Ujung Kulon, Kemolekan dan Komersialismenya



Pengen share kisah perjalanan ke Ujung Kulon kemarin. Dari yang dulunya sempat beberapa kali pesimis, akhirnya bisa juga saya kesana. Di sini saya lebih ingin share tentang perizinan dan cost-cost “tidak terduga” yang muncul selama di perjalanan. Info yang belum secara mendetail saya dapat ketika searching tentang Ujung Kulon.

Pulau Peucang

Fulus! Duit! Uang!
Di Tawang Jaya kami bermalam dulu dan baru keesokan harinya menyebrang ke Pulau Peucang. Nah, biaya penyebrangan inilah yang sering dikeluhkan pelancong. Satu perahu harganya 2 juta, dapat diisi sampai 20 orang. Kalau kesana sendirian, kita bisa sewa kapal sendiri atau cari barengan buat nyebrang (kalau ketemu) dan sebaiknya jangan tanya ke tukang perahu. Kenapa? Begini ceritanya, jika kawan bertanya ke tukang perahu/orang sana, pasti akan diikutkan rombongan lain yang notabene rombongan tersebut sudah mencarter kapal itu sendiri. Nah, pasti rombongan ini minta harganya dipotong sementara si empu kapal pastinya gak mau karena udah deal harga. Hal ini berujung ketidaknyaman sama empu perahu dan rombongan yang kita tebeng.

Perlu dicatat juga, 2 juta di atas benar-benar masih harga kapal tok, jadi hati-hati ketika empu kapal menawari (malah kadang langsung menyiapkan) makan selama di kapal/pulau, guide dari kapal, atau alat snorkeling. Karena itu akan dihitung saat kita mau bayar. Soal guide dari Tawang jaya juga sebaiknya dipikir baik-baik karena selama di TN kita juga diwajibkan memakai guide dari sana. Harga untuk penginapan di Tawang Jaya terbilang murah, mulai dari 100k per malam (bisa diisi sampai 3 orang), jasa guide 100k, makan per porsi 15k, alat snorkeling 35k.

Belum cukup sampai disitu, sampai Pulau Peucang yang merupakan pulau utama di Ujung Kulon, kami harus membayar biaya ‘parkir’ kapal. Yang lebih gila lagi biaya ini ditarik per rombongan, jadi kalau di kapal ada dua rombongan ya si petugas dapat 200k, karena izin yang dikeluarkan adalah izin per rombongan. Biaya masuk Taman Nasional seh murah cuma 2.5k, tetapi jangan gembira dulu, karena di tiap spot yang kita mau datangin ada biaya masuk yang harus kita bayarkan. Katanya seh biaya ini buat guide yang menemani, lah, kan udah ada guide dari Tawang Jaya? *dongkol*

Para Penghuni Asli Pulau Peucang.
Soal penginapan di Peucang juga bikin emosi, disamping tidak boleh mendirikan tenda di sana, ternyata penginapan harus dibooking dari jauh-jauh hari, okelah hal ini masih lumrah. Tetapi yang bikin naik darah, kenapa ketika penginapan sudah penuh kita tidak diperbolehkan mendirikan tenda atau tidur di mushola? Dan kenapa orang Tawang Jaya tidak informasi sebelumnya kalau penginapan di Peucang sudah penuh?

Khusus jika kawan ingin ke Tanjung Layar atau Cibom, perahu besar dari Tawang Jaya tidak bisa bersandar di pantainya karena lumayan dangkal dan berkarang. Oleh karena itu harus menggunakan speed boat atau, seperti yang saya alami, sampan mini tenaga tangan bocah! Ditambah ombak Samudra Hindia dan gerimis kecil, hmm.. kurang apalagi coba kalau mau senam jantung? Dan, sekali lagi, sampan ini tidak sepaket dengan perahu yang kita sewa alias harus bayar! Padahal janjinya sewa perahu bisa mengantarkan ke semua spot di Ujung Kulon! *suara naik 9 oktaf*

Terakhir soal urusan perut, disana tidak ada yang menjual makanan atau minuman. Karena itu pengunjung diarahkan untuk dimasakin oleh awak perahu yang dibawa dari Tawang Jaya/Sumur. Nah, kebetulan kami waktu itu sudah membawa makanan sendiri dan karena mungkin faktor usia, korek api hilang entah kemana. Ketika hendak meminjam ke dapur penginapan, si ibu cuma nyiyir dan berkata “ Mau masak ya?”. Tentu saja beliau tidak meminjamkan korek apinya yang berharga itu. Ada sepasang pengunjung dari Bandung yang sampai harus meminta-minta makanan ke rombongan lain selama dua hari pas di sana. Fiuh..

Setelah membahas yang pahit-pahit, mari kita membahas keindahan Ujung Kulon terlepas dari komersialisasi yang luar biasa itu.

Kemolekan Ujung Kulon
Ujung Kulon adalah sebuah Taman Nasional paling barat di Pulau Jawa karena itu namanya Ujung Kulon (Ujung: Paling, Kulon: Barat). Disinilah tempat habitat satu-satunya bagi Badak Bercula Satu yang hanya ada di Indonesia itu. Banyak spot yang bisa kita singgahi seperti Pulau Handeuleum, Pulau Peucang, Cidaon, Cibom, Tanjung Layar, Pulau Panaitan, Karang Copong, dan Citerjun.

