Manglayang, Tampomas, dan Puntang Coret

Melihat kalender, ada hari libur jatuh di hari jumat. Hmm.. pas banget neh, bisa dapat tiga hari libur berturut-turut. Sudah lama juga tidak naik gunung namun bingung juga gunung mana yang pas didaki dalam waktu tiga hari. Sementara semua gunung berketinggian 3000 mdpl di Pulau Jawa sudah sudah pernah didaki (ehem… sombong), tetapi uang sedang tidak ada untuk mendaki gunung di luar Pulau Jawa, waktu pun terlalu mepet.


Jalur Gunung Manglayang.

Otak atik google maps dan surfing sana-sini, terbersit ide yang sepertinya menyenangkan: Mendaki tiga gunung kecil di sekitaran Bandung dalam tempo tiga hari. Satu gunung satu hari: Manglayang-Tampomas-Puntang. Mengukur waktu tempuh dan biaya yang dibutuhkan sepertinya memungkinkan sekali. Namun seperti kebiasaan saya dalam naik gunung, menghindari meriset secara mendetail agar perjalanan jadi sedikit menyenangkan.

Gunung Manglayang
Sebenarnya rencana gunung yang pertama saya daki yakni Gunung Puntang, namun karena berpergian pada long weekend, kemacetan pun tidak bisa dielakan lagi, cuma bisa dinikmati saja. Berangkat pukul sepuluh malam dari Terminal Rambutan, baru pukul empat pagi saya masuk ke Bandung, sehingga langsung saja diputuskan langsung ke Pintu Tol Cileunyi untuk naik ke Gunung Manglayang dulu.

Salah satu kebiasaan saya yang lain, sebisa mungkin tidak melakukan pendakian secara solo, apa enaknya? Selain itu juga menurut saya kurang aman. Pendakian kali ini, saya ditemani oleh rekan pendaki dari Semarang, Findi si Jomblo. Hanya berdua saja, lebih enak dan fleksibel, jika terlalu banyak orang malah merepotkan dan rempong, hehe.. egois sekali memang.

Sampai di Pintu Tol Cileunyi, bingung juga bagaimana menuju basecamp, sempat bertanya ke beberapa pendaki yang banyak juga turun di situ, malah diacuhkan dengan muka seperti merendahkan, “Memang ndak search dulu, Mas?”, kata salah satunya. Haha.. yasudah kalau tidak mau menjawab, masih ada Bapak Tukang Ojek yang masih mau menjawab dengan jawaban normal, bukan via google.

Untuk mempersingkat waktu, karena angkot pun belum ada jam segitu, kami memilih naik ojek sampai basecamp yang ternyata tidak begitu jauh, dengan waktu tempuh kurang lebih dua puluh lima menit, kami harus membayar lima puluh ribu seorang. Sampai di basecamp Batu Kuda, suasana juga masih sepi, hanya satu dua warung yang buka. ‘Kantor’ basecamp juga masih tutup. Setelah beristirahat, sarapan mie rebus, pukul tujuh pagi kami memulai pendakian.

Jalur pendakian Gunung Manglayang sangat jelas, tidak perlu takut tersesat jika mengikuti jalur yang sudah ada. Ohya, dari ketiga gunung tersebut, kami mendaki tanpa tahu jalan, seperti biasa. Walaupun gunungnya kecil, hanya 1,818 mdpl, namum jalur pendakian langsung menanjak ke atas. Vegetasi tidak terlalu rapat, dan ada beberapa batu-batu besar di sepanjang jalan.

Tidak terasa, satu setengah jam kami mendaki, puncak sudah dapat kami capai. Tidak seperti umumnya gunung, Puncak Manglayang berupa lapangan luas dengan beberapa pepohonan yang menutupi dari pemandangan sekitar. Sepertinya asyik buat dijadikan tempat berkemah.

Untuk turun, kami membutuhkan waktu satu jam saja dengan berjalan santai. Asyik sekali pagi itu, tidak panas namun tidak hujan. Sesampai di basecamp, suasana sudah ramai dengan banyaknya pengunjung yang menikmati long weekend dengan bersantai di bawah pohon pinus, berkemah, atau aktivitas lainnya. Beristirahat sejenak, kami mencari tukang ojek untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Tampomas.

Gunung Tampomas
Saat menuju Gunung Tampomas, kami (baca: saya) diwarnai dengan sedikit drama kejar-kejaran angkot karena kamera semata wayang tertinggal di angkot! Apes memang!

Menuju Sumedang kami menggunakan elf dari pertigaan Batu Kuda, agak sedikit bingung pada awalnya karena jujur saja kami tidak tahu harus turun di mana, membaca petunjuk di internet tidak begitu menolong, alhasil kami bertanya ke Pak Kondektur dan diarahkan turun di Pertigaan Legok dilanjut menuju Narimbang sebagai titik awal pendakian.

Di sinilah drama dimulai, sesudah turun dan – beruntunglah – pesan hotel murah meriah di dekat situ, baru saya sadar kamera Nikon J5 yang belum lama dibeli tertinggal di elf. Langsung saya lari balik, mencari angkot di tengah hujan mengejar elf tersebut. Berdasar ingatan samar-samar, sepertinya warna elf adalah hitam sehingga saya berhentikan dan tengok semua elf yang berwarna hitam. Tetap tidak ketemu! Hingga satu jam lamanya naik ojek, sampailah saya di perempatan yang cukup ramai, sudah dekat dengan Indramayu. Meminta bantuan preman sekitar, bertanya apakah ada solusi.

