Pada long weekend kali ini, saya akhirnya
bisa menginjakan kaki kembali di Papandayan, gunung kecil di Garut yang
tersohor akan pesona hutan matinya. Ini adalah kali ketiga saya. Terakhir ke
sini pada tahun 2013 silam, dua tahun yang lalu. Saat itu saya dalam rombongan
delapan orang, namun kini hanya berdua saja dengan kekasih. Pendakian perdana
sebagai latihan untuk pendakian selanjutnya dengan medan yang lebih berat.
![]() |
| Warung dekat Kawah. |
Agak kaget
juga dengan kondisi Papandayan kini, bagi saya, Papandayan bukan lagi sebuah
gunung, tetapi lebih cocok disebut tempat wisata, hehe.. Namun tetap saja kita
harus melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dari sisi penduduk sekitar, anemo
masyarakat akan “gunung” tentu berarti prospek pendapatan tambahan dari segi ekonomi.
Tak ayal, sekarang bermunculan warung-warung yang menjajakan cemilan, nasi
goreng, minuman panas, cinderamata, bahkan sampai peralatan pendakian.
Pondok Selada yang Kian Ramai
Perubahan
yang drastis dapat dilihat dari Camp David yang beberapa bangunan warungnya
sudah mulai dibongkar. Rumornya nanti akan dibangun semacam pemandian air
panas, entah kapan itu. Bangunan warung memang sudah dibongkar, namun
keramaiannya hanya berpindah lokasi di sepanjang jalan persis sebelum Camp
David. Di situ berderet warung-warung yang menjajakan segala rupa. Mirip dengan
pintu masuk Gede Pangrango via Cibodas.
Spot warung
kedua yakni di percabangan setelah kawah belerang. Percabangan yang ke kiri
dapat tembus langsung ke Hutan Mati dan lurus ke jalur Pondok Selada yang
biasa. Di sini sudah berdiri tiga-empat warung menyediakan minuman hangat dan
gorengan, serta tentu tidak ketinggalan mie instan seduh.
Spot warung
ketiga di percabangan terakhir sebelum Pondok Selada, saya lupa nama Posnya,
yang jelas kalau lurus kita dapat tembus sampai ke Pengalengan, Bandung.
Terdapat juga tiga empat warung di sini yang siap menjamu para pendaki. Memang
di sini biasanya para pendaki beristirahat sejenak sebelum mencapai Pondok
Selada sebagai tempat bertenda yang diizinkan.
Kaget bukan
kepalang ketika menginjakan kaki di Pondok Selada. Mungkin ada sekitar belasan
warung yang berderet-deret membentuk huruf U mengelilingi tanah lapang di
tengah Pondok Selada. Ada dua lokasi toilet umum berbayar-sukarela yang bisa
digunakan, buang hajat atau mandi tidak susah lagi di sini. Kebetulan pula saat
itu long weekend, sehingga suasana terlihat makin ramai dengan puluhan tenda
para pendaki yang menyebar ke semua area. Memang kami sudah menduga bakal
ramai, namun tetap saja kaget melihatnya.
Sayang
beberapa tenda masih terlihat asyik membuat api unggun. Saya membayangkan
berapa pohon yang harus ditebang untuk memuaskan nafsu para pendaki ini.
Bayangkan berapa tahun pohon itu dapat tumbuh besar seperti sekarang untuk
dibinasakan dalam api unggun yang cuma beberapa jam saja! Bodoh!
“Prosedur” yang Ribet
Perubahan
yang terlihat bagus yakni jalan dari Cisurupan ke Camp David sudah mulus
teraspal seluruhnya. Teringat dahulu harus terombang-ambing di atas mobil
pick-up karena jalan yang tidak rata dan berbatu. Kira-kira satu kilometer
sebelum Camp David, ojek yang kami tumpangi berhenti di Gapura Gunung Papandayan untuk melakukan
registrasi dan membayar biaya administrasi tentunya. Per satu orang dikenai
biaya administrasi Rp. 12,500.00 (harga saat hari libur). “Wah, sekarang harus
daftar dulu di sini rupanya, tidak lagi di Camp David.”, pikir saya.
Rupa-rupanya,
sesampai di pas-sebelum-Camp David, kami diarahkan untuk melakukan pendaftaran
kembali. Jika di Pos tadi yang jaga didominasi Bapak-bapak, di sini kami
dilayani oleh jejaka-jejaka Garut, rata-rata masih seumuran bocah. Biaya yang
harus kami keluarkan pun setengahnya, Rp. 6,000.00 per orang. Di sini kita
dapat menitipkan helm atau barang bawaan yang tidak dibawa naik.
Hmm… dalam
benak saya, kenapa harus dua kali daftar (baca: bayar)? Kenapa tidak dijadikan
satu saja di depan atau di sini. Mungkinkah Papandayan sudah menjadi ajang
kepentingan beberapa kelompok? Klasik!
Tidak
berhenti di situ, sampai di persimpangan terakhir sebelum Pondok Salada, di
sana ada pemeriksaan tanda masuk kembali. Ada tulisan “Pos Pemeriksaan” yang
terpampang jelas. Mungkin untuk mengantisipasi pendaki yang naik dari arah
Pengalengan, entah, saya tidak tahu. Setelah selesai diperiksa, penjaganya
menyodorkan kotak sumbangan yang harus diisi secara sukarela. Hmm… bayar lagi.
Memang di Pos yang ini tidak menyebutkan nominal, tetapi tetap saja “sukarela”.
Yeah, right!
Saya sangat
setuju dengan membludaknya jumlah pendaki dari tahun ke tahun, tiap gunung
favorit harus menata diri untuk mengantisipasi hal ini. Pembatasan dan
pengaturan mutlak diperlukan. Dan tentu saja gunung harus diberikan waktu untuk
mengembalikan ekosistem alamnya dalam kurun sekian bulan dalam satu tahun. Pembatasan
juga sebaiknya dilakukan pada para penjual yang ada di gunung. Kita pergi ke
gunung untuk mencari gunung dengan segala keterbatasannya dan bukan mencari
warung, bukan? Namun yang terjadi di Papandayan sepertinya lebih ke arah
komersialisme.
Terlepas
dari hal tersebut, ada satu hal yang patut diacungin jempol. Pendataan jumlah
pendaki tidak hanya dilakukan di pos awal saja, namun setiba di Pondok Selada,
ada dua ‘penjaga’ yang berkeliling mencatat pendaki yang masuk. Mencocokan
dengan data yang masuk di pos pendaftaran. Mendata pendaki tersebut benar-benar
sudah sampai di Pondok Selada dan sudah mendaftar tentunya, kalau belum? Hehe…
![]() |
| Warung Setelah Kawah. |
![]() |
| Warung Pertigaan Sebelum Pondok Selada. |
![]() |
| Pondok Selada. |
![]() |
| Suasana Tenda di Pondok Selada. |
![]() |
| Lapangan Pondak Selada. |
![]() |
| Istirahat dulu. |
Perubahan ke
arah yang lebih baik harus selalu dilakukan agar alam tetap terjaga
kelestariannya. Ingat, jangan sampai kita menunjukan keindahan Papandayan cuma
dari cerita dan fotonya saja. Keep
climbing, stay safe, clean, and fun climbing. (dm 3 Januari 2016)








No comments:
Post a Comment