Wisata Murah [Sekali] dengan Kereta Api

Minggu Senin kemarin, pertama kalinya saya mencoba berwisata murah dengan kereta api. Berada di Kota Cilegon yang lumayan jauh dari Ibukota membuat sarana transportasi menjadi bukan barang yang murah. Dari membuka beberapa laman internet, baru saya ketahui ternyata ada kereta api yang rutin beroperasi dari Merak ke Jakarta, malahan ada empat kali perjalanan setiap harinya. Dari situlah terbesit ide untuk jalan-jalan dengan kereta api.

Suasana di Dalam Commuter Line.
Tujuan jalan-jalan kali ini memang tempat wisata yang sudah terkenal umum dan berlokasi dekat dengan stasiun kereta. Iyalah, karena saya hendak menggunakan moda kereta api, tentunya lokasi tujuan pun harus disesuaikan, malas juga kalau harus berganti moda aspal selama berjam-jam. Terdapat dua lokasi yang menjadi tujuan saya: Kota Tua dan Kebun Raya Bogor kemudian sambil menikmati Kota Bogor di malam hari.


Rute Perjalanan
Relasi kereta yang berangkat dari Merak (saya naik dari Cilegon) tidak ada yang langsung menuju Kota Tua yang lokasinya sangat dekat dengan Stasiun Kota atau orang dulu bilang Stasiun Beos. Dari Merak hanya ada yang langsung ke Stasiun Muara Angke (Banten Express) dan Tanah Abang (KA Kalimaya) atau Stasiun Senen yang dilanjut ke Kediri Jawa Timur (KA Krakatau). Untuk melihat jam keberangkatan dapat melihat pada gambar di bawah:

Jadwal Pemberangkatan dari Stasiun Cilegon.
Saya memilih pemberangkatan pukul 06.22 pagi dengan asumsi agar tidak terlalu sore tiba di Kota Tua dan agar tidak kemalaman sampai di Bogor. Tiket Banten Express yang saya naikin terbilang murah sekali, hanya delapan 8,000 rupiah! Bandingkan dengan tiket bus yang bisa mencapi 35,000 rupiah, itupun masih harus disambung angkot. Singkat cerita, setelah menitipkan sepeda motor di penitipan parkir bermalam yang  9,000 per malam, membeli gorengan untuk sarapan, berangkatlah kami menuju Jakarta. Ohya, tiket kereta ini tanpa tempat duduk, jadi berangkatlah pagi-pagi dan dari stasiun awal untuk dapat tempat duduk.

Karena Stasiun Kota tidak dilewati oleh KA Banten Express, ada dua opsi untuk menuju Stasiun Kota: Turun di Stasiun Palmerah naik Commuter Line sampai Stasiun Manggarai kemudian berganti Commuter Line yang menuju Kota atau opsi kedua turun di Stasiun Muara Angke sambung Commuter Line ke Kampung Badan kemudian naik Kereta relasi Tanjung Priok-Jakarta Kota yang berangkat tiga kali sehari. Saya memilih opsi yang pertama karena kereta terdekat yang berangkat dari Priok baru pukul setengah satu sementara KA Banten Express sampai di stasiun akhir diprediksikan pukul sepuluh pagi. Memang agak memutar, tetapi jumlah keberangkatan jelas lebih banyak.

Ohya, tips penting bagi pemula seperti saya ketika naik Commuter Line: Belilah tiket single trip stasiun tujuan Anda, bukan stasiun persinggahan, karena tiket dihitung sebagai tiket terusan sehingga tidak perlu mengantri lagi di stasiun persinggahan. Lebih hemat waktu dan uang. Jangan sampai kita kena denda karena turun di Stasiun yang lebih jauh dari tiket stasiun yang Anda beli. Alternatifnya dapat kembali ke stasiun tujuan Anda, namun tentu akan memakan waktu, kecuali Anda membeli tiket multiple trip.

Sampai di Kota Tua, ada sedikit perasaan menyesal, ramainya minta ampun! Baru ingat hari itu longweekend yang bertepatan dengan libur Imlek. Terowongan penghubung Stasiun Kota ke Halte TransJakarta penuh sekali, sampai harus mengantri di pintu keluar. Halaman Depan Museum Fatahilah pun tidak kalah ramainya hingga membuat malas untuk masuk ke dalam museum. Mencari tempat yang teduh dan tidak begitu ramai untuk makan, kami putuskan untuk masuk ke Café Batavia, tempat yang ikonik sekali di sini. Memang mahal, namun tempatnya asyik dan makanannya juga lumayan enak. Jadilah kami hanya bersantai di dalam Café sambil bercakap santai.

