Tulisan lama kepada seorang teman, kok sayang kalau gak diposting. :)
“Mas, semangatku buat bahas soal kok mlorot,
ya?”, bunyi sms jam sembilan malam kala itu. Sms yang mungkin cukup sering
dikeluhkan adek-adek di Semarang. Pasang surut dalam suatu hal pasti ada, kita
semua pasti pernah mengalami semangat ini turun dalam mengejar atau menekuni
yang menjadi tujuan. Hal ini manusiawi saja.
| Foto Penjurian Avicenna 2011. |
Dan, seyogyanya hal itu tidak boleh
berlangsung lama, bahkan harus meningkat, lebih, dari pada semula. Seperti
halnya grafik pemberian dua tiupan awal pada panduan BLS 2004, sebelum turun ke
titik nol harus ditambah tiupan lagi agar makin tinggi. :)
Semangat itu menular, begitu juga
pesimisme. Jangan pasang wajah yang lesu dan loyo di depan teman-temanmu,
apalagi bagi seorang pemimpin. Ketika teman-teman melihatmu begitu bersemangat
belajar, hal ini akan memacu mereka untuk ikut belajar. Jadilah motor bagi
rekan-rekan yang lain.
Rival memang sangat penting adanya.
Mempunyai rival belajar yang berpikiran 180 derajat berbeda dengan kita, di
satu sisi memang sangat menjengkelkan, tapi di sisi lain dapat berupa anugrah
tersendiri. Kita terpacu agar tidak memberikan jawaban yang salah sehingga
dapat ‘dihajar’ rival kita, oleh karena itu otomatis kita akan menekuni lebih
giat lagi.
Manfaatkan senior. Ketika ada
senior yang berkunjung ke posko, manfaatkan saja, curi ilmunya. Senior dan
yunior itu sama aja, yang beda cuma jam terbangnya. Siapkan pertanyaan, bisa
dari pengalaman pribadi atau hasil membaca buku (kalau ada kesempatan, :p).
Ketika senior datang ke posko, jadikan ajang sebagai sarana diskusi, bukan
hanya reunian atau hura-hura.
Kalau pengen cepat bisa, ya dengan
mengajar. Jangan tolak tawaran untuk mengisi materi atau penjurian. Kedua hal
itu sama saja, kita berbagi ilmu yang orang lain belum tau. Untuk bisa berbagi,
logikanya kita harus ‘lebih’ terlebih dahulu, baru bisa membagikan ke orang
lain. Untuk itu, anggap ini sebagai kesempatan emas untuk ‘melebihkan’ diri
sendiri. Dan hebatnya, ilmu bukanya makin berkurang ketika kita bagikan ke
orang lain, justru makin sebaliknya, makin bertambah!
Keluar dari zona nyaman. Ketika
manusia berada pada zona nyaman, mereka jadi lemot dan gak mau mikir! Zona nyaman di KSR adalah kondisi dengan
lengkapnya sumber ilmu di Posko dan banyaknya senior yang bisa ditanyain
kapanpun, 24 jam! Berpikirlah, hanya diri ini yang cuma bisa diandalkan dan
mengerti. Maka, paculah untuk terus memupuk diri dengan ilmu dan pengalaman.
Kalau perlu, buang semua buku di Posko untuk dapat menghargai dan menghayati
susahnya mencari ilmu.
No comments:
Post a Comment