. Anehnya, di tengah kondisi seperti itu, kami masih dapat tertawa lepas. Entah menertawakan kelucuan teman atau hanya doping agar tidak stress, hehe..

Pak Kades Kampangar.
Dituntun Pak Kades.
Dibantu Pak Kades.
Lereng Puncak Pulau Dua.
Mendorong Perahu (1) (doc. Mega).
Mendorong Perahu (2) (doc. Mega).
Cekungan Pulau Dua.
Karena Mendorong Motor Sudah Mainstream, yuk Dorong Perahu!
Perlu diketahui, Pulau Dua ini berbentuk seperti huruf Y raksasa, dan untuk berlabuh kita harus masuk ke dalam cekungan Y bagian atas tersebut. Di ceruk pintu masuk ke cekungan memiliki kedalaman yang tidak begitu tinggi sehingga saat surut, mustahil perahu kapasitas sepuluh orang dapat lewat tanpa melukai lambung perahu.

November saat menuju ke sana, laut masih pasang dan dapat melewati pintu masuk cekungan dengan mudah. Namun ketika hendak pulang sepertinya Tuhan yang Maha Asyik hendak mengajak kami untuk berbasah-basahan di air laut yang surut. Jadi ceritanya laut menjadi surut dan agar lambung kapal tidak terluka, maka penumpangnya harus turun untuk membantu mengurangi beban perahu. Jadilah kami beramai-ramai mendorong dan mengangkat bagian belakang perahu melewati daerah yang rendah menuju laut terbuka.

Pengalaman mendorong perahu ini mungkin biasa saja bagi para nelayan, tapi bagiku memberikan kesan tersendiri. Kapan lagi coba kuli bangunan macam saya bisa merasakan mendorong perahu keluar pulau? Kalau mendorong motor karena kehabisan bensin seh sudah biasa banget, sudah mainstream, bro.

Hampir 50 meter kami beramai-ramai mendorong perahu melewati karang dan koral. Dan namanya ‘orang ndeso’, ketika mendorong perahu masih saja sempat minta difoto temen perempuan yang tetap di perahu, hehe.. Sampai bertemu lagi Pulau Dua. (dm 11 Desember 2014)

7 comments:

  1. subhanallah,, indahnyaa Indonesiaku

    ReplyDelete
  2. Tulisan yg informatif bro.... Btw Masih tinggal di luwuk ga bro? Temenin dong main ke pulau dua sama ke solakan... Bulan depan sekitar 15-18 sy mampir main ke luwuk habis Dari togean...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Hehe.. sudah balik ke Jawa neh, bro.
      Kalau butuh teman, mungkin saya bisa bantu kasih info. :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...