Menembus Rapatnya Gunung Aseupan

Satu lagi gunung di Banten yang asyik untuk didaki, Aseupan namanya. Gunung setinggi 1,174 mdpl ini terletak di Kabupaten Pandeglang. Gunung ini menjadi satu rangkaian dengan Gunung Karang dan Gunung Pulosari, membentuk semacam segitiga terbalik. Memang tidak tinggi, hanya seribuan meter saja, namun jangan tanya tentang kondisi jalur pendakiannya, beuh, garang!

Menuju Puncak Aseupan.
Selain faktor topografi yang memang membuat susah untuk didaki, hampir tidak ada jalur yang landai, jarangnya pendaki yang mencoba gunung satu ini tak ayal menjadikan vegetasinya rapat seperti hutan perawan. Jalur memang sudah ada, kita tidak perlu membuat jalur baru untuk menuju puncak, namun tetap saja: alang-alang, tanaman berduri, bahkan pohon yang tumbang harus kita lewati.

Bertemu dan Memulai Pendakian
Jika membaca artikel tentang gunung satu ini, memang tidak begitu banyak. Info yang ada cukup minim. Itulah yang membuat saya belum berani mendaki buta gunung, minimal mengajak teman yang sudah pernah ke sana. Memang dasar beruntung, saat naik ke Gunung Karang, saya bertemu dengan Asep, pendaki dari Tangerang yang kebetulan sudah pernah ke Aseupan. Gayung pun bersambut, jadilah saya ke Aseupan. Inilah yang disebut gunung membawa teman membawa gunung, hehe..

Menurut beberapa tulisan, dibutuhkan empat jam, bahkan ada yang menyebutkan enam jam menuju Puncak. Ditambah pengalaman Asep, kami memutuskan untuk memulai pendakian pada pagi hari dan turun pada sorenya. Agar dapat memulai pendakian pada pagi hari, kami berencana  bermalam di Basecamp Gunung Pulosari yang kebetulan berdekatan dan ada tempat untuk menginap  yang gampang. Setelah janjian ini itu, berkumpulan kami pada pukul sebelas malam di situ. Setelah saling berkenalan, saya membawa satu teman yakni Lei dan Asep pun membawa satu teman juga, Aji namanya.

Ternyata jarak dari Basecamp Pulosari ke desa terakhir Gunung Aseupan lumayan jauh, jalannya juga penuh lubang dan licin. Kami menuju ke Desa Kedung Hejo, desa yang biasa dijadikan titik mula pendakian. Karena saking jarangnya didaki, Aseupan tidak seperti Pulosari yang memiliki basecamp, malah seperti naik gunung di Jawa Tengah era dulu, hanya izin ke sesepuh desa setempat.

Aseupan memiliki tiga puncak dengan masing-masing jalurnya, dan ternyata rute yang kami hendak daki juga baru pertama bagi Asep, jadi kami berempat tidak ada yang tahu jalur. Oke.. Just do it!

Kedung Hejo-Pos 4
Setelah bertanya-tanya pada pemilik rumah yang kami titipi sepeda motor yang ternyata hanya bisa berbicara Bahasa Sunda (saya jadi teringat saat ke  Raung yang mana saya bertanya ke nenek-nenek yang cuma bisa berbicara Bahasa Madura, hehe..) kami diarahkan lewat jalur pematang sawah saja karena tiadanya percabangan. Karena tidak ingin tersesat, kami menginyakan saja.

Dari warga kami ketahui juga Gunung ini terakhir didaki empat bulan yang lalu, fiuh.. semoga jalannya masih jelas. Jalur mula pendakian kita akan melewati pematang sawah yang kemudian menyebrang sungai kecil, baru kemudian jalan menanjak sekitar 40-70 derajat sampai seterusnya, hehehe…

Sebenarnya kalau hanya jalan yang menanjak sudah biasa kami lewati, yang namanya gunung tentu menanjak. Namun jika ditambah harus menerobos rimbunnya tanaman berduri dan pohon, tentu lain cerita. Jalur yang kami lalui seperti sudah lama sekali ditinggalkan. Pada beberapa bagian malah tidak terlihat sama sekali jalan setapak sehingga terpaksa kami mencari-cari jalur yang benar, yakni yang ke atas. Sepertinya pendaki terakhir yang naik Aseupan tidak lewat jalur yang kami lalui, namun jalur satunya yang lebih jelas.

Setelah penuh perjuangan menerobos, membungkuk, dan memanjat, setelah dua setengah jam perjalanan, sampailah kami di Pos 4. Kaget bukan kepalang karena dari tadi kami tidak melewati Pos 1, 2, atau 3. Kemudian baru ketahui ternyata Pos 4 adalah persimpangan antara jalur lama dan baru. Sial, pantas jalannya seperti itu. Di Pos 4 lumayan lapang untuk standar Aseupan, cukup untuk dua tenda kecil.

