Akhirnya Bisa Lihat Kawah Dempo

PadaFebruari 2010, bersama rekan dari Malang saya mendaki Gunung Dempo, yang bagi saya kala itu adalah pendakian yang benar-benar melelahkan. Saking lelahnya, hanya bisa sampai puncak dan turun ke lembah, tidak sanggup lagi untuk meneruskan sampai ke Kawah Dempo. Tujuh tahun kemudian, pada bulan Maret 2017, saya memberanikan diri mengulang pendakian Gunung Dempo.

Sebelum Shelter 2.
Pada pendakian kali ini, saya ditemani rekan dari Jakarta dan Garut. Berempat dan berkat promo moda pesawat terbang Lion Air (yang belakangan agak kami sesali), berangkatlah kami ke Pagaralam, kota kecil berjarak kurang lebih delapan jam dari Palembang. Sesuai namanya, Pagaralam dikelilingi oleh bentangan alam pegunungan yang sangat memanjakan mata. Gadis-gadisnya pun tidak kalah sejuk di mata. #eh

Akhirnya Ngemper di Bandara
Pada perjalanan kali ini, kami memanfaatkan adanya libur di hari selasa, sehingga banyak orang yang memanfaatkan long weekend tersebut dengan mengambil cuti di hari seninnya. Alhasil, bandara penuh, penerbangan pun sibuk sekali. Sedikit rasa cemas ketika hendak menuju Bandara Soekarno Hatta, terlebih maskapai yang kami pilih sudah terkenal dengan pelayanan yang kurang prima ke konsumen.

Jrengg!!! Benar saja, ketika ketiga teman saya check in yang masih satu setengah jam dari jam keberangkatan, petugas memberitahu kami bahwa penerbangan kami sudah penuh dan check in sudah ditutup. Kami pun diarahkan ke Customer Service yang rupa-rupanya sudah penuh sesak dengan penumpang lain yang bernasib sama dengan kami. Bahkan, ada penumpang ke arah Medan yang baru diberitahu di bandara bahwa penerbangannya ditunda ke esok hari. Emang gila ini Lion, seenak udel sendiri.

Nasib saya lebih apes lagi, karena sudah web check in, saya merasa masih cukup waktu untuk menemani teman saya mengurus perubahan jadwal penerbangan ke esok hari. Setengah jam sebelum jadwal pesawat berangkat, saya langsung ikut antrian yang panjang untuk memasukan keril ke bagasi. Melihat ada penumpang yang langsung ke counter karena sudah web check in dan dikejar waktu, saya langsung mengekor. Jreng, ternyata sudah tidak bisa menaruh barang di bagasi dan saya diminta untuk lari ke ruang tunggu F4.

Berlari dan eyel-eyelan dengan petugas imigrasi karena saya membawa frame tenda (pisau lipat sudah saya titipkan ke teman yang berangkat besok), yang akhirnya diperbolehkan dibawa masuk. Ketika datang ke ruang tunggu F4, ternyata dialihkan ke F6, jreng! Sampai F6, ternyata pesawat sudah berangkat 15 menit lebih cepat daripada jadwal yang tertera di tiket saat beli. Jreng! Jreng! Saya diminta ke customer service untuk dialihkan ke penerbangan esok hari dan harus menambah biaya penerbangan 400k, padahal harga tiket promo saya 250k, dan ketiga teman saya tidak perlu mengganti, hanya saya saja. Jreng! Jreng! Jreng!

Dan malam ini kami pun ngemper di Bandara Soekarno Hatta, karena duit mepet, Nasib.

Akhirnya Pagaralam!
Tidak mau mengulang kesalahan yang sama, pesawat berangkat jam 9 pagi, jam 6 kami sudah mengantri manis di meja counter check in. Lebih baik lama menunggu di ruang tunggu daripada sesal kemudian. Memaki-maki pun tidak ada gunanya, ada uang ada kualitas. Tanpa banyak drama, pukul sebelas siang kami sudah mendarat di Palembang, lanjut dengan travel Palembang-Pagaralam seharga 130k.

