Krabi, a Nice Place to Honeymoon

Menjelang pernikahan, umumnya orang akan pusing dengan persiapan prosesi pernikahaan yang ruwet dan seabrek. Tidak terkecuali diriku, pernikahan ini memang menyita sebagian waktuku, namun untungnya hanya sebagian kecil saja. Sebagian besar fokusku malah jatuh pada “rangkaian” akhir prosesi pernikahaan yang disebut honeymoon. Sengaja kumasukkan ke dalam rangkaian pernikahan, yah, agar kelihatan kerja sedikit, ikut membantu acara, hehe…

Berkendara Roda Dua di Krabi.

Akhirnya jatuh ke Krabi
Pada mulanya Krabi tidak pernah terpikir sama sekali olehku. Keinginan kami saat itu yakni hendak mengunjungi bagungan tua di Osaka, melihat Sakura, dan makan mie ramen langsung di negara aslinya, Jepang. Membaca berbagai referensi dan kondisi yang ada, sepertinya haluan harus dirubah. Pergi ke Jepang dengan passport baru kami yang belum e-passport mengharuskan mengurus visa di Jakarta terlebih dahulu. Kala itu aku masih di pelosok Sulawesi, dan calon istriku sibuk dengan S2nya, membuat kami akhirnya memutuskan mengganti tempat atau negara yang tidak memperlukan visa.
Beberapa kali beda pendapat, calon istri lebih memilih Bangkok, yang alasannya ingin mencobai Tom Yam yang asli di negara asalnya dan mengunjungi Phuket, sementara bagiku Phuket terlihat terlalu ramai, too hetic. Sebenarnya aku lebih suka gunung ketimbang pantai, bagiku pantai berkonotasi dengan keramaian.

Ketika sedang bingung, tiba-tiba teman baik (yang lebih ke arah suhu jalan-jalan buatku) menyarankan, “Ke Krabi aja, tempatnya ga ramai, mau nyebrang ke Phi Phi Island juga ga jauh.” Well, saran itu kami terima dengan baik. Krabi terletak di teluk Andaman, Thailand, sehingga masih bisa menyipipi Tom Yam dan berwisata pantai. Selain itu mayoritas penduduk Krabi (yang baru kuketahui belakangan) adalah muslim. Akhirnya kami memutuskan untuk memilih Krabi sebagai lokasi Honeymoon.

Makanan Halal, Pantai, dan Bukit Karang
Mengingat delapan puluh persen penduduk Krabi beragama Islam, tidak begitu susah untuk mendapatkan makanan halal di sini. Maka tidak heran banyak wisatawan dari Malaysia yang berkunjung ke mari. Kami pun seringnya disangka wisatawan dari Negeri Jiran tersebut. Oleh karena itu tidak usah kwatir ketika berwisata kuliner di sini. Pemilik hotel pun banyak yang muslim, sehingga sarapan yang dihidangkan dijamin kehalalannya.

Pusat keramaian Krabi berada di Pantai Ao Nang. Berderet toko oleh-oleh dan tempat makan di sepanjang tepi pantai. Seperti secuil keramaian Pantai Kuta dibawa ke sini, tidak begitu ramai, namun cukup semarak. Selain itu juga banyak penjaja makanan “kaki lima” di sini yang berjualan di atas Tuk tuk yang dimodifikasi menjadi tempat jualan. Walau bak “penjual kaki lima”, namun mereka tidak sembarang berjualan di semua tempat, sehingga tidak membuat kesan kumuh dan padat.

Bicara Krabi tentu bicara Pantai. Banyak sekali pantai yang bagus di sini, sebut saja Ao Nang, Railey Beach, Noppharat Thara, dan lain sebagainya. Tentunya pernah menonton film Holiwood yang dibintangi Leonardo de Caprio dalam judul The Beach kan, nah, lokasi yang diambil berada di Maya Beach yang masuk dalam gugusan Phi Phi Islad yang terkenal. Phi Phi Island sendiri hanya satu jam dari Krabi dengan speedboat.

