Malela, Litle Niagara of Java

Orang-orang menjuluki air terjun ini dengan nama Litle Niagara. Memang pantas julukan tersebut. Bagaimana tidak, membentang hampir 50 meter dengan ketinggian hampir 40 meter, kita akan tampak kecil sekali di hadapannya. Memang aku belum pernah berkunjung ke Niagara, hanya melalui fotonya aku mengamini julukan Malela, Litle Niagara Waterfall.

Curug Malela.
Sudah lama kudengar dengung riuh pancuran airnya. Sebagai seseorang yang mengaku waterfall hunter, barang tentu wajib mengunjungi air terjun satu ini. Namun, setelah cukup lama bermukim di tanah Sunda, baru pada tahun keempat aku berkesempatan untuk merasakan riuh airnya dari dekat. Merasakan hembusan angin berair dari air terjun raksasa ini secara langsung. Malela benar-benar membuatku terlena.

Curug Malela terletak di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Ada dua jalur yang dapat dilalui untuk menuju ke sana. Jalur yang umum yakni dari Padalarang menuju Rongga, jalan yang beraspal melewati pemukiman dan pasar yang seringkali menjadi biang kemacetan. Jalur satunya, yang mungkin membutuhkan sedikit keberanian (dan kondisi kendaraan yang prima), melalui Ciwidey. Dari Ciwidey ambil ke arah Rongga, kita akan melewati hutan dengan jalan yang hanya sedikit terjamah aspal, sisanya bebatuan.
 
Ojek Kayu.
Undakan Turun ke Malela.
Kisah Menuju Malela
Hanya berdua dengan seorang teman dari Karawang, kupilih Blumerry sebagai kendaraan menuju ke sana. Rencana semula yang hendak berangkat pagi-pagi harus kandas sebelum berjalan. Ketika hendak menjemput teman di Bekasi, Blue mogok hingga harus ganti mesin. Baru 15 jam kemudian, tepatnya pukul tiga sore perjalanan ke Malela bisa dilanjutkan. Fiuh.

Rute yang kami ambil yakni dari Bekasi melalui Cibarusah untuk menuju Jonggol guna menghindari jalur puncak. Dari jonggol dilanjut ke Padalarang kemudian belok kanan menuju Rongga. Dari Rongga baru mencari lokasi persis Curug Malela, maklum, kami berdua belum pernah ke sana. Hanya mengandalkan GPS, Guide Penduduk Sekitar.
 
Curug Malela (2).
Kecil Sekali.
Bagi yang mengenal jalur Jonggol, tentu paham jika harus berhati-hati melalui jalur ini terutama pada malam hari. Minimnya penerangan dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok, naik turun bukit, dan banyak lubang membutuhkan perhatian ekstra. Ditambah lagi kondisi Blue yang masih belum fit baik mesin maupun lampunya membuat kami baru bisa sampai di Padalarang pukul satu malam. Tak kuat menahan kantuk, kuputuskan untuk bermalam sejenak di Hotel Kuda Laut alias pom bensin, hehe..

Setelah rehat sejenak, pukul lima pagi perjalanan kami lanjutkan. Tidak ada hambatan yang berarti kecuali ketika melewati pasar, pedagang yang tumpah ruah ke jalan dan pengemudi yang tidak mau mengalah menjadi biang kemacetan. Baru pukul sepuluh kami sampai di Rongga.

Malela, Here I am
Tak seperti gaungnya yang sudah terkenal luas, akses dari Rongga ke lokasi curug amat memprihatinkan. Jalur tidak bisa dilewati kendaraan roda empat, motor pun harus ekstra hati-hati karena medan yang berbatu dan terjal. Bahkan pada satu titik ada yang berada pada kemiringan 45 derajat. Bak offroad saja. Bagi pengguna mobil harus parker di perkampungan terakhir untuk dilanjut ojek motor atau jalan kaki.
 
Persawahan di Malela.
Jalan Menuju Malela.
Setelah sampai di pintu masuk Malela, kita masih harus berjalan kaki kurang lebih 20 menit. Tidak begitu jauh memang. Walau tidak ada biaya tiket masuk (2013), akses untuk berjalan kaki pun sudah ditata dengan apik. Pada beberapa titik terdapat tempat peristirahatan dengan warung yang menjajakan makanan dan minuman ringan.

Ah, akhirnya sampai juga ku di Malela. (dm 091013)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...