Dudul saat Naik Kereta

Kereta selalu menjadi moda transportasi favorit saya, apalagi kalau bukan karena jadwal yang hampir pasti tepat dan tidak terjebak macet. ya, iyalah, gak mungkin kan metromini menyerobot jalur kereta api? Yang ada tergilas, ups, semoga tidak pernah terjadi. Tidak seperti bis, kita dapat berjalan-jalan dengan bebas di dalam kereta asal tidak membawa barang dagangan, nanti bisa-bisa bukan lagi jalan-jalan, tetapi kejar-kejaran dengan Bapak-bapak satuan pengamanan, hehe..

Stasiun Bandung.
Banyak kejadian lucu (baca: tragis) yang saya alami dengan moda satu ini. Jika diingat-ingat kembali, kok bisa ya dulu kayak gitu. Dari ketinggalan kereta, salah tanggal dalam membeli tiket, atau salah membaca jam. Semua itu terjadi karena, terus terang harus diakui, kedodolanku sendiri, hikss.. Berikut kisah lengkapnya.


Salah Membaca Jam Keberangkatan
Ceritanya hendak pulang ke Semarang dengan naik kereta api Tawang Jaya dari Stasiun Senen. Untuk kegiatan yang sudah sering kali dilakukan, tentunya dengan mudah kita dapat mengkira-kira pada pukul berapa kita keluar dari rumah. Kereta berangkat pukul sebelas malam, pukul sepuluh lebih tiga puluh saya sudah tiba di stasiun. Cukuplah untuk makan dan duduk beristirahat barang sejenak, tiket juga sudah dicetak jauh-jauh hari.

Kaget bukan kepalang ternyata jam keberangkatan di tiket tertera pukul 19:45! Alamak, baru sadar ternyata dulu yang dibeli tiket kereta Menoreh, bukan Tawang Jaya. Karena semua moda transportasi yang lain sudah tidak memungkikan, terpaksa putar arah ke bandara. Hikss.. uang melayang gara-gara tidak melihat jam keberangkatan.

Tiket yang Salah Tanggal
Pernahkah kawan mengalami kejadian ini: datang ke stasiun lebih awal untuk mencetak tiket kereta secara mandiri setelah dua minggu sebelumnya membeli secara online namun terkaget-kaget ternyata tanggal yang tertera bukan tanggal hari itu. Saya pernah! Saat itu saya sedang hendak mencetak tiket perjalanan dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Gambir. Tidak ada masalah dengan jam keberangkatan, hari, ataupun nama yang tertera, semua sudah cocok! Yang jadi masalah cuma tanggal keberangkatannya masih satu minggu lagi. Argghh… mana seluruh jam keberangkatan sudah full booked, terpaksa deh menggunakan moda aspal.

Iseng di Kereta.
Lari-lari Mengejar Kereta Api
Kejadian yang ini cukup romantis kalau diingat. Persis seperti kisah-kisah di sinetron atau serial India. Malam itu kami hendak menuju Bandung dengan kereta api tujuan Jogya, Progo. Niat awalnya untuk menghemat biaya, namun apes yang didapat. Gara-gara bus yang saya tumpangi tiba-tiba ‘meledak’ mengeluarkan asap di jalan tol, saya harus berganti bus dan berpacu dengan waktu untuk tiba di stasiun on time! Mana handphone baru saja dicuri, uang pun tiada.

Pukul delapan tepat, saya tiba di stasiun, belingsatan mencari teman saya yang sudah menunggu di sana. Lari-larilah kami saling mencari satu sama lain, panik kereta sudah meniupkan peluitnya tanda akan jalan. Saat ketemu, kami spontan lari mengejar kereta yang sudah mulai berjalan. Lari yang sudah sia-sia karena kereta sudah tidak terkejar lagi. Arrghhh…!!!

Ketiduran Saat Menunggu Kereta
Ketika hendak kembali ke Jakarta dari Semarang dengan kereta malam, Matarmaja yang waktu itu masih dua puluh delapan ribu, saya mengalami kejadian dudul lainnya. Kereta Matarmaja adalah kereta ekonomi jarak jauh dari Malang menuju Jakarta, berhenti di banyak stasiun termasuk Semarang Poncol. Berangkat dari Malang pukul tiga sore, sampai Semarang biasanya pukul setengah satu malam.

Perjalanan Kereta dari Semarang ke Malang.
Setelah menjalani seharian yang amat melelahkan, saya diantar teman ke Stasiun satu jam lebih awal. Lumayan bisa istirahat di Stasiun Poncol dan kasihan teman kalau mengantar terlalu malam. Sampai pukul setengah satu, saya masih lumayan terjaga walau ngantuk bukan kepalang, namun kereta belum juga nampak. Tanya penjaga sepertinya bakal lumayan terlambat, okelah, kembali saya duduk di peron. Tak dinanya, bangun-bangun ternyata sudah pukul setengah dua. Ketiduran! Was-was dan hopeless soal kereta yang hendak saya tumpangi, bertanya kembali ke penjaga dan “Lho, keretanya sudah berangkat setengah jam yang lalu, dek.”. Arrghh… terpaksa tidur di stasiun menunggu pagi dan mengarang indah alasan apa yang bakal disampaikan ke bos kalau hari itu tidak masuk kerja. Hiks..
  
Pedagang Asongan di Kereta.

Berantem dengan Emak-emak
Jaman ketika membeli tiket kereta sudah dapat dilakukan secara online, saya selalu memilih untuk duduk di dekat jendela. Bangku A atau E untuk kereta ekonomi kursi dua-tiga dan bangku dengan huruf A dan D untuk kelas bisnis atau eksekutif. Duduk di dekat jendela tentunya lebih nyaman, bisa bersandar ke kaca jendela dan dapat menguasai colokan dan meja kecil sepenuhnya, hehe.. Kursi paling dihindari tentunya huruf B pada kelas ekonomi kursi dua-tiga. Sudah tidak bisa bersandar ke samping, kanan kiri pun ada orang lain sehingga tidak bisa bergerak bebas. Iya, kalau kanan kirinya macam Maudy Ayunda, kalau dapatnya emak-emak jorok?

Sialnya, emak-emak itu (sebagian) sepertinya tidak paham akan fungsi huruf pada deretan tempat duduk. Mereka hanya paham nomor kursi yang ditempati sudah benar, kemudian terserah mau ambil kursi yang mana. Biasanya mereka mengincar dekat jendela, seperti saya. Dan.. harus berantem terlebih dahulu untuk menjelaskan ke mereka. Kalau ibunya sudah tua dan berperilaku sopan, tentu dengan ikhlas saya mau diganti, lain halnya kalau emak-emak yang tidak sopan dan jorok. Arghh…!!! Pesan moral: usahakan masuk ke gerbong lebih awal daripada emak-emak.

Demikian beberapa kasus kedodolan yang pernah saya alami. Ketika menulis dan membaca ulang artikel ini tentu dibarengi dengan senyum-senyum simpul sendiri. Namun, percayalah, saat mengalami jangankan bisa tersenyum, pasang muka datar aja susah, hehe… (12 Desember 2015, dm)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...