Terlena di Togean (Bagian 2)

Untuk membaca Bagian 1 silahkan buka link berikut.

Sengaja saya bangun pagi-pagi sebelum matahari terbit, bergegas menyambut keluarnya sang surya dari peraduan di dermaga depan resort. Tampaknya hanya saya sendiri yang bangun sepagi itu. Hanya duduk saja menikmati suasana pagi. Sayang saya berada pada sisi pulau “bagian senja”, sisi pulau yang tidak bisa melihat matahari terbit, hanya bisa melihat matahari tenggelam. Tetapi tidak menjadi soal, pagi itu tetap terasa nikmatnya.

Berfoto dengan Anak-anak Bajo.
Snorkeling Sepuasnya
Hari kedua di Togean saya niatkan dalam hati untuk snorkeling sepuasnya di sini. Sengaja saya ajak pasangan dari Luwuk tersebut untuk patungan, bayar setengah pun tidak mengapa, ajak saya. Kami menyewa perahu untuk setengah hari, karena siangnya sudah harus mengejar perahu Pelni yang berangkat jam dua siang dari Wakai menuju Ampana.


Oleh penjaga penginapan, kami disarankan untuk melakukan snorkeling pada tiga spot saja, yakni di Danau Mariona dimana kita bisa bercumbu dengan ubur-ubur yang sudah tidak beracun, ke Pantai Karina yang indah, dan terakhir di Pulau (duh saya lupa namanya, mungkin karena tempatnya biasa saja tidak seindah dua tempat sebelumnya namanya tidak tertanam jelas di ingatan, hehe..). Maka meluncurlah kami dengan perahu kecil bermotor dua, bunyi nyaring mesin kapal tidak mengurangi rasa takjub saya akan pesona Togean.

Ohya, Kadidiri Paradise mempunyai ‘dermaga tersembunyi’ yang dari jauh tidak kelihatan, pintu masuknya pun lumayan sempit dan saat air surut, butuh kejelian untuk dapat lewat tanpa merusak koral atau terumbu karang. Saat itu sepertinya hanya kami bertiga dan Bapak Perahu yang membelah perairan Togean, sepi sekali, hanya debur ombak dan bunyi mesin yang terdengar.

Sampai di spot pertama, Danau Mariona, saking sepinya awalnya kami sempat ragu-ragu untuk terjun ke danau. Bagaimana tidak, warna danau yang kehijauan dengan dasar yang tidak terlihat dan penuh ubur-ubur sebesar piring berkeliaran dengan bebas. Takut dan was-was, apalagi Bapak Perahu tidak ikut ke Danau, hanya duduk santai menunggu di perahu. Karena sudah kepalang tanggung datang jauh-jauh dari Luwuk, terjunlah kami berdua, si pasangan yang cowok tidak bisa berenang. Jadilah kami dua sejoli berenang-renang bebas dengan ubur-ubur.

Awalnya masih takut-takut untuk memegang ubur-ubur, geli-geli gimana gitu, tapi lama kelamaan malah mencari-cari ubur-ubur paling besar yang bisa ditemukan untuk diajak berfoto, hehe.. Tetapi tetap saja kami berdua tidak berani dari dermaga kecil di pinggir danau. Danau Ubur-ubur ini luasnya juga tidak terlalu besar, mungkin hanya sebesar setengah lapangan bola. Setelah hampir setengah jam, kami berpindah ke spot snorkeling yang kedua, tidak berani berlama-lama di sini, hehe..

Pantai Karina yang belakangan saya ketahui menjadi salah satu primadona snorkeling di Togean tidak jauh dari Danau Mariona, masih di pulau yang sama. Agak kaget juga waktu sampai di pantai, ternyata ada puluhan anak-anak Suku Bajo yang sedang asyik berwisata. Masih kecil-kecil, mungkin kelas dua atau tiga SD, tetapi jangan tanya soal kehebatan berenangnya, beuh, saya saja kalah. Mereka juga berenang tanpa alat bantu, sementara saya berenang dengan google.

Pantai Karina hanya berupa ceruk kecil dengan pasir yang amat putih, namun daya tarik utamanya terletak seratus meter dari bibir pantai: hamparan koral yang indah! Asyik sekali kami berenang di sini, puas rasanya. Selain ini pengalaman pertama saya snorkeling tanpa pelampung, ini juga pengalaman pertama snorkeling di laut bebas, jauh dari bibir pantai (jauh menurut definisi saya tentunya, hehe..). bolak-balik saya berenang mengitari koral-koral tersebut, menikmati ikan-ikan yang berlalu lalang di bawah saya. Mungkin ada satu jam saya berada di air, satu rekor lagi, snorkeling terlama saya!

Setelah asyik berenang kami sempatkan untuk istirahat di pantai, bercanda ria dengan anak-anak Suku Bajo tersebut. Tak lupa berfoto bersama tentunya. Setelah asyik di Pantai Karina, kami menuju spot snorkeling ketiga yang saya lupa namanya, lokasinya agak jauh, namun tidak begitu jauh dari pulau tempat kami menginap. Seperti yang sudah saya utarakan di atas, spot yang ini biasa saja, mungkin karena sedang surut makanya tidak begitu terlihat keindahannya, kami pun jadi agak susah untuk berenang karena terlalu dangkal. Di pulau ini juga terdapat bekas penginapan yang sudah tidak terpakai lagi.

Kira-kira pukul sebelas kami bergegas pulang ke penginapan untuk mandi, makan siang, dan kembali ke Wakai.

Pulang
Rasanya dag dig dug ketika perahu mengarungi lautan menuju Wakai dan waktu sudah menunjukan pukul jam dua kurang lima belas. Memang kami tadi berangkat agak terlambat, setengah dua dan kapal berangkat pukul dua. Makin was-was ketika sampai di dermaga Wakai ternyata kapal Pelni tidak berlabuh di situ, ada di sisi lain pulau yang berjarak kurang lebih setengah kilometer. Waktu menunjukan jam dua kurang sepuluh!

Jadilah kami berlari-lari sepanjang jalan kampung demi mengejar kapal. Setelah ngos-ngosan dan berkeringat, dan meninggalkan pasangan tersebut di belakang yang entah kenapa si cowok hanya berjalan santai, saya sempat kebingungan mencari loket penjualan tiket kapal. Ternyata, loket hanya berupa satu meja kecil dengan satu kursi yang terletak di dalam geladak kapal. Mana tidak ada antrian, hanya kerumunan beberapa orang, haha.. santai sekali.

Setelah membeli tiket, saya pergi ke atas mencari kursi yang saat itu lumayan lengang. Duduk manis menunggu kapal berangkat yang.. eng ing eng… baru berangkat setengah jam kemudian, haha… kenapa juga tadi harus lari-lari. Tampaknya karena mental pekerja yang sudah mendarah daging, jadi sedikit parno kalau harus bermalam sekali lagi karena ketinggalan kapal dan besok tidak bisa masuk kerja.
 
Pagi di Togean.

Keluar dari Deramaga di Kadidiri.

Dermaga Danau Mariona.

Danau Mariona.

Bersentuhan dengan Ubur-ubur.

Berenang di Danau Ubur-ubur.

Pantai Karina.

Keceriaan Anak-anak Bajo.

Berfoto di Depan Perahu.

"Loket" Kapal Pelni.

Sayang hanya bisa semalam berada di Togean, lain kali harus bisa ke sini lagi dan agak lama sedikit! Sampai bertemu lagi, Togean. (dm 12 Februari 2016)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...