Menuju Bogor
Mengantri tiket Commuter Line ke Bogor adalah salah satu penderitaan lainnya, penuhnya minta ampun! Memang sebaiknya tidak berwisata saat liburan seperti ini, yah nasib buruh pabrik. Mungkin lain kali hal ini dapat disiasati dengan membeli tiket multiple trip dan top up dengan saldo yang banyak agar tidak perlu antri berdesak-desakan. Anyway, setelah antri hampir 15 menit, terbelilah tiket menuju Bogor seharga 5,000 rupiah.

Perjalanan menuju Bogor ditempuh kurang lebih satu setengah jam, bandingkan jika menggunakan moda aspal, tentu dapat tiga atau empat kali lipat waktunya. Tips lainnya untuk mendapatkan kursi, mengantrilah pada gerbong yang tidak banyak orang yang sedang mengantri, agar tidak banyak saingan saat masuk ke gerbong. Kemudian, jangan pilih Priority Seat, kecuali Anda tidak punya malu, tentunya Anda harus memberikan ke yang berhak saat ada penumpang dimaksud.

Sampai di Bogor kami mencari penginapan yang murah meriah, pilihan kami jatuh pada Hostel Cendana Mulia Bogor. Ada dua lokasi, kami memilih yang di Jalan Padjajaran yang paling mudah dicapai dari Stasiun Bogor, cukup dua kali naik angkot. Selain bersih, hostel ini juga menawarkan kamar dorm seharga 130,000 rupiah per malam atau satu kamar 230,000 rupiah, karena berdua dan sudah menikah, saya pilih yang kamar saja, hehe..

Saatnya bersantai di Kota Bogor, untuk malam hari kami putuskan pergi ke Botani Square, menonton Leonardo de Caprio dalam filmnya yang terbaru serta menikmati secangkir kopi panas. Baru besok paginya setelah menghabiskan sarapan dan check out, kami pergi ke tujuan utama kami: Kebun Raya Bogor. Hehe.. sepertinya memang terkesan santai sekali, satu hari satu destinasi tujuan, memang kali ini kami hanya ingin bersantai di satu tempat menghabiskan waktu untuk bercakap dan membaca buku. Nikmat sekali.
  
Tiket KA Banten Express.

Stasiun Palmerah.

Dinding di Cafe Batavia.

Kota Tua.

Antrian Commuter Line di Stasiun Kota.

Tiket Masuk ke Kebun Raya Bogor.

Mari Jalan-jalan!

Jembatan Merah.

Ice Cream yang Murah Meriah, cuma 3,000 perak!

Hujan Saat Hendak Pulang.
Perjalanan Pulang
Untuk pulang ke Cilegon, kita dapat menggunakan moda yang sama dengan KA Banten Express yang berangkat dari Muara Angke jam 14.20 atau KA Kalimaya jam 16.00 dari Tanah Abang, namun berhubung sore itu kami ada janji bertemu dengan kawan lama, kami mencoba menggunakan KA Krakatau yang tiba di Stasiun Senen pukul 23.20 dengan tarif 20,000 rupiah. Namun, karena rasa malas harus menunggu sekitar lima jam di Stasiun Senen (dengan asumsi sampai Senen jam 18.00 jika kami berangkat dari Bogor jam 16.30), akhirnya kami memilih ospi ketiga: naik Commuter Line sampai Serpong untuk berganti dengan moda aspal ke Cilegon. Yah, melenceng sedikit dari rencana semula tidak apa-apa.


Perjalanan dengan kereta memang murah meriah, namun harus siap berdesak-desakan dan berdiri sepanjang perjalanan, namun tetap saja menarik karena kita dapat bersentuhan langsung dengan kaum urban yang setiap hari menggantungkan hidupnya dengan kereta api. Keep travelling. (dm 16 Februari 2016)

3 comments:

  1. Sudah lama gak naik kereta kalau ke Jakarta, dulu sekira tahun 2013an masih sampai ke BEOS naik kereta dari Serang. Sekarang sudah tidak ya. Cuma lama juga sampainya tapi terbayar dengan pemandangannya.

    ReplyDelete
  2. Kapan lagi yak liburan murah meriah heheehe

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...