Menyaksikan Upacara Tumpe di Batui

Para pria berpakaian serba merah itu tampak resah, langit mendung yang sedari tadi siang mulai menampakan gelagat memuntahkan kandungan airnya. Gerimis mulai turun tepat ketika mereka tengah berbaris dengan masing-masing memegang beberapa butir telur burung Maleo yang sudah dibungkus daun Kamunong, sejenis daun Palma. Ukuran yang besar membuatnya mudah terlihat, dan ironisnya itu juga yang membuat telur burung Maleo makin sulit didapat karena diburu banyak orang.
 
Para Pengantar Telur.
Walau ukuran burung Maleo kecil, tidak sampai sebesar ayam kampung, namun telur yang dihasilkannya bisa dua sampai tiga kali besar telur ayam. Kian hari, populasi satwa endemik Banggai ini makin sedikit. Mungkin, itu pula penyebab Upacara Tumpe yang biasanya diadakan di bulan September harus diundur ke awal bulan Desember. Kira-kira dibutuhkan 160 telur burung Maleo untuk mengadakan acara Tumpe.

Hampir setahun lebih tinggal di Banggai, akhirnya saya dapat ikut menyaksikan prosesi Upacara Tumpe. Rangkaian awal dari tradisi turun temurun masyarakat Banggai yang dilangsungkan di Batui, Kabupaten Banggai dan kemudian dilanjutkan di “kota” Banggai, Kabupaten Banggai Laut.

Sejarah Awal Mula
Dikisahkan, upacara Molabot Tumpe adalah warisan dari adat istiadat Kerajaan Banggai masa lampau sejak kepemimpinan Adi Cokro (1525-1545), raja pertama Banggai setelah mengalami kekosongan kepemimpinan yang lama. Bekas panglima perang kerajaan Ternate ini dipercaya untuk menjadi raja di Banggai dan beliau menikah dengan Putri Nursafa, putri raja Matindok di Batui. Adi Cokro, sesuai namanya memang berasal dari Jawa, seorang raja yang budiman dan baik hati sehingga Raja Matindok sangat menyayanginya dan memberinya sepasang Maleo untuk dibawa pulang ke Banggai.

Entah kenapa, burung Maleo tersebut tidak bisa berkembang biak di Banggai. Akhirnya, Abu Kasim, anak Adi Cokro dengan Nursafa, mengembalikan kedua burung tersebut ke Matindok dengan pesan ketika Maleo bertelur setiap tahunnya, maka telur pertama (tumpe) harus diantarkan ke keturunannya di Banggai. Raja Matindok menyanggupi dan melepas burung tersebut ke Bakiriang, sejak itu dimulailah adat Tumpe, pengantaran telur pertama burung Maleo ke Banggai.

Konon katanya, jika telur tersebut tidak diantar, malahan dikonsumsi terlebih dahulu oleh masyarakat Batui, akan timbul malapetaka sesudahnya. Mungkin ini adalah salah satu kearifan lokal dari leluhur untuk senantiasa menepati janji yang dulu dibuat. Salah satu bentuk cara menjaga tali silaturahmi antara masyarakat Batui dengan Banggai.
 
Arak-arakan dari Anak Sekolah.
Rumah Adat.
Pemimpin Pengantar Telur.
Bosanyo.
Pelepasan Telur (1)
Pelepasan Telur (2)
Perahu yang Membawa Telur.

Jalanannya Prosesi
Siang itu, dengan khidmat Bosanyo (Jabatan Ketua Adat Batui) memimpin jalannya upacara Tumpe dengan sambutan-sambutan dan penjelasan secara runut kisah dibaliknya dan tujuan dari kegiatan tersebut. Selanjutnya, telur-telur yang sudah dikumpulkan para perangkat adat di rumah Ketua Adat diberkati dengan doa-doa. Para pembawa telur yang berpakaian serba merah siap berbaris di depan rumah adat. Ritualnya, telur tersebut akan diantar dengan berjalan kaki ke sungai terdekat untuk kemudian diantar dengan perahu ke Banggai. Seperti festival, iring-iringan berjalan dengan meriah, tidak memperdulikan gerimis kecil yang turun dari langit. Anak-anak sekolah, perangkat adat dan desa, warga ikut mengantar telur ke perahu.

Di tepi sungai, sudah menunggu beberapa perahu yang siap mengantar ke Banggai. Menurut tradisi, jumlah pengantar berjumlah  7 orang yang terdiri dari 3 orang Tua-tua dan 4 pendayung. Tampaknya, pendayung pun sudah digantikan dengan mesin dan baling-baling. Adat istiadat yang mulai berkompromi dengan kemajuan zaman. Terlihat, di bagian paling depan terdapat perahu yang membawa alat musik pukul.

Upacara hari itu diakhiri dengan berangkatnya perahu menuju muara. Rangkaian berikutnya dilanjutkan di Banggai, sementara di Batui akan di gelar malam keramat setiap malam minggu selama tiga kali berturut-turut. Dengar-dengar, di acara keramat tersebut berlangsung sampai dini hari dan banyak orang yang kesurupan kemudian “terbang-terbang”, entah bagaimana acara sebenarnya. Semoga bisa berkesempatan untuk menyaksikannya di lain hari. (dm 31 Januari 2015)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...