| Nelayan Batui. |
Saat di
tempat baru tentu kita merasa asing dan secara otomatis membandingkan dengan tradisi
dan budaya tempat asal kita. Tak terkecuali saat di Batui aku merasakan shock culture tersebut. Banyak hal baru
yang kualami di sini dan tentu menarik untuk diceritakan. Dari makanan, bahasa
setempat, dan adat istiadat.
Makanan
Dari segi
makanan pun sedikit berbeda, seperti kolak dengan ‘kuah’ yang lebih cocok jika
kusebut bubur ketimbang kuah karena kekentalannya. Ibu katering yang selalu
menyajikan menu berbuka dan sahur dengan ikan atau hasil laut lainnya, entah
itu udang, kepiting, atau cumi. Malahan jarang sekali menyajikan tempe, sampai
sempat aku berpikir mungkin di sini tempe lebih mahal ketimbang ikan kali ya.
Bagaimana tidak, hampir di tiap sudut jalan ada orang yang menjajakan ikan
segar.
Dan jika
makan di warung, ketika kita memesan ikan atau ayam, akan diikuti dengan sebuah
mangkuk kecil yang ternyata berisi kuah. Yang kusukai dari menu makanan di sini
adalah sambal pelengkap ikan bakar. Entah bagaimana membuatnya, bentuknya
seperti sambal biasa tetapi agak cair dengan irisan tomat kecil-kecil. Jangan
tanyakan bagaimana rasanya, kalau kata orang Batui, “ebehhh… nikmat sekali.”
| Tarian khas Batui. |
| Anak-anak Batui. |
Shalat di Hari Kemenangan
Karena berada
jauh dari pemukiman penduduk, gema takbir dari masjid tidak terdengar sampai camp site tempat kutinggal. Tetapi,
takbir kemenangan tetap dikumandangkan oleh rekan-rekan di camp dengan speaker dari
kantor dan galor air sebagai pengganti beduk. Meriah sekali.
Shalat Ied
pun sedikit berbeda dengan yang biasa kujalani di kampung halaman. Jika
biasanya pukul tujuh kita sudah keluar dari masjid, di pukul tujuh baru
dimulai. Sehingga kami, warga pendatang dari Jawa yang berangkat pukul enam
pagi bingung mendapati masjid yang masih kosong melompong. Yang lebih membuat
heran, sang Imam datang paling belakangan hingga sempat dicari-cari pengurus
masjid. Pikiran positif saya berkata, “Ah,
mungkin beliau mengalami sesuatu masalah sehingga terlambat.”. Sementara pikiran
picik saya mengatakan, “Pasti orang itu berpikir ‘Santai, sholat gak bakal dimulai sebelum aku datang, lawong aku imamnya.’.”, hehe..
| Camp Site. |
| Pesisir Batui. |
Sebelum
shalat dimulai, berdiri seorang tetua yang mengingatkan untuk merapikan barisan
shalat. Kemudian beliau juga mengajarkan tentang bacaan niat Shalat Ied, wah mungkin karena shalat cuma setahun
sekali pikirnya banyak yang lupa. Setelah mengingatkan jumlah takbir Shalat
Ied, tiba-tiba beliau mengambil sapu tangan dan sambil melafalkan doa yang
entah apa, memutar sapu tangan di atas kepala dengan tangan kanan. Entah apa
maksud memutar sapu tangan tersebut, yang jelas setelah putaran keempat jamaah
serentak berdiri dan Shalat Ied dimulai.
No comments:
Post a Comment