Pulau Peucang. Merupakan pulau utama dimana kita bisa menyelesaikan urusan perizinan (atau menyerahkan berkas perizinan yang bisa diurus di Labuan). Disini terdapat homestay dari kelas barak sampai kelas villa yang katanya dulu sering dipakai RI 1. Ada spot yang cukup indah untuk snorkeling di sekitar pulau, bisa juga trekking ke Karang Copong. Atau jika mau santai cukup berleha-leha di depan homestay sambil mengusili rusa, babi hutan, monyet, atau biawak yang banyak berkeliaran disana, kalau berani seh, hehe... Note penting: perhatikan makanan kawan, jangan sampai diambil monyet!

Cidaon. Lokasi satu ini berada di Pulau Jawa, untuk menuju kesana cukup menyebrang sejauh 250 m dari Pulau Peucang. Berupa padang penggembalaan dengan hamparan rumput yang luas dimana banteng biasa merumput. Di sini juga banyak terdapat burung merak yang bebas berkeliaran. Tak jarang juga kita dapat melihat rusa yang tengah asyik merumput. Cuma jangan terlalu berisik apalagi menonton sampai tengah padang atau hewan-hewan tersebut lari ke hutan lagi.

Mak Lampir Penunggu Cidaon.
Tanjung layar. Untuk mencapai ke tempat ini kawan harus menuju Cibom terlebih dahulu dan berhubung tidak ada dermaga, maka kita harus menggunakan perahu speedboat (jika berduit) atau menggunakan sampan kecil, asoy sekali rasanya. Sesampai Cibom, perjalanan dilanjutkan melewati jalan setapak sejauh 1 km menuju mercusuar. Sepanjang jalan kita akan mengecap sedikit keliaran Ujung Kulon, hutan yang rimbun, kicauan burung dan deburan ombak di sisi kanan.

Tanjung Layar dan Cibom adalah satu-satunya tempat dimana kita diperbolehkan untuk mendirikan tenda. Memang di sana kita bisa menumpang di kamar penjaga mercusuar, tetapi cobalah sekali-kali merasakan liarnya hutan Ujung Kulon dari dalam tenda, nikmat sekali. Dan cobalah menjelajah pantai di belakang mercusuar, maka hamparan tebing yang garang nan indah akan kita ketemui. Deburan ombak, tebing yang liar, dan matahari terbit di tempat paling barat pulau Jawa ini sayang untuk dilewatkan.

Para Pengayuh Sampan di Cibom.
Tanjung Layar di Pagi Hari.
Ada satu pengalaman yang tidak bakal saya lupakan seumur hidup ketika berkunjung kesana. Ketika hendak menuju Pulau Peucang dari Tawang Jaya, ombak besar menghadang selama perjalanan alhasil kami seperahu asyik berpegangan ke tiang atau teman sendiri hingga memuntahkan isi perut ke Selat Sunda. Sungguh 3 jam terlama sepanjang hidup. Sementara itu saat perjalanan pulang dari Peucang, lautan seperti sudah lupa kejadian sebelumnya: bening dan tenang bak cermin raksasa. Kontras sekali.

Anyway, perjalanan kali itu sungguh nikmat dan tidak terlupakan. Disamping sistem birokrasi yang njlimet, Ujung Kulon worthed untuk dikunjungi. (dm, 4/4 13)

10 comments:

  1. wahhhh ada yg nda terduga ya....
    untung belum jadi kesana kemaren.
    bisa lah tu ilmu dipake.
    matur tengkyu gan atas infonya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mas. Keep travelling keep sharing ya. :)

      Delete
  2. Mau nimbrung dan info nih. Sebentar lagi akan ada kapal reguler ke peucang yang rutin seminggu sekali...dan untuk info tentang pulau Peucang dan TN. Ujung Kulon bisa diunggah di web resmi Balai Taman Nasional Ujung Kulon di www.ujungkulon.org Kami tunggu kedatangan rekan2 di Pulau Peucang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasie infonya Mbak Amila. :)
      Iya neh, pengen ke sana lagi kalau ada kesempatan. Dan moga pas ke sana sudah tidak sekomersil dulu lagi. Pengelolaannya sudah lebih baik lagi. :)

      Delete
  3. HAi. Saya berencana liburan ke ujung kulon sendirian nih. Ngurus izinnya lgsg disana? Bisa diurus sebelum saya berangkat nggak? Apa saja yang diperlukan yah? Boleh minta nomor contact kamu? Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh dunk.. kukirim via email ya...
      alphamahendra@gmail.com.

      Delete
  4. Minta kontak person yang punya kapal dong ? Boleh ga ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh...
      Pak Komar 081806181209.
      0253801835.

      Happy travelling.

      Delete
  5. bener tuh mas ada yang sampe 800rb per orang ke sana
    parah banget punglinya kebanyakan di komersialkan...parah

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...