| Kota Pagaralam. |
Menuju Dempo
Untuk menuju
Dempo yang terletak di Kota Pagaralam, kita harus menuju Lahat terlebih dahulu.
Dari Lahat banyak angkutan jenis elf ke Pagaralam. Atau yang malas gonta-ganti
angkutan bisa langsung naik bus Jakarta-Pagaralam dari Terminal Kalideres
dengan harga 150 ribu (2010) dengan lama perjalanan sehari semalam. Kalau dari
Palembang perjalanan cuma memakan waktu 6 jam.
| Di Fery Menuju Bakaheuni. |
| Warga Kampung Empat. |
Dari kota
kita harus menuju PTPN III untuk lapor hendak melakukan pendakian. Jangan
salah, lapornya bukan di kantor perusahaan negara tersebut tetapi di rumah Pak
Anton. Bapak yang ramah ini mempunyai bangunan di belakang rumahnya yang
diperuntukan khusus bagi pendaki. Karena hal inilah, rumah Pak Anton sering
disebut basecamp Guung Dempo oleh
banyak pendaki. Perjalanan dilanjutkan ke Kampung Empat, dusun terakhir sebelum
puncak, melewati kebun teh yang luas menghampar. Jika tidak ingin berjalan
kaki, dari PTPN III kita dapat menumpang truk anak sekolah atau truk sayur yang
berangkat pagi, lumayan bisa mengirit 1-2 jam perjalanan.
Menyerah atau Terus
Saat mendaki
Dempo, kami cuma berdua dan tak satupun dari kami yang tahu rute. Sempat kami
sedikit tersesat sebelum mencapai pintu rimba, setelah pintu rimba jalan jelas
tanpa percabangan. Trek Gunung dempo
terkenal terjal dan menanjak tanpa adanya bonus
trek. Vegetasinya rimbun dengan banyak pohon besar sehingga terkesan gelap.
Ditambah dari Kampung Empat sampai kembali lagi, hujan mengguyur tanpa jeda.
Hmm.. oke sip.
| Kampung Empat. |
| Memulai Pendakian. |
Awalnya,
kupikir hujanlah yang membuat langkah ini terasa sangat berat. Berkali-kali aku
tertinggal jauh di belakang. Berat sekali untuk mengayuhkan langkah menuju
puncak. Rasanya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Dan untungnya ketika hari
menjelang senja, kami putuskan untuk bermalam di tengah perjalanan. Baru kali
ini aku merasa begitu ngedrop saat
mendaki hingga tertidur pulas sampai pagi.
Esoknya kami
menuju puncak. Hujan masih saja mengguyur dan langkah kaki ini makin berat
walaupun sudah tidak membawa keril lagi. Sempat terbersit untuk berhenti di
tengah jalan dan menunggu teman turun dari puncak. Tapi, walau selangkah tetap
kuayunkan kaki satu demi satu. Tangan pun menjadi kaki. Akhirnya pukul sepuluh
siang aku sampai di puncak. Hampir sepuluh jam lebih perjalanan dari Kampung
Empat.
Puncak Dempo
mirip dengan Gunung Gede-Pangrango yang memiliki dua puncak, yaitu Puncak Dempo
dan Puncak Marapi. Di antara kedua
puncak terdapat lembah kecil yang bisa dijadikan tempat bertenda. Puncak
tertinggi terletak di Puncak Dempo dengan ketinggian 3.158 mdpl. Sementara
Puncak Marapi memilik kawah yang cukup luas.
| Para Pemetik Teh di Perkebunan. |
Setelah
turun dan membersihkan badan, baru kusadari kedua telapak kaki penuh dengan
luka sobek, pantas saja terasa perih sepanjang jalan. Selain itu, ternyata
handphone yang aku titipkan ke teman terendam air karena dia lupa menutup tutup
plastiknya. Arrgghh… Juancuk!
No comments:
Post a Comment