Pos 4 – Puncak – Petir!
Jika berpikir jalur selanjutnya bakal enak karena sudah menemukan jalur yang semestinya, Anda salah besar. Jalur berikutnya lebih menanjak dan rapat. Kemiringan dari Pos 4 ke Puncak bervariasi antara 60-90 derajat, ya kadang kita harus memanjat akar-akar pohon. Tanaman dan alang-alang makin rapat sehingga makin menyusahkan melangkah. Harus ekstra hati-hati saat melangkah karena kita lewat di punggungan yang kecil, sehingga kalau salah melangkah bisa terperosok jurang. Beberapa jalur lewat di atas akar dan ilalang, bukan tanah dan batu. Asyik tapi tegang, hehe..

Serasa sudah putus asa karena jalur yang dilewati tidak ada akhirnya, sejam kemudian akhirnya kami sampai di Puncak 1,174 mdpl. Total perjalanan yang kami tempuh 3,5 jam dari ‘basecamp’ ke puncak. Masih kalah setengah jam dari warga lokal yang katanya cuma 3 jam untuk ke Puncak. Not bad…

Bagi saya, Puncak Aseupan jelek. Apalagi saat itu kabut tebal dan mendung, sehingga kami tidak bisa melihat pemandangan sekitar. Puncaknya pun kecil saja, hanya berukuran 5 x 1 meter saja. Di ujung satunya akhir jalur yang dilalui dan ujung satunya ada makam dengan nisan yang dibalut kain kafan. Entah siapa yang bersusah-payah memakamkan di sini, pikir saya. Pemandangan unik bagi saya hanya banyaknya capung yang terbang di puncak, baru kali ini saya melihat. Ohya, sepanjang jalur ke puncak kita akan menjumpai tanaman Kantong Semar yang tumbuh dengan bebas bahkan di tengah jalur yang kita lewati.

Belum sempat kami berfoto-foto mengabadikan momen di Puncak, hujan sudah deras turun dari langit. Segera kami memakai raincoat dan menutup tas dengan flysheet sambil makan cemilan di bawah guyuran hujan. “Duar..”, tak lama terdengar geledek petir dari kejauhan yang makin lama makin keras! Waswas tersambar petir di puncak yang penuh ilalang, berbegas kami turun ke tempat yang penuh pepohonan agar tidak menjadi sasaran empuk petir.

Teringat saat di Lawu dan mendengar cerita pendaki yang tersambar petir di Guntur, sedikit berlari dan baru beristirahat di pepohonan menunggu rekan yang masih di belakang. Ketika melewati daerah yang terekspos, lari-lari kecil, begitu terus sampai menemukan rimbunnya pepohonan. Untung saja kami langsung turun, tidak berapa lama kilat dan petir menyambar di belakang dengan kerasnya. Kaget bukan kepalang.
 
Halaman Belakang Rumah Tempat Menitip Sepeda Motor.
Menyebrang Sungai.
Jalur Menuju Pos 4 (1)
Jalur Menuju Pos 4 (2).
Jalur Menuju Pos 4 (3).
Kantong Semar yang Banyak Dijumpai di Jalur ke Puncak.
Penampakan Pos 4, Ada Persimpangan di Sini.
Penampakan Pos 3.
Penampakan Pos 2.
Penampakan Pos 1.
Melewati Pohon Rubuh di Jalur Pos 4 - 3.
Serangan Pacet.
Banyak Capung di Puncak.
Puncak Aseupan!

Sejam berikutnya kami sudah sampai di Pos 4, beristirhat sejenak untuk makan dan membuang pacet yang menempel di kaki, ya, tidak terasa hewan kecil penghisap darah ini sudah banyak menempel dengan asyiknya. Pada saya saja dua berhasil kena tangkap sedangkan tiga lainnya hanya meninggalkan bekas gigitan dan darah. Untuk jalur turun dari sini, kami memilih jalur yang lebih manusiawi, lewat jalur yang semestinya.

Pukul empat sore kami sampai di bawah, yang ternyata Desa Serang Parang (kalau tidak salah dengar), desa ini bersebelahan dengan Desa Kedung Hejo tempat kami menitipkan sepeda motor. Terpaksa berjalan lumayan jauh kembali ke Kedung Hejo. Setelah numpang mandi dan istirahat, saatnya berpisah dengan Aseupan. See u, keep safe, clean, and fun climbing, guys! (dm 18 Maret 2016)

13 comments:

  1. This post is so important to find while there were just short of information about this mountain on google... thanks for sharing your trip bro...

    ReplyDelete
  2. Wuihh keren banget ya, saya kalau ke Pulosari suka lihatin gunung ini, cuma satu kendala saya yakni jalurnya masih sepi. Dan saya fobia lintah 😃 pacet termasuk ya hehe. Mau lanjut baca postingan lainnya nih dari blog kakang.

    ReplyDelete
  3. kereen thanks fofo n ceritanya..

    ReplyDelete
  4. Meskipun gunung hasepan ada di daerah saya. Saya belum coba ke Gunung hasepan. Wah keren juga nih jadi pengen. Paling Pulosari yang sering di daki.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh maaf sebelumnya, namanya yang benar Aseupan atau Hasepan ya?

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. tempat ngecamp nya di pos berapa ya trus simaksi nya ngurus dimana
    terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga ada pos-posan, cari aja tempat yang landai. Ga ada basecamp juga.

      Delete
  7. Punya kontak basecamp gn.aseupan ga? Kalo ada tolong di kirim ke email muhaly8@gmail.com

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...