Dempo yang Garang

Sebenarnya pendakian ke Gunung Dempo adalah plan B dari rencana awal hendak mendaki Gunung Kerinci. Sebuah pendakian dadakan ketika tiba-tiba mendapat libur seminggu sebelum kerja untuk pertama kalinya. Inilah pertama kalinya aku melakukan pendakian di luar Pulau Jawa. Dan Dempo pulalah gunung pertama yang membuatku drop sampai ke titik ingin menyerah menuju puncak.

Kota Pagaralam.
Cerita ini bermula dari kejadian yang kurang mengenakan di Rajabasa dan terbatasnya liburan kala itu. Sampai di Lampung ketika hari sudah larut, kami berdua langsung mencari bus ke arah Padang, tujuan kami adalah Muara Bungo untuk dilanjut ke Sungai Penuh. Dijanjikan sampai di Muara Bungo esok siang, langsung kami naik bus ekonomi yang entah apa namanya itu. Ternyata esoknya, pukul satu siang saja bus baru sampai di Lahat, Palembang, padahal jarak ke Mura Bungo masih dua pertiga perjalanan lagi. Ah sial, turunlah kami di Lahat dan putar arah ke Pagaralam untuk mendaki Gunung Dempo.

Menuju Dempo
Untuk menuju Dempo yang terletak di Kota Pagaralam, kita harus menuju Lahat terlebih dahulu. Dari Lahat banyak angkutan jenis elf ke Pagaralam. Atau yang malas gonta-ganti angkutan bisa langsung naik bus Jakarta-Pagaralam dari Terminal Kalideres dengan harga 150 ribu (2010) dengan lama perjalanan sehari semalam. Kalau dari Palembang perjalanan cuma memakan waktu 6 jam.

Di Fery Menuju Bakaheuni.
Warga Kampung Empat.
Pagaralam adalah kota kecil yang cantik di Pulau Sumatra. Di[pagar]i [alam] pegunungan, kota ini menawarkan suguhan pemandangan yang sedap di pandang mata. Pun, paras gadis daerah sini terkenal cantik. Penduduk Pagaralam itu gado-gado dengan di dominasi oleh suku Jawa, terutama pada daerah lereng gunung. Maka jangan heran ketika mendaki akan mendengar dialek Banyumas yang kental. Katanya, hal ini dikarenakan adanya transmigrasi saat jaman Belanda.

Dari kota kita harus menuju PTPN III untuk lapor hendak melakukan pendakian. Jangan salah, lapornya bukan di kantor perusahaan negara tersebut tetapi di rumah Pak Anton. Bapak yang ramah ini mempunyai bangunan di belakang rumahnya yang diperuntukan khusus bagi pendaki. Karena hal inilah, rumah Pak Anton sering disebut basecamp Guung Dempo oleh banyak pendaki. Perjalanan dilanjutkan ke Kampung Empat, dusun terakhir sebelum puncak, melewati kebun teh yang luas menghampar. Jika tidak ingin berjalan kaki, dari PTPN III kita dapat menumpang truk anak sekolah atau truk sayur yang berangkat pagi, lumayan bisa mengirit 1-2 jam perjalanan.

Menyerah atau Terus
Saat mendaki Dempo, kami cuma berdua dan tak satupun dari kami yang tahu rute. Sempat kami sedikit tersesat sebelum mencapai pintu rimba, setelah pintu rimba jalan jelas tanpa percabangan. Trek Gunung dempo terkenal terjal dan menanjak tanpa adanya bonus trek. Vegetasinya rimbun dengan banyak pohon besar sehingga terkesan gelap. Ditambah dari Kampung Empat sampai kembali lagi, hujan mengguyur tanpa jeda. Hmm.. oke sip.

Kampung Empat.
Memulai Pendakian.
Gara-gara hujan, jalan yang kami lalui penuh dengan lumpur dan becek. Baru sejam berjalan sandal gunung yang kupakai jebol. Sial. Padahal itu sandal yang baru kubeli dua bulan lalu. Kapok sudah memakai produk bermerk E*g*r itu lagi! Alhasil selama sisa perjalanan aku harus menempuhnya dengan tanpa alas kaki. Sebuah pengalaman berharga untuk tidak memakai sandal gunung lagi untuk mendaki yang belum dikenal.

Awalnya, kupikir hujanlah yang membuat langkah ini terasa sangat berat. Berkali-kali aku tertinggal jauh di belakang. Berat sekali untuk mengayuhkan langkah menuju puncak. Rasanya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Dan untungnya ketika hari menjelang senja, kami putuskan untuk bermalam di tengah perjalanan. Baru kali ini aku merasa begitu ngedrop saat mendaki hingga tertidur pulas sampai pagi.

Esoknya kami menuju puncak. Hujan masih saja mengguyur dan langkah kaki ini makin berat walaupun sudah tidak membawa keril lagi. Sempat terbersit untuk berhenti di tengah jalan dan menunggu teman turun dari puncak. Tapi, walau selangkah tetap kuayunkan kaki satu demi satu. Tangan pun menjadi kaki. Akhirnya pukul sepuluh siang aku sampai di puncak. Hampir sepuluh jam lebih perjalanan dari Kampung Empat.

Puncak Dempo mirip dengan Gunung Gede-Pangrango yang memiliki dua puncak, yaitu Puncak Dempo dan Puncak Marapi.  Di antara kedua puncak terdapat lembah kecil yang bisa dijadikan tempat bertenda. Puncak tertinggi terletak di Puncak Dempo dengan ketinggian 3.158 mdpl. Sementara Puncak Marapi memilik kawah yang cukup luas.

Para Pemetik Teh di Perkebunan.
Karena rasa lelah yang luar biasa serta hujan yang terus turun, tak sedikitpun aku bisa menikmati keindahan Dempo. Gara-gara itu pula tak ada niatan mendokumentasikan perjalanan saat di di puncak. Hanya hasrat menuju puncaklah yang membuat kaki ini terus bergerak. Saat perjalanan turun, baru kusadari ternyata pengaturan kerilku agak aneh. Beban serasa menekan pinggang. Ternyata hal inilah yang menguras sebagian besar tenagaku kemarin. Tali-tali tas kerilku terlalu merosot ke bawah sehingga menekan pinggang. Salah satu pelajaran berharga lainnya yang kudapat kala itu.

Setelah turun dan membersihkan badan, baru kusadari kedua telapak kaki penuh dengan luka sobek, pantas saja terasa perih sepanjang jalan. Selain itu, ternyata handphone yang aku titipkan ke teman terendam air karena dia lupa menutup tutup plastiknya. Arrgghh… Juancuk!

Dempo, hope you be kind to me at another time. (dm 030813)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...