Yuk, Mampir ke Kenawa!

Bus yang seharusnya berangkat jam delapan malam molor hingga dua jam. Entah alasan klise apalagi yang bakal dilontarkan agen bus di Dompu ini. Aku tidak butuh alasan, aku butuh tumpangan ke Pototano. Sejam yang lalu pun kami sempat dipindahkan dari Terminal tempat kami menunggu bus dari jam lima sore, “Ada jembatan rusak sehingga bus tidak bisa masuk terminal”, kata agennya berkilah.
 
Pulau Kenawa.
Saat itu kami sedang dalam perjalanan balik dari Tambora, ketinggalan bus Calabai-Mataram, kami terpaksa putar haluan menuju Dompu. Dompu adalah kota kecil yang berada di jalur trans Bima-Jakarta, tentunya dari sini lebih mudah untuk mencari angkutan ke arah Mataram untuk turun di Pototano. Namun jangan salah, tujuan kami bukanlah Pototano, namun pulau kecil nan cantik yang terletak tidak jauh dari penyebrangan feri di Pulau Sumbawa tersebut. Namanya Kenawa.

Eh ya, jangan salah dengan Kanawa ya. Kalau Pulau Kanawa terletak di Flores, Nusa Tenggara Timur, sementara Pulau Kenawa terletak di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Unik, di dua provinsi yang bersebelahan terdapat dua pulau dengan nama yang hanya berbeda satu huruf.

Sial. Ternyata bus kami tidak bisa berangkat, entah apa alasannya aku sudah tidak peduli lagi. Pantas saja sudah belasan bus lewat namun tidak satupun diberhentikan pemuda tanggung agen kami itu. Akhirnya si pemilik agen bus sendiri yang tiba-tiba berada di dalam salah satu bus yang baru datang dan menyuruh kami masuk dari dalam kaca jendela.

Dua nomer kursi bertuliskan angka 19 dan 20, sesuai dengan tulisan di tiket yang sudah kami pilih dengan seksama, ternyata sudah terisi. Belum juga kami menanyakan ke penumpang di kursi kami jangan-jangan mereka salah duduk, Mbak Lis, agen bus kami sudah menempatkan kami di kursi paling belakang, di smoking room.

Tempatnya gelap dan agak berbau pesing karena di sebelah toilet yang pintunya sering terbuka. Ah sial, mana ACnya sudah rusak, terpaksa kami mengganjal pintu ‘kamar’ agar selalu terbuka dan tidak gerah. Malas beradu argumen yang saya yakin bakal sia-sia belaka, kucoba untuk menikmati kejadian yang tidak mengenakan ini. Kalau mau nyaman, ya jangan jalan-jalanlah, hehe..

Meleset dari prediksi, pukul tiga pagi kami sudah sampai di Pelabuhan Pototano. Wah cepat juga, dalam lima jam kami sudah sampai, padahal kupikir baru pukul lima kami sampai tempat ini. Lumayanlah bisa istirahat barang dua jam sambil menunggu pagi di warung-warung pelabuhan yang banyak bertebaran. Namun sayangnya, di sini tidak tersedia atm. Terpaksa harus menggunakan jasa ojek untuk mencari atm di kecamatan terdekat.

Dari Pelabuhan Pototano, lokasi penyebrangan ke Pulau Kenawa hanya berjarak 500 meter. Terdapat sebuah gapura kecil selamat datang sebagai penanda lokasi. Untuk menyebrang ke Pulau Kenawa kita akan dikenakan biaya 150 ribu per satu perahu berkapasitas 10-15 orang. Biaya ini sudah termasuk pulang pergi. Tentunya akan murah meriah jika berame-rame, namun berhubung kami cuma berdua dan menyebrang bukan di hari libur, mau tidak mau harus membayar satu perahu. Menyebrang pun tidak lama, kurang lebih cuma setengah jam saja.

Berwisata di saat bukan hari libur memang kadang terbilang mahal, namun di sisi lain hanya kami berdua pengunjung Pulau Kenawa saat itu. Yeah, the island for our own!

Pulau cantik ini tidak begitu besar, hanya satu jam saja untuk mengitari keseluruhan pantainya. Terdapat dua ‘bukit’ kecil dan gubuk-gubuk kecil di pinggir pantai sebagai tempat berisitirahat. Dari bukit, atau mungkin lebih tepat disebut gundukan tanah yang paling tinggi kita dapat melihat keseluruhan pulau. Memang agak susah untuk naik ke atas, namun akan terbayar dengan pemandangan indah yang sudah menanti.

Mungkin hal unik dari pulau ini yakni adanya rerumputan atau alang-alang di seluruh permukaannya. Hampir tidak ada pepohonan, sehingga ada kesan kita berada di lautan sabana di tengah lautan biru. Indah kan? Pastinya asyik sekali menikmati keindahan pulau sambil foto sana sini. Pantainya pun bersih dan jernih sekali, tentunya tambah mengasyikan kalau dapat berkemah barang semalam di sini. Maybe next time I’ll stay for a night.
 
Perahu Penumpang.
Mendaki Puncak.
Foto di Puncak Pulau Kenawa.
Narsis dulu.
Sabana Pulau Kenawa.
Gubuk di Pulau Kenawa.
Dengar punya cerita, nama Pulau Kenawa melejit berkat film anak-anak Serdadu Kumbang yang menggunakan pulau cantik ini di salah satu scenenya. Aku pun kepincut untuk datang ke sini berkat teman pejalan yang pamer foto Pulau Kenawa di media sosial gara-gara film tersebut. Jadi, yuk mampir ke Pulau Kenawa. (dm 14 Desember 2014)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...