Semeru Semarak

Saat itu pukul tujuh malam, langit malam meneteskan gerimis kecil ketika kami tiba di Ranukumbolo. Di pinggiran danau yang luas itu telah ramai oleh ribuan pendaki. Ada yang tengah asyik memasak makan malam, mengobrol, atau berteriak-teriak mencari temannya. Atau ada juga yang seperti kami berdua, kebingungan mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda.

Ratusan tenda di Ranukumbolo..
Tak bisa dipungkiri, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini memang menjadi primadona bagi para pendaki gunung. Selain dari segi keindahan alam yang tiada duanya, kisah tentangnya pun ikut mendongkrak popularitas gunung ini. Sebut saja kisah Soe Hok Gie yang menjadi semacam ‘dewa’ bagi para pecinta alam.  Kisah lain yang tak kalah serunya yakni cerita fiksi 5 cm yang memilih Semeru sebagai setting utama. Tentu, tidaklah bijak jika kita mencerca pendaki yang ke Semeru berkat kisah-kisah tersebut.

Suasana camp di Ranukumbolo 1.
Suasana camp di Ranukumbolo2.
Setelah mendapatkan lokasi yang lumayan di antara ratusan tenda, tak lama tenda kami pun berdiri. Lokasi bertenda kami malam itu memang tidak di ‘spot utama’ di dekat Gubuk Pos Ranukumbolo. Bebarengan dengan pendakian ‘gruduk’ Semeru oleh salah satu merk outdoor membuat kami yang datang belakangan harus rela mencari sisa-sisa tempat di pinggiran danau yang luas itu.

Bisik-bisik tetangga, peserta pendakian kelewat-masal tersebut hampir mencapai 2000 orang. Ditambah pendaki lain yang turut ke Semeru saat long weekend tersebut, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini dihinggapi hampir 3000 pendaki dari berbagai daerah. Berbagai pendaki dengan sifat dan mentalitas masing-masing.

Sebuah angka yang fantastis. Jikalaupun semua pendaki membawa sampahnya turun, KALAU, masih tersisa sampah sisa hasil pencernaan manusia yang tidak mungkin dibawa turun seperti  pendakian di Antartika. Akumulasi 3000 pendaki dalam satu waktu tentu berimbas juga pada membludaknya lokasi berkemah dari yang sudah ditentukan, jumlah pohon untuk api unggun, dan  ekosistem Semeru secara keseluruhan.

Antrian Saat Naik ke Puncak.
Pada malam kedua pendakian kala itu, sebelum tengah malam, tiba saatnya untuk menguji nyali menuju puncak Mahameru. Rombongan kami yang menjadi tujuh orang memulai pendakian lebih awal untuk menghindari kemacetan di jalur menuju puncak. Dalam hati, kasihan orang Jakarta yang refreshing ke Semeru kala itu. Jauh-jauh datang ke Semeru, eh, ketemu macet lagi, hehe..

Puncak Mahameru.
Antrian Saat Turun dari Puncak.
Saat sudah dua pertiga perjalanan ke puncak, kemacetan puncak Semeru nyata terlihat sekali. Dari ujung batas vegetasi di Pos Arcopodo sampai puncak Mahameru terlihat ribuan cahaya headlamp maupun senter. Sambung menyambung tanpa jeda. Teringat beberapa tahun silam saat mendaki Semeru tak seramai ini.

What can I do?
Berbicara tentang keramaian Semeru memang tidak ada habisnya. Mencaci pendaki pemula, menyumpahi pendaki mentalitas tempe yang otaknya di pantat, atau mengumpat Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sselaku pengelola tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Setelah mengalami pendakian yang berbarengan dengan 'gruduk' Semeru tersebut, dalam hati aku memutuskan beberapa hal.

Pembatasan kuota pendaki mutlak diperlukan untuk menjaga ekosistem Semeru. Dan karena aku tidak di posisi sebagai pengambil kebijakan atau yang dapat mempengaruhi kebijakan tersebut diambil, maka menurutku, kita dapat melakukan tindakan proaktif dari diri sendiri. Usahakan untuk tidak mendaki Semeru saat long weekend atau di peak season. Ikut pendakian masal tentu sah-sah saja, asal pada waktu yang tepat. Dengan melakukan ini, aku yakin kita dapat mengurangi beban Semeru tercinta. Selain mematuhi aturan Taman Nasional untuk tidak membuka jalur atau lokasi bertenda yang baru, lebih baik lagi jika kita dapat menggali tanah terlebih dahulu sebelum buang hajat.

Adalah hak setiap orang untuk menikmati keindahan alam gunung 3.676 mdpl tersebut. Dan kewajiban setiap orang pula untuk menjaganya. Semoga sepuluh tahun, lima puluh, dan seterusnya anak cucu kita masih dapat menikmati suasana Semeru seperti sekarang atau bahkan lebih asri lagi.

Ranukumbolo.
“Mahameru sebuah legenda tersisa puncak abadi para dewa.
Masihkan terbesit asa, anak cucuku mencumbui pasirnya.”

(dm 240813)

3 comments:

  1. Membalas komen Mbak Jo (maap gara-gara masih katrok pakai google+ komennya jadi ilang :().

    Benar Mbak, aku jelas menyadari dulu aku juga pernah seperti itu. Ikut pendakian super masal tak pandang kuota. Semua adalah proses dan sekarang aku sedang dalam posisi share pengalaman agar proses pendaki pemula itu cepat mencapai kematangan. :)

    ReplyDelete
  2. luar biasa. kmarin ku jg dr sumeru. pada saat ku turun, tepat tgl 15 agustus yang naik lebis dari 2500 orang g bisa bayangin gmn ramainya, kayak satu kota pindah kesana

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...