Berlebaran di Batui

Batui adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Dari Luwuk, Ibukota Banggai, masih harus menempuh perjalanan darat melewati pesisir pantai kurang lebih satu jam dengan kendaraan roda empat. Dan pada lebaran tahun ini, untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, aku tidak merayakannya di kampung halaman. Untuk kali ini gema takbir kudengar dari Batui, kampung pesisir di Celebes.

Nelayan Batui.
Saat di tempat baru tentu kita merasa asing dan secara otomatis membandingkan dengan tradisi dan budaya tempat asal kita. Tak terkecuali saat di Batui aku merasakan shock culture tersebut. Banyak hal baru yang kualami di sini dan tentu menarik untuk diceritakan. Dari makanan, bahasa setempat, dan adat istiadat.

Makanan
Dari segi makanan pun sedikit berbeda, seperti kolak dengan ‘kuah’ yang lebih cocok jika kusebut bubur ketimbang kuah karena kekentalannya. Ibu katering yang selalu menyajikan menu berbuka dan sahur dengan ikan atau hasil laut lainnya, entah itu udang, kepiting, atau cumi. Malahan jarang sekali menyajikan tempe, sampai sempat aku berpikir mungkin di sini tempe lebih mahal ketimbang ikan kali ya. Bagaimana tidak, hampir di tiap sudut jalan ada orang yang menjajakan ikan segar.

Dan jika makan di warung, ketika kita memesan ikan atau ayam, akan diikuti dengan sebuah mangkuk kecil yang ternyata berisi kuah. Yang kusukai dari menu makanan di sini adalah sambal pelengkap ikan bakar. Entah bagaimana membuatnya, bentuknya seperti sambal biasa tetapi agak cair dengan irisan tomat kecil-kecil. Jangan tanyakan bagaimana rasanya, kalau kata orang Batui, “ebehhh… nikmat sekali.”

Tarian khas Batui.
Anak-anak Batui.
Satu hal yang sedikit membuatku nelangsa, yakni ketiadaan lontong opor di sini. Bagiku lebaran adalah saatnya makan lontong opor. Dalam satu hari, bisa empat sampai lima piring kuhabiskan. Tetapi, tampaknya warga sini tidak memiliki tradisi untuk membuat lontong opor. Warga lokal pun sempat bingung ketika aku iseng bertanya hendak main ke rumah untuk mencicipi lontong opornya.

Shalat di Hari Kemenangan
Karena berada jauh dari pemukiman penduduk, gema takbir dari masjid tidak terdengar sampai camp site tempat kutinggal. Tetapi, takbir kemenangan tetap dikumandangkan oleh rekan-rekan di camp dengan speaker dari kantor dan galor air sebagai pengganti beduk. Meriah sekali.

Shalat Ied pun sedikit berbeda dengan yang biasa kujalani di kampung halaman. Jika biasanya pukul tujuh kita sudah keluar dari masjid, di pukul tujuh baru dimulai. Sehingga kami, warga pendatang dari Jawa yang berangkat pukul enam pagi bingung mendapati masjid yang masih kosong melompong. Yang lebih membuat heran, sang Imam datang paling belakangan hingga sempat dicari-cari pengurus masjid. Pikiran positif saya berkata, “Ah, mungkin beliau mengalami sesuatu masalah sehingga terlambat.”. Sementara pikiran picik saya mengatakan, “Pasti orang itu berpikir ‘Santai, sholat gak bakal dimulai sebelum aku datang, lawong aku imamnya.’.”, hehe..

Camp Site.
Pesisir Batui.
Uniknya, setelah gema takbir dihentikan, dua pengurus masjid membawa kain berukuran satu kali satu meter untuk menampung sedekah dari jamaah. Cara membawanya seperti dua orang memegang tandu, satu di depan dan satunya di belakang. Berjalan melintasi saff-saff jamaah sambil melafalkan ayat-ayat Quran. Padahal biasanya saat shalat jumat cuma memakai kotak amal, mungkin dengan cara seperti itu ‘hasil tangkapannya’ lebih besar kali ya, hehe.. Setelah selesai mengumpulkan sedekah barulah shalat dimulai, tepatnya pukul setengah delapan. Fiuh, kalau di rumah sudah kenyang makan lontong opor neh.

Sebelum shalat dimulai, berdiri seorang tetua yang mengingatkan untuk merapikan barisan shalat. Kemudian beliau juga mengajarkan tentang bacaan niat Shalat Ied, wah mungkin karena shalat cuma setahun sekali pikirnya banyak yang lupa. Setelah mengingatkan jumlah takbir Shalat Ied, tiba-tiba beliau mengambil sapu tangan dan sambil melafalkan doa yang entah apa, memutar sapu tangan di atas kepala dengan tangan kanan. Entah apa maksud memutar sapu tangan tersebut, yang jelas setelah putaran keempat jamaah serentak berdiri dan Shalat Ied dimulai.

Selesai shalat tampak jamaah saling berjabat tangan yang dilanjut berkunjung ke tetangga dan sanak famili. Selamat Idul Fitri dari Batui, kawan. (dm 080813)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...