Dua tahun
semenjak pendakian saya ke Gunung Guntur, dimana kalau itu hanya bisa mendaki
ke Puncak 2, akhirnya saya bisa menyempatkan untuk sekali lagi mendaki Gunung
2,249 mdpl ini. Kali ini, karena target yang dituju cukup berat bagi saya, saya
putuskan untuk membawa peralatan lengkap dan bermalam semalam di Pos 3. Tentu
saja dengan kawan lama, pendaki dedengkot Cikurai, Juan yang akhirnya mau
menemani saya sekali lagi ke Guntur.
| Puncak 3 Guntur. |
Tidak terduga,
jumat sore saat saya masih di kantor, bersiap-siap pulang cepat untuk menuju
Terminal Kampung Rambutan dari Kota Cilegon, ada dm dari Instagram, ternyata
pembaca blog saya yang menanyakan apakah bisa bergabung pada pendakian saya
selanjutnya. Langsung saja saya jawab: meet me at Terminal Rambutan if you
wanna join, tonight!
Pembaca blog
saya berasal dari negeri seberang, Malaysia. Terus terang saya sedikit
tersanjung dapat pembaca dari negeri seberang, hehe… namanya Khai, dan dia pun
tanpa pikir panjang mengiyakan balasan dm saya tadi. Khai ternyata orang
Malaysia yang kebetulan sedang ada proyek di Indonesia, sedang tidak ada acara,
dan kebetulan sedang mencari teman mendaki gunung di Indonesia.
Kami janjian
pukul sepuluh di Terminal Rambutan, naik bis malam dari Jakarta agar sampai di
Garut pagi harinya, jadi memulai pendakian pagi hari, tidak malam hari seperti
pada dua pendakian saya sebelumnya. Lebih banyak waktu, lebih santai.
Frame Tenda Ketinggalan
Saya dan
Khai sampai di Pom Bensin Tanjung pukul enam pagi, untunglah tidak terlalu pagi
sehingga sudah ada toko yang buka. Mencari tempat untuk menunggu Juan, kami
putuskan mampir ke warung terdekat dan memesan sarapan pagi, lontong sayur
kalau tidak salah. Pada kesempatan ini, aku mencoba mengobrol dengan Khai,
mencoba menggali lebih jauh perihal dirinya, apakah dia sering mendaki gunung,
bagaimana sifatnya, dan lain-lain. Teman saat mendaki gunung itu sangat
penting, pastikan kita saling mengenal satu sama lain. Sepele, namun akan
menjadi vital saat keadaan darurat di puncak gunung.
Baru pukul
delapan, Juan datang menjumpai kami. Di waktu itu, kami sudah sempatkan untuk
membeli perbekalan mendaki di indomaret terdekat. Tidak lama, kami menuju
basecamp dan mengatur barang bawaan di sana saja. Berencana mendaki Gunung
Papandayan setelah ini, tentunya sebagian perbekalan dan baju tidak perlu kami
bawa ke puncak.
Kurang lebih
pukul sepuluh pagi, kami melangkahkan kaki keluar dari basecamp. Berajalan
santai melewati tambang pasir dan sekali ini tidak perlu tersesat karena
sayalah yang jadi guide kali ini, hehe.. beberapa kali saya bully Juan karena
membuat kami tersesat pada pendakian pertama ke Guntur.
Sampai di
pos 1 kami sempatkan untuk istirahat dan membuat makan siang. Cukup lama kami
beristirahat, baru pada pukul dua siang kami sampai di Pos 3. Nah, setelah
mendapatkan tempat yang pas untuk mendirikan tenda, baru kami sadari ternyata
Juan tidak membawa frame tenda. Ketinggalan! Sial!
Pusing juga
dibuatnya, bagaimana caranya mendirikan tenda tanpa framenya? Bukanya
menyalahkan, kami malah tertawa menertawakan kekