Showing posts with label Muse. Show all posts
Showing posts with label Muse. Show all posts

Papandayan Kini

Pada long weekend kali ini, saya akhirnya bisa menginjakan kaki kembali di Papandayan, gunung kecil di Garut yang tersohor akan pesona hutan matinya. Ini adalah kali ketiga saya. Terakhir ke sini pada tahun 2013 silam, dua tahun yang lalu. Saat itu saya dalam rombongan delapan orang, namun kini hanya berdua saja dengan kekasih. Pendakian perdana sebagai latihan untuk pendakian selanjutnya dengan medan yang lebih berat.

Warung dekat Kawah.
Agak kaget juga dengan kondisi Papandayan kini, bagi saya, Papandayan bukan lagi sebuah gunung, tetapi lebih cocok disebut tempat wisata, hehe.. Namun tetap saja kita harus melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dari sisi penduduk sekitar, anemo masyarakat akan “gunung” tentu berarti prospek pendapatan tambahan dari segi ekonomi. Tak ayal, sekarang bermunculan warung-warung yang menjajakan cemilan, nasi goreng, minuman panas, cinderamata, bahkan sampai peralatan pendakian.

Life Just a Click, Goodbye Our Librarian

Saat sedang asyik menyelesaikan laporan yang menggunung, smartphone satu-satunya berdering sekali, pertanda ada pesan masuk. Ah, paling itu hanya pesan dari salah satu group berisik yang kuikuti. “Temans, emang Sandy meninggal?”, sebaris pesan itu langsung mengusik fokus dari laporan yang menuntut untuk dikirim siang itu juga. Jikalau ada kabar orang tua atau saudaranya teman yang meninggal tersiar, jujur aku hanya melihat sekilas, lalu turut mengucapkan belasungkawa, dan kembali ke rutinitas, that’s all.

Sandy.
But this time someone I knew, someone my age, died so suddenly. Pikiranku langsung terbayang ke masa kuliah dulu. Oke, aku memang termasuk mahasiswa yang paling tidak betah di kampus. Jarang masuk, sering telat, kadang pulang lebih dulu, dan kalaupun masuk selalu duduk di deretan tengah, buka buku komik, baca, dan kemudian tidur. Meskipun begitu, sebagai orang yang suka baca, perpustakaan adalah tempat favoritku di kampus. Dan nama yang disebut di pesan tersebut adalah penjaga perpustakaan itu.

Da, Dha, dan Arti Sebuah Nama

Ada pepatah yang mengatakan “Apalah arti sebuah nama?”. Aku bilang pepatah tersebut 100% keliru! Nama sangat penting artinya. Coba bayangkan nama Anda diganti kambing atau babi, dan ketika Anda komplain, orang yang memanggil cuma berkata “Kawan, apalah arti sebuah nama?”. Di beberapa kultur budaya, seperti Jawa, nama sangat penting artinya.

By the Name of D.
Sri Baginda Sunan Paku Buwana II membalik nama Kartasura menjadi Surakarta karena dianggap nama yang pertama banyak menimbulkan musibah dan bencana. Pada beberapa daerah, anak kecil yang sering sakit-sakitan harus diganti namanya agar sakitnya sembuh. Dianggap nama yang sebelumnya tidak cocok atau membawa sial.

I Forgot my Phone

Sebuah video di youtube yang layak menjadi perenungan bagi kita dewasa ini. Bagi kita generasi dua jempol dan kepala menunduk. Kita lebih mementingkan untuk share segala aktivitas kita sehari-hari ketimbang untuk menikmatinya dengan sepenuh hati.


Lebih memilih untuk menjalin komunikasi yang intens dengan teman atau bahkan orang yang tidak dikenal yang berada jauh dari kita, alih-alih orang di sekitar kita saat itu. Ironis memang. Kita asyik mengajak ketemuan atau kopdar di socmed, tetapi saat sudah bertemu malah sibuk sendiri-sendiri dengan gadget masing-masing.

Berlebaran di Batui

Batui adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Dari Luwuk, Ibukota Banggai, masih harus menempuh perjalanan darat melewati pesisir pantai kurang lebih satu jam dengan kendaraan roda empat. Dan pada lebaran tahun ini, untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, aku tidak merayakannya di kampung halaman. Untuk kali ini gema takbir kudengar dari Batui, kampung pesisir di Celebes.

Nelayan Batui.
Saat di tempat baru tentu kita merasa asing dan secara otomatis membandingkan dengan tradisi dan budaya tempat asal kita. Tak terkecuali saat di Batui aku merasakan shock culture tersebut. Banyak hal baru yang kualami di sini dan tentu menarik untuk diceritakan. Dari makanan, bahasa setempat, dan adat istiadat.

Bioskop, aku cinta padamu



Sebagai orang yang mempunyai komitmen tinggi akan tontonan yang berkualitas dan anti-bajakan, ciee…, saya selalu memilih untuk menikmati film di layar lebar. Yah, alasan lainnya seh saya tidak punya dan tidak ingin punya televisi sampai sekarang. Nah dari situ banyak pengalaman-pengalaman menarik yang saya alami.

Ilustrasi. (doc anonim)
Sempat saya bekerja di daerah Serpong dengan mall –yang diikuti bioskop tentunya- yang seabrek. Jika ada film bagus yang sedang diputar, bisa seminggu 3-4x saya meluangkan waktu ke bioskop terdekat. Karena itu juga saya lebih memilih menonton di hari kerja, selain tentunya lebih murah, suasana di dalam lebih sepi dan jarang suara berisik anak kecil.

Passion to Learn


Tulisan lama kepada seorang teman, kok sayang kalau gak diposting. :)

“Mas, semangatku buat bahas soal kok mlorot, ya?”, bunyi sms jam sembilan malam kala itu. Sms yang mungkin cukup sering dikeluhkan adek-adek di Semarang. Pasang surut dalam suatu hal pasti ada, kita semua pasti pernah mengalami semangat ini turun dalam mengejar atau menekuni yang menjadi tujuan. Hal ini manusiawi saja.

Foto Penjurian Avicenna 2011.
Dan, seyogyanya hal itu tidak boleh berlangsung lama, bahkan harus meningkat, lebih, dari pada semula. Seperti halnya grafik pemberian dua tiupan awal pada panduan BLS 2004, sebelum turun ke titik nol harus ditambah tiupan lagi agar makin tinggi. :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...