Setelah putus asa tetap tidak menemukan kamera kesayangan, lewatlah elf berwarna pink, sekilas lihat, saya merasa kenal dengan salah satu penumpang berbaju merah, kondekturnya juga tidak asing. Benar saja, alhamdullillah kamera masih ada di bawah jok kursi belakang. Pak Kondektur berbaik hati menunjukan kamera tersebut. Terima kasih Pak!

Lelah kejar-kejaran, sesampai di hotel saya langsung tidur, menyiapkan stamina untuk pendakian esok hari.

Narimbang dapat ditempuh dengan naik angkutan desa berwarna kuning dari Pertigaan Legok, kurang lebih 20 menit sampailah kami di pintu masuk Narimbang, dari situ kami harus naik ojek kurang lebih 15 menit. Pukul tujuh pagi kami sampai di situ, seperti basecamp Manglayang, Narimbang juga merangkap sebagai tempat wisata alam. Rupanya di situ juga terdapat air terjun yang lumayan ramai dikunjungi saat akhir pekan. Sama seperti hari sebelumnya, Narimbang masih sepi sekali sewaktu kami datang.

Setelah melakukan pendaftaran yang baru dibuka pukul delapan pagi, kami langsung memulai pendakian. Menurut info Mas Petugas Basecamp, jalur aman untuk didaki karena tidak ada percabangan, hanya satu saja. Yah, entah saya yang dudul atau sebaliknya, jalur sampai ke Pos 2 banyak sekali percabangan. Baru setelah kami bertemu dengan orang lokal yang sedang mencari kayu, kami diberitahukan arah yang benar. Untuk mencapai Pos 2 Pasir Seleh, kita harus melewati hutan, kebun, dan lading.

Dari Pos 2 ini, perjalanan mulai asyik karena hanya melewati hutan yang teduh namun tidak terlalu lebat, secara keseluruhan sampai ke Pos 4, jalur sangat landai. Kira-kira sepuluh menit sebelum sampai di Pos 4, Findi sudah merasa tidak kuat lagi dan berucap sampai di sini saja. Saat itu kami sudah berjalan hampir tiga jam namun masih belum tahu masih seberapa jauh lagi, apalagi ditambah ucapan rombongan anak-anak yang juga hendak naik, “Wah, puncak masih jauh, aa’, mungkin masih setengah perjalanan lagi.” Makin down si Findi ini. Untuk menenangkan diri, kami beristirahat dan mulai mempersiapkan santap siang. Setelah perut kenyang, saya putuskan untuk survey jalan terlebih dahulu, ternyata baru 10 menit berjalan, sudah bertemu Pos 4.

Terpacu semangat karena Pos 4 sudah tidak jauh di depan, kami memulai perjalanan lagi. Dari Pos 4 ke Pos 5 dan ke Pos 6, jaraknya tidak terlalu jauh. Namun diganti dengan trek yang tidak lagi landai. Setengah jam kemudian, sampailah kami di Puncak Gunung Tampomas, sialan anak-anak itu, sama-sama tidak tahu jalan rupanya.

Puncak Tampomas biasa saja, terbuka dengan beberapa bagian yang bisa dijadikan tempat mendirikan tenda. Luasannya kurang lebih sama dengan lapangan bola voli. Karena puncak tertutup kabut saat itu, kami tidak bisa menikmati pemandangan sekitar. Asyik berfoto, setengah jam kemudian kami putuskan untuk segera turun agar tidak kemalaman di jalan menuju Bandung, menuju gunung ketiga: Puntang!
 
Baecamp Gunung Manglayang.

Pos Batu Kuda (Pos Pendakian).

Jalur Gunung Manglayang (2).

Puncak Gunung Manglayang.

Pos Pendakian Gunung Tampomas.

Jalur Gunung Tampomas yang Landai.

(Ini) Kawah Gunung Tampomas.

Puncak Gunung Tampomas.

Puncak Gunung Tampomas (2).

Teras Cihampelas.

Ciwalk!

Gunung Puntang
Kurang lebih pukul sembilan malam, kami sampai lagi di Bandung, menuju ke kosan teman KSR yang bekerja di Bandung untuk menumpang bermalam, Imma namanya. Seharusnya pula, dia ikut saat dua pendakian sebelumnya, namun karena satu dan lain hal tidak jadi. Setelah makan, mandi, dan beristirahat, Findi mengutarakan bahwa dia cukup dua gunung saja. Besok tidak akan ikut mendaki ke Gunung Puntang.

Ah sial, sepertinya rencana pendakian ke Puntang memang harus ditunda dulu. Memang stamina Findi sudah ngedrop, saat ke Tampomas pun sudah hampir saja menyerah. Mendaki gunung memang mengasyikan, tetapi memaksakan mendaki gunung adalah tindakan konyol, malahan bisa jadi menjadi tindakan bunuh diri. Alhasil kami bertiga menikmati hari ketiga di Bandung di pusat kota, jalan-jalan ke mall, jalan-jalan ke Skywalk Cihampelas Walk yang baru, dan tentu saja menikmati makanan yang enak.

Kali ini, saya memang belum kesampaian menjajal medan Gunung Puntang, tapi tidak mengapa, masih ada kesempatan lain.

Keep safe, clean, and fun climbing. (dm 6 Mei 2018)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...