Kira-kira pukul 8 malam kami sampai di Rumah Pak Anton yang bersebelahan dengan PTPN III, Pagaralam. Suasana sudah gelap, guyuran hujan menambah sepi malam itu. Karena sudah 7 tahun berlalu, beberapa kali kami sempat salah jalan dan harus bertanya ke penduduk sekitar. Namun, keramahan yang kami terima masih sama dengan yang dulu, Pak Anton masih bersemangat menyambut para pendaki muda dan menyediakan rumahnya sebagai tempat bermalam.

Setelah berhasil merubah jadwal penerbangan balik dari Palembang ke Jakarta yang penuh drama (baca: emosi tingkat dewa) dengan petugas call center Lion Air dan menikmati sepiring nasi goreng, kami pun melepas lelah dalam kantong sleeping bag.

Akhirnya Mendaki Lagi!
Agar menghemat waktu pendakian, kita dapat mencarter truk sayur dari PTPN III ke Kampung IV seharga 20k per kepala. Terbayang dulu saya harus memulai pendakian dari Rumah Pak Anton, sampai Pintu Rimba sudah capek duluan. Dengan naik truk, kita bisa menghemat waktu hingga setengah jam dari waktu tempuh 3 jam dengan jalan kaki. Namun, truk ini biasanya berangkat pagi dari jam 6 atau 7 pagi setelah mengantar sayur dari Kampung IV.

Ada sedikit perubahan dibanding 7 tahun lalu, jika dulu cukup mendaftar di Rumah Pak Anton, kini pendaki harus mendaftar lagi di Basecamp Dempo seharga 2 ribu rupiah. Melengkapi kekurangan logistik dan sarapan pagi, akhirnya saya bisa mendaki dengan menjinjing keril lagi. Rasa-rasanya sudah lama sekali sejak pendakian sebelumnya.

Mungkin karena dengan persiapan yang lebih matang, peralatan yang lebih ergonomis dan praktis, stamina yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, pendakian kali ini tidak separah 7 tahun lalu. Di mana kala itu berjalan sepuluh langkah saja rasanya sudah mau ambruk ini badan. Kini, dari Pintu Rimba ke Shelter 1 dan dari Shelter 1 ke Shelter 2 dapat terlalui dengan enak dan waktu tempuh 6 jam saja. Di Shelter 2 kami mendirikan tenda karena dekat dengan sumber air.

Pendakian kala itu tidak terlalu ramai, namun juga tidak terlalu sepi. Shelter 2 penuh dengan tenda para pendaki, kira-kira ada 7 tenda di sana. Malam pun tiba, bersama rombongan dari Jakarta kami berbagi makan malam bersama, aduhai, nikmat sekali.

Keesokan hari, dari team 4 orang, hanya saya dan Juan yang melakukan summit attack, Melati merasa tidak enak badan dan Ucok menemani berjaga di tenda. Selain itu, ada sedikit nada sumbang dari tenda pendaki lain yang bercanda mengincar tenda kami dan teman kami dari Jakarta. Sehingga mau tidak mau memang sepertinya ada yang harus ditinggal untuk menjaga barang-barang. Crap!

Dalam tempo waktu kurang lebih 3 jam, akhirnya saya dan Juan sampai di tujuan akhir, Kawah Puncak Dempo. Jalur yang harus kami tempuh lumayan aduhai, hampir mirip dengan Gunung Salak atau Kerinci. Nikmat rasanya. Gunung Dempo sendiri mempunya dua puncak, Puncak Dempo dan Puncak Marapi, tempat Kawah Dempo berada. Di antara kedua puncak tersebut terdapat lembah yang mirip dengan Surya Kencana, di mana banyak edeilweis dapat kita jumpai.
 
Ngemper di Bandara.

Bersama Pak Anton.

Kampung IV.

Teh, Kopi, Susu?

Pintu Rimba.

Pendakian Oye!

Shleter 2.

Menuju Puncak.

Top Dempo, 3.159 mdpl.

Lembah.

Kawah Dempo.

Puncak!!!!

Di Truk Sayur saat Turun dari Kampung IV ke Pagaralam.

Gunung di Pulau Sumatera, bagi saya memiliki keindahan tersendiri dibanding gunung di Pulau Jawa. Jalur pendakiannya pun tidak boleh dipandang sebelah mata.  


Sampai jumpa kembali, Dempo. (dm, 1 Juni 2017)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...