Hal unik yang dapat kita lihat di Krabi menurut saya adalah kontur geografinya yang berbukit karang. Lekuk dan cadasnya bukit karang sebagai latar belakang pemandangan pantai menciptakan perpaduan yang apik dan sedap di mata. Kebetulan waktu itu kami menginap di Phu Pha Hotel, dari balkon kamar terlihat pemandangan bukit karang yang tinggi menjulang berwarna putih dengan diselingi hijaunya pepohonan. Cantik sekali.

Bentuk kontur ini dapat kita temui di sepanjang wilayah Krabi, mungkin yang paling menarik berada di Railey Beach dan Phi Phi Island. Sayang, pada bulan Agustus ketika kami pergi ke sana sedang musim peralihan dari penghujan ke kemarau, sehingga niat untuk bermalam di Railey kami batalkan. Pun trip ke Phi Phi tidak maksimal karena dari pagi sampai sore ditemani hujan dan angin kencang, alhasil kunjungan ke Maya Beach harus dibatalkan. Menurut Than, guide kami saat ke Phi Phi, waktu terbaik untuk mengunjungi Krabi berada di bulan Februari. Hmm… jadi ingin mengulang lagi trip ke sini tahun depan.

Kota Krabi yang berjarak 30 menit berkendara dari Pantai Ao Nang ini memiliki jalanan yang besar dan mulus, salah satu hal yang baik sekali dibandingkan kota-kota di negara kita. Dari sini sudah terlihat pemerintah Thailand sangat serius memperhatikan jalur transportasinya. Sebagai kota yang berjarak dua belas jam dari Bangkok via jalur darat, Krabi tidak begitu ramai.

 Ada beberapa tempat wisata yang dapat dilihat, namun pilihan kami waktu itu hanya ingin mengunjungi Tiger Cave Temple. Walau mayoritas penduduknya muslim, kuil satu ini masih terawat dengan baik. Uniknya, kuil ini dibangun di puncak bukit sehingga pengunjung yang hendak berkunjung atau berdoa harus memanjat 1237 anak tangga. Hati-hati, beberapa anak tangga memiliki kontur yang curam dengan kemiringan sekitar enam puluh derajat saja. Benar-benar menguras tenaga!

Berada di Puncak Tiger Cave Temple, kita dapat melihat kota Krabi dan sekitarnya. Impas rasanya.

Tiket Shuttle Bus Bandara Krabi-Ao Nang.

Shuttle Bus.

Taksi dari Pantai Ao Nang ke Terminal Krabi.

Self Service Mini Pom Bensin.

Harga Tiket Pantai Fosil, karena harganya yang mahal, akhirnya balik kanan tidak jadi masuk.

1237 Anak Tangga.

Menujut Puncak Tiger Cave Temple.

Bagian dari Patung Budha di Tiger Cave Temple.

Puncak Tiger Cave Temple.

Suasana Malam di Ao Nang.

Masjid di Krabi.


Menuju Krabi
Untuk menuju Krabi, kita dapat menggunakan pesawat dengan rute Jakarta-Bangkok-Krabi, dari Bandara sudah tersedia shutter bus yang siap mengantar penumpang langsung ke hotel untuk hotel di kawasan Kota Krabi atau Pantai Ao Nang. Kalau hotel berada di Railey atau Phi Phi harus disambung dengan long boat atau speed boat.

Bagi yang ingin lebih menghemat biaya dapat menggunakan moda darat dari Bangkok sekitar 12 jam. Bus destinasi Bangkok-Krabi berangkat dari shouthern terimal, berangkat beberapa kali dalam sehari  yang biasanya pada sore atau malam sehingga sampai Krabi pagi hari (bisa check di Sawadee.com). Bus malam ini berbentuk bus tingkat dengan pelayanan yang prima sekali, tergantung kelas tentunya. Dari Terminal Krabi kita dapat naik tuk tuk atau taksi (mobil bak yang dimodifikasi) seharga 50 bath.

Selama di Krabi, saya sarankan untuk segera menyewa kendaraan roda dua. Transportasi umum untuk jarak dekat atau ke kota lumayan mahal dan jarang. Jauh lebih murah jika kita menyewa sendiri. Tinggal minta tolong ke petugas hotel, dan motor akan diantar ke hotel. Simple!


Demikian sedikit cerita dan info soal Krabi. J (dm 10 September 2015)

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...