| Ratusan tenda di Ranukumbolo.. |
| Suasana camp di Ranukumbolo 1. |
| Suasana camp di Ranukumbolo2. |
Bisik-bisik
tetangga, peserta pendakian kelewat-masal tersebut hampir mencapai 2000 orang.
Ditambah pendaki lain yang turut ke Semeru saat long weekend tersebut, gunung tertinggi di Pulau Jawa ini
dihinggapi hampir 3000 pendaki dari berbagai daerah. Berbagai pendaki dengan
sifat dan mentalitas masing-masing.
Sebuah angka
yang fantastis. Jikalaupun semua pendaki membawa sampahnya turun, KALAU, masih
tersisa sampah sisa hasil pencernaan manusia yang tidak mungkin dibawa turun
seperti pendakian di Antartika.
Akumulasi 3000 pendaki dalam satu waktu tentu berimbas juga pada membludaknya
lokasi berkemah dari yang sudah ditentukan, jumlah pohon untuk api unggun,
dan ekosistem Semeru secara keseluruhan.
| Antrian Saat Naik ke Puncak. |
Pada malam
kedua pendakian kala itu, sebelum tengah malam, tiba saatnya untuk menguji
nyali menuju puncak Mahameru. Rombongan kami yang menjadi tujuh orang memulai
pendakian lebih awal untuk menghindari kemacetan di jalur menuju puncak. Dalam
hati, kasihan orang Jakarta yang refreshing
ke Semeru kala itu. Jauh-jauh datang ke Semeru, eh, ketemu macet lagi, hehe..
| Puncak Mahameru. |
| Antrian Saat Turun dari Puncak. |
Saat sudah
dua pertiga perjalanan ke puncak, kemacetan puncak Semeru nyata terlihat sekali.
Dari ujung batas vegetasi di Pos Arcopodo sampai puncak Mahameru terlihat
ribuan cahaya headlamp maupun senter.
Sambung menyambung tanpa jeda. Teringat beberapa tahun silam saat mendaki
Semeru tak seramai ini.
What can I do?
Berbicara
tentang keramaian Semeru memang tidak ada habisnya. Mencaci pendaki pemula,
menyumpahi pendaki mentalitas tempe yang otaknya di pantat, atau mengumpat
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sselaku pengelola tentu tidak akan
menyelesaikan masalah. Setelah mengalami pendakian yang berbarengan dengan 'gruduk' Semeru tersebut, dalam hati aku memutuskan beberapa hal.
Pembatasan
kuota pendaki mutlak diperlukan untuk menjaga ekosistem Semeru. Dan karena aku
tidak di posisi sebagai pengambil kebijakan atau yang dapat mempengaruhi kebijakan
tersebut diambil, maka menurutku, kita dapat melakukan tindakan proaktif dari
diri sendiri. Usahakan untuk tidak
mendaki Semeru saat long weekend atau
di peak season. Ikut pendakian
masal tentu sah-sah saja, asal pada waktu yang tepat. Dengan melakukan ini, aku
yakin kita dapat mengurangi beban Semeru tercinta. Selain mematuhi aturan Taman
Nasional untuk tidak membuka jalur atau lokasi bertenda yang baru, lebih baik
lagi jika kita dapat menggali tanah terlebih dahulu sebelum buang hajat.
Adalah hak setiap
orang untuk menikmati keindahan alam gunung 3.676 mdpl tersebut. Dan kewajiban
setiap orang pula untuk menjaganya. Semoga sepuluh tahun, lima puluh, dan
seterusnya anak cucu kita masih dapat menikmati suasana Semeru seperti sekarang
atau bahkan lebih asri lagi.
| Ranukumbolo. |
“Mahameru
sebuah legenda tersisa puncak abadi para dewa.
Masihkan
terbesit asa, anak cucuku mencumbui pasirnya.”
Membalas komen Mbak Jo (maap gara-gara masih katrok pakai google+ komennya jadi ilang :().
ReplyDeleteBenar Mbak, aku jelas menyadari dulu aku juga pernah seperti itu. Ikut pendakian super masal tak pandang kuota. Semua adalah proses dan sekarang aku sedang dalam posisi share pengalaman agar proses pendaki pemula itu cepat mencapai kematangan. :)
luar biasa. kmarin ku jg dr sumeru. pada saat ku turun, tepat tgl 15 agustus yang naik lebis dari 2500 orang g bisa bayangin gmn ramainya, kayak satu kota pindah kesana
ReplyDeleteYap. Mari kurangi beban Semeru tercinta bro. :)
Delete