Raung dari Sumber Waringin

Gunung yang terkenal dengan Puncak Sejatinya ini mungkin menjadi satu-satunya gunung berapi di Indonesia yang membutuhkan peralatan SRT untuk ke puncak. Sebagai gunung stratovolcano yang masih aktif, gunung satu ini kerap menyemburkan asap dan api. Terletak di ujung paling timur, Puncak Raung seperti menjadi pamungkas pendakian di Pulau Jawa dengan jalur terekstrem.

Ke Puncak Raung. (doc. Ferdix)
Banyak jalur untuk menuju Puncak Raung. Dua jalur yang paling terkenal yakni dari Glenmore untuk menuju Puncak Sejati dan Sumber Waringin yang menjadi ‘jalur nasional’. Jalur lain yang dapat dijadikan alternatif yakni dari Kalibaru dan Luwak. Banyaknya jalur ini mafum terjadi mengingat puncak terdapat di sepanjang kaldera terluas di Pulau Jawa dengan panjang lebih dari dua kilometer.

Jalur Sumber Waringin
Pada pendakian kali ini, kami memilih Sumber Waringin yang terletak di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Berangkat dari Malang dengan roda dua kami membutuhkan waktu seharian perjalanan. Sumber Waringin sendiri adalah sebuah desa kecil di lereng Gunung Raung.

Basecamp.
Ketemu Petani Labu di Pondok Motor.
Full Team (doc. Ferdix).

Jika menggunakan angkutan umum, kawan bisa naik bus arah Situbondo dari Terminal Bondowoso dan turun di pertigaan Gardu Atak. Dari pertigaan ini cari angkutan pedesaan ke Desa Sumber Waringin. Jalan ini jika diteruskan akan sampai di Kawah Ijen, karena itu Sumber Waringin juga bisa diakses dari Kawah Ijen.

Basecamp Sumber Waringin, menurutku pribadi adalah basecamp paling mewah. Terdiri dari kamar-kamar yang bersih, menjadi lebih mirip penginapan ketimbang basecamp. Namun jangan kuatir dengan pendaki kelas ploretar seperti halnya penulis, terdapat ‘gudang’ yang dapat menampung pendaki secara ramai-ramai.
 
Jalur yang Rapat.
Di sepanjang jalur ke puncak tidak terdapat sumber air. Sehingga sebaiknya persiapkan air dalam jumlah yang cukup. Secara keseluruhan jalur tertutup vegetasi yang rapat. Pada beberapa titik bahkan harus ditempuh dengan merangkak dan di titik lain berjalan di atas batang pohon yang roboh. Untuk lebih lengkap tentang kondisi jalur dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
 
Momen Gila
Pengalaman mengajari, kalau mendaki dengan arek Malang (apalagi mahasiswa nekat macam temanku itu) pasti berjalan “tragis”. Dari basecamp ke Pondok Motor yang seharusnya dapat ditempuh dengan “nyaman” lewat jalur berbatu, malah menjadi aksi offroad melewati hutan dan jalan setapak. Bayangkan saja: boncengan menggunakan motor bebek dengan dua keril gede melewati jalan jalan setapak naik turun dengan kecepatan seperti di jalan beraspal. Alhasil berkali-kali dengkul dan badan ini berciuman dengan wanginya tanah sehabis hujan.
 
Jalur setelah Pos Angin.
Jalur Puncak Raung. (doc. Ferdix)

Berjalan di Pinggiran Kaldera. (doc. Ferdix)
Momen yang lebih menggugah jantung terjadi saat summit attack. Di saat aku yakin sudah sampai di puncak, sejauh mata melihat cuma kawah dan tiada jalur lain. Kami malah diajak menyusur kawah ke tempat yang lebih tinggi lagi. Menyusur dengan hanya berpegangan pada batuan seperti layaknya wall climbing horisontal. Namun kali ini tanpa safety rope , tanpa belay dan jarak puluhan meter jurang di bawah. Fiuh…

Walau saat pulang ke basecamp kami harus berjalan di bawah terpaan hujan dari Pondok Motor menuju basecamp. Walaupun setelah sampai basecamp langsung bersih-bersih dan packing untuk kembali ke Malang. Namun pendakian ke Raung menjadi salah satu pengalaman yang asyik untuk dikenang.
 
Puncak Raung. (doc. Ferdix)
Kaldera Raung. (doc. Ferdix)
Savana Kecil.
Semoga suatu saat nanti dapat berdiri dua puluh meter lebih tinggi dari Puncak Raung yang sudah kudaki. Titik tertinggi yang mendapat julukan Puncak Senjati. Keep safe, clean, and fun climbing. (dm 211113)

4 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...