Jomblang dan Keegoisan “mapala”

Jogya, selain terkenal akan wisata budaya juga menyimpan banyak keindahan alam yang masih terjaga. Sebut saja Gunung Kidul yang banyak memiliki pantai-pantai yang sedap dipandang mata. Selain pantai, sebagai daerah karst, Gunung Kidul tentu banyak menyimpan gua yang menanti untuk dijelajahi. Pada liburan kali ini, aku berkesempatan untuk mengunjungi Gua Jomblang. Gua vertikal ini sangat terkenal akan fenomena alamnya, yakni ray of light.

Ray of Light.
Persisnya, Gua Jomblang terletak di Padukuhan Jetis Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Jalan menuju kesana cukup mulus, baru dari Desa Pancarejo ke lokasi, aspal akan digantikan jalan desa yang berbatu. Pukul sebelas malam, kami berenam meninggalkan Terminal Jombor dengan sepeda motor. Mengingat dari kami tidak ada yang tahu jalan, perjalanan menuju kesana adalah suatu pertualangan tersendiri. Dari ban bocor di malam buta sampai kunci motor hilang di jalan menjadi penghias malam itu.

Turun ke Perut Bumi
Baru pukul tiga pagi kami sampai ke Jomblang. Di dekat pintu gua terdapat sebuah penginapan yang ternyata dikelola oleh eo lokal bagi tamu yang berkunjung ke Jomblang. Dengar-dengar dengan tarif 100 dolar kita sudah dapat menikmati semua fasilitas yang ada, termasuk masuk ke gua sedalam 100 meter dengan dikerek tenaga mesin. Tinggal cantolin ke body harness dan turun, tentu enak sekali. Tetapi, sebagai kaum ploretar kami memilih opsi lain.

Mulut Gua Jomblang.
Persiapan Sebelum Turun ke Gua.
Dengan membawa peralatan SRT (Single Rope Techinuqe) lengkap kami memilih menuruni lintasan Jomblang yang paling pendek, yakni 30 meter. Sayangnya, minggu pagi itu sudah ada dua mapala yang memakai jalur tersebut. Ingin pindah ke jalur 70 meter, tali carmantel yang kami bawa tidak cukup panjang. Akhirnya kedua mapala itu dengan ramah menawari untuk memakai jalur mereka bersama-sama. Keramahan khas pencinta alam, pikir saya.

Sepuluh meter pertama lintasan masih bisa diturunin dengan bantuan tali lintasan tanpa perlu SRT. Baru 20 meter berikutnya autostop atau figure 8 memainkan peranan. Tanpa insiden berarti kami berhasil turun dengan selamat.

Turunan pertama pada Lintasan 30 m.
Turunan Kedua pada Lintasan 30 m.
Dari segi bentuk, Gua Jomblang menurutku seperti sebuah tabung U raksasa yang dibenamkan di perut bumi. Dari pintu ‘tabung’ tempat kami turun, perjalan dilanjutkan melewati gua horizontal sejauh 300 meter. Dan ujung ‘tabung’ satunyalah kita dapat menikmati keindahan ray of light, yang hanya dapat disaksikan pada jam-jam tertentu. Persisnya antara pukul 11 sampai 1 siang. Waktu dimana matahari tepat di atas ubun-ubun.

Walau saat itu di dalam gua berkabut tebal, tetapi keindahan ray of light tetap tidak cukup kalau diungkapkan dengan kata-kata. Seperti melihat cahaya dari surga dari langit. Sempat ku membayangkan ada malaikat kecil bersayap yang ikut turun, hehe…

True nature of a man come out when in danger
Setelah puas menikmati keindahan ray of light, pukul 1 kami memutuskan untuk kembali ke permukaan dan sore hari kembali ke Jogya. Akan tetapi tidak semua hal bisa berjalan semulus yang kita rencanakan. Total orang yang turun ke Jomblang kurang lebih 25 orang dan kami harus antri satu-satu melewati lintasan yang cuma satu.

Pintu Masuk Gua Horizontal.

Bermain Light Painting di Gua.
Beberapa dari anggota mapala itu membutuhkan waktu yang lama sekali untuk naik. Sementara dari keenam anggota kami, hanya akulah yang membutuhkan waktu paling lama untuk naik ke atas. Sial! Entah kenapa terasa berat sekali untuk menarik dan mengangkat badan. Belakangan kusadari ternyata bodyharness yang sudah longgar dan jarak pijakan kaki yang pendeklah penyebabnya. Yang seharusnya bisa naik 30 cm, saat itu cuma bisa bergerak 10 cm. Hampir 45 menit lamanya aku bergulat dengan lintasan sepanjang 20 meter itu.

Keaadaan bertambah parah ketika 2 dari anggota mapala tersebut tidak kuat naik ke atas sehingga harus dikerek. Salah satunya malah sempat menyerah dan hampir pingsan di tengah lintasan. Upaya ‘penyelamatan’ pun dilakukan. Dari atas lintasan pertama kami berusaha membantu sebisanya, saat itu baru dua anggota kami yang di atas termasuk aku. Tak berapa lama datang anak mapala yang sudah naik duluan ke tempat anchor lintasan pertama. Dengan muka masam dia menyuruh kami minggir, merasa kemampuan soal SRT masih cetek, kami pun minggir. Bukanya membantu, anak mapala itu ternyata hendak mencari perlengkapan SRTnya yang masih kurang.

Tak terasa hari sudah berganti malam. Emosi mulai memuncak, hingga tak jarang kami mendapat semacam omongan dari para anak mapala tersebut. “Kalau gak bawa peralatan gak usah turun.”, atau “Latihan dulu kalau mau caving.” Dan lain sebagainya dengan nada sinis seakan kamilah penyebab insiden hari itu. Pikirku, tadi siapa yang menawari ya? Saat sang senior mapala itu melakukan ‘penyelamatan’ di bawah, berkali-kali dia menghubungi rekan-rekannya di permukaan untuk membantu tetapi tak kunjung datang. Baru pukul 12 malam seluruh anggota ketiga kelompok yang turun ke gua berhasil naik ke permukaan.

Full Team sebelum Pulang.
Sering aku mendengar tentang ekslusifsme sebuah mapala, tetapi baru kali itulah aku merasakannya secara langsung. Tentu tidak semua dari mereka seperti itu. Saat dalam kondisi genting tersebut, masih nampak dua tiga orang yang tetap menampakan senyum ramah dan berpikir untuk bersama, bukan hanya anggota mapalanya saja. Sebuah mapala memang akan membentuk karakter anggotanya, tetapi semua tetap kembali ke kualitas individu masing-masing. (dm 070813)

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...