Pulosari, Gunung Kecil dari Banten

Pernah dengar Gunung Pulosari? Belum? Jika Anda berdomisili di luar Provinsi Banten, wajar saja jika belum pernah mendengarnya. Saya pun baru mendengarnya setelah tiga bulan tinggal di Cilegon, Banten. Munkin saya yang katrok dan tidak gaul, yang jelas, pendakian kali ini bukan menentukan  gunungnya terlebih dahulu baru kemudian tanggal, sebaliknya, ada tanggal kosong baru mencari ilham untuk mendaki gunung mana. Ilham kali ini jatuh ke Gunung Pulosari.

Gunung Pulosari.
Gunung Pulosari sendiri terletak di Kabupaten Pandeglang, Banten. Gunung setinggi 1.346 mdpl ini berdiri gagah di ujung barat Pulau Jawa bersama Gunung Karang dan Gunung Aseupan. Tiga puncak ini seperti membentuk sebuah segitiga terbalik kalau dilihat di peta. Gunung Karang di sebelah kanan, di kiri ada Gunung Aseupan, dan Pulosari terletak di bawahnya.

Untuk mendaki gunung satu ini cukup mudah, sayangnya sarana transportasi ke sana tidak begitu mudah jika dengan kendaraan umum. Dari Jakarta kita harus menuju Serang, dari sini berganti bus ke arah Labuan kemudian turun di pertigaan Mengger, dari pertigaan ini cari angkutan desa ke arah Pari. Di kiri jalan ada semacam gapura pintu masuk pendakian Gunung Pulosari, nah, dari sini dapat naik ojek (yang sepertinya jarang ada selain di akhir pekan) atau berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju basecamp pendakian. Lumayan buat permulaan, hehe..

Jika menggunakan kendaraan pribadi, yang tentunya lebih mudah, kita dapat meluncur dari arah Serang-Pandeglang-Labuan atau via Cilegon-Anyer-Labuan. Pada pendakian perdana saya ke Pulosari, saya memilih menyusuri Pantai Anyer mengingat domisili saya di Cilegon dan berangkat malam hari. Sepanjang jalan Anyer tentunya lumayan ramai dibanding jalur Pandeglang. Jika menggunakan kendaraan pribadi kita dapat memparkir kendaraan atau mobil di parkiran basecamp yang lumayan luas.

Tiba-tiba Pulosari
Seperti yang saya sebutkan di awal, pendakian ini bukan menentukan tempatnya terlebih dahulu, namun dari percakapan berikut:

“Sabtu minggu ini naik gunung, yuk?”
Yuk, ke mana?”
Gak tau, ada ide?”
“Ke Pulosari aja.”
Yaudah, yuk! Eh, by the way, Pulosari di mana, ya?”

Beberapa saat kemudian saya disodorin alamat situs dan dilanjut googling. Memang seringkali perjalanan yang tidak direncakan lebih besar kemungkinan untuk berhasil terlaksana daripada yang direncanakan jauh-jauh hari. J

Setelah menyusun daftar alat yang dibawa (yang semuanya kebetulan saya yang membawa), berangkatlah kami dengan kendaraan roda dua dari Cilegon. Janjian jam tiga sore molor sampai tiga jam, untung saja tidak jadi janjian jam empat sore, bisa-bisa molor empat jam nanti. Perjalanan menuju basecamp yang kurang lebih delapan puluh kilometer berdasarkan aplikasi navigasi di handphone saya patok dua jam. Namun nyatanya menjadi empat jam karena: malam hari sehingga tidak bisa melihat jalan dengan jelas karena lampu Bluemerry (nama sepeda motor saya) yang ikutan gak jelas, tidak tahu jalan, dan mencari spirtus di sepanjang jalan (akhirnya dapat beli di bengkel motor setelah menyerah mencari, fiuh).

Karena sudah larut malam, pendakian malam itu terpaksa kami tunda menjadi esok pagi saja. Istilah anak gunungnya, tek tok, berangkat pagi pulang sore. Walau begitu, peralatan lengkap seperti tenda dan alat masak tetap kami bawa, siapa tahu hendak tiduran di tengah jalan, kan, hehe.. Jalur pendakian sangat jelas, jadi bagi yang pertama kali ke sini tidak perlu kuatir tersesat.

Belakangan saya tahu ternyata Pulosari sering juga dijadikan tempat untuk ‘bertapa’ karena dianggap tempat keramat bagi kerajaan Sunda dulu. Maka tidak heran, banyak sekali warung-warung yang berjualan di air terjun atau kawah. Ohya, di tengah jalan sebelum Kawah kita akan menjumpai air terjun, sayang waktu itu sedang musim kemarau sehingga debit airnya tidak terlalu besar.

Secara total, lama pendakian yang kami tempuh cuma tiga jam saja. Sekitar dua jam menuju kawah yang jalannya landai walau agak menanjak di beberapa titik, dan satu jam menuju puncak dari kawah. Jalur satu jam terakhir ini tidak boleh diremehkan. Beberapa kali, tangan harus ikut mendaki untuk mengangkat tubuh dan berpegangan pada akar pohon. Asyik sekali.

Untuk menceritakan keindahan gunung satu ini, silahkan lihat foto-foto di bawah:

Tiket Masuk Gunung Pulosari.

Anak Kecil yang Sedang Asyik Bermain.

Warung-warung di Dekat Air Terjun.

Air Terjun.

Kawah dari Puncak.

Foto Rame-rame di Puncak.

Puncak!

Jalur ke Puncak yang Curam.

Narsis di Jalur Menuju Puncak.

Kawah Gunung Pulosari.
Untuk menuju Puncak Pulosari dari Kawah, terdapat dua jalur yang bisa digunakan: jalur air dan jalur biasa. Saya melewati yang biasa saja karena dengar-dengar tetangga, jalur air yang walau lebih cepat akan tetapi sangat menguras tenaga karena tingkat kecuramannya. Bagi saya, yang penting bisa sampai puncak sambil menikmati suasana pegunungan, hehe...

Keep clean, safe, and fun climbing. (dm, 26 Oktober 2015)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...