Menggapai Ciremai dari Apuy

Faktanya, saya sudah pernah ke Ciremai dan tujuan sana mengulang mendaki gunung ini cuma agar punya foto di Puncak 3,076 mdpl, hehe.. Sebab lain, sebagai pengganti kekecewaan karena pendakian ke Gunung Tanggamus, Lampung, yang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari, batal pada detik-detik terakhir. Ciremai menjadi pelampiasan semata, pelampiasan yang indah. :D

Puncak Ciremai yang Ramai.
Saya beruntung mempunyai teman mendaki yang sejenis dan bisa diandalkan, Lei namanya. Ketika rencana yang sudah jauh hari disepakati tidak terlaksana, kami berdua langsung oke ketika ide mendaki Ciremai terlintas. Karena itu pula, kami masih bingung hendak mendaki dari jalur mana. Agak geli juga ketika ada pendaki lain yang bertanya kami hendak mendaki via mana, mereka terheran karena kami belum tahu hendak menggunakan jalur mana, notabene kami sudah di dalam bus yang menuju Cirebon.

Ketika tahu rombongan pendaki tersebut hendak menggunakan Jalur Apuy yang katanya lebih landai daripada via Palutungan dan Linggarjati, kami langsung tergoda dan mengekor mereka. Lumayan, ada yang bisa diajak patungan carter mobil.

Menuju Apuy
Berangkat pukul delapan malam dari Terminal Kampung Rambutan menggunakan bus Kuningan yang sempat tiga kali bolak-balik Rambutan-Pasar Rebo, kami sampai pada pukul tiga dini hari di Cirebon. Untuk menuju Apuy yang masuk dalam Kabupaten Majalengka, kita harus turun di Pertigaan Palimanan untuk ganti elf menuju Pasar Maja dan ganti mobil Pick Up yang banyak menawarkan diri untuk membawa ke Pintu Pendakian Apuy.

Sempat kaget dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mendaki Gunung Ciremai sekarang ini, untuk pendaki domestik dikenakan biaya lima puluh ribu yang katanya sudah termasuk sertifikat dan souvenir. Di sisi lain, pelayanan yang diberikan cukup memuaskan: setiap pendaki dibekali satu tas plastik untuk membawa sampah turun kembali, pemeriksaan di awal dan akhir, dan jalur pendakian yang bagi saya cukup bersih. Namun sepertinya gunung tertinggi di Jawa Barat ini belum menerapkan sistem kuota untuk menjaga ekosistem dari menggeliatnya kegiatan pendakian akhir-akhir ini.

Untuk Ongkos Pendakian sebagai berikut:
Ongkos bus Jakarta-Cirebon: Rp. 80,000;
Carter Elf Palimanan-Majalengka: Rp. 450,000-500,000 bisa diisi sampai 20 orang;
Carter Pick Up ke Pintu Pendakian (Pos 1): Rp. 25,000-30,000 per orang.
Tiket Masuk: Rp.50,000 bonus sertifikat (yang entah buat apa) dan oleh-oleh, jika tanpa itu semua dapat dinego menjadi Rp. 35,000.

Menuju Puncak
Pintu Pendakian Apuy ternyata menjadi Pos I dari rangkaian jalur menuju puncak. Sepertinya dulu, basecamp masih berada di bawah, cuma karena jalur ke Pos 1 sudah dibeton dan dapat dilalui mobil pick up, jadilah warga sekitar menawarkan transportasi untuk menghemat waktu tempuh pendakian, lumayan bisa mengurangi satu dua jam perjalanan.

Membawa perbekalan secukupnya tanpa proses masak yang ribet, air masing-masing 3 liter, tenda dan peralatan dasar lainnya membuat kami berdua dapat berjalan dengan santai. Saya memakai daypack 28L dan Lei membawa keril kecil kapasitas 25L. Kami memang hanya berencana untuk semalam saja di Ciremai. Untuk menuju Pos V, target kami untuk mendirikan tenda, kami membutuhkan 4.5 jam perjalanan.

Jalur pendakian asyik sekali, lumayan berbeda dengan Palutungan yang agak terjal. Vegetasi masih rapat dan banyak akar-akaran yang dapat dijadikan pegangan pada beberapa titik. Mungkin karena bawaan yang sedikt, kami bisa menyalip banyak sekali rombongan pendaki di depan. Pukul setengah dua belas kami sampai di Pos V, mendirikan tenda dan bersantai menikmati waktu sambil membaca buku. Indahnya…

Summit attact pagi itu berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Kami memulai pendakian pada pukul setengah lima pagi dan sampai di Puncak satu jam kemudian. Jalur agak susah dilewati karena kondisinya yang berbatu dan pasir, namun yang membuat agak lama tidak lain karena banyaknya pendaki yang hendak menuju puncak pagi itu. Terpaksa kami harus ikut mengantri menuju puncak.

Pagi itu Puncak Ciremai cukup cerah dengan awan nakal yang sedikit menghalangi kami mendapatkan sunrise yang bersih. Di atas masih tampak bintang berkelip samar-sama di antara awan pagi. Dinginnya pagi memaksa kami membuat minuman panas untuk menghangatkan badan sambil menunggu matahari terbit. Nikmat sekali..
 
Mobil Pick Up yang Kami Tumpangi Masuk Parit.

Pos I yang juga Pintu Masuk Apuy.

Pos II.

Pos III.

Pos IV.

Pos V.

Plastik dari Petugas di Pos I.

Me at Top!
Lei di Puncak.

Turunan dari Puncak.

Pos Goa Walet.

Persimpangan Palutungan vs Apuy.

Turunan ke Pos V.

Pentingnya Perlengkapan Keselamatan!
Setelah asyik berfoto-foto, setengah tujuh kami turun kembali ke bawah. Berjalan santai karena waktu yang masih panjang. Pada pertengahan jalan menuju Pos V, kami bertemu dengan pendaki lain yang berteriak minta tolong karena ada temannya yang terluka, mencari bantuan bagi yang membawa obat pertolongan pertama.

Dibesarkan di Organisasi Korps Sukarela, membawa Kotak Pertolongan Pertama (Kotak P3K, istilah lama yang masih saja dipakai) adalah tindakan wajib bagi saya. Langsung saja saya memberikan pertolongan pertama pada kepala pendaki muda yang mengalami perdarahan kecil karena terbentur kayu saat mendaki ke atas. Memberikan obat agar tidak infeksi dan menutup luka agar darah berhenti mengalir menjadi prioritas saya. Agar lebih mantap, saya balut dengan kasa steril.

Hal ini tentunya harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu mempersiapkan alat pertolongan pertama pada setiap pendakian dan pastikan dalam satu kelompok kecil tersedia, lebih bagus lagi jika setiap orang membekali dirinya masing-masing.


Sampai bertemu lagi Ciremai, keep safe, clean, and fun climbing! (dm, 1 Agustus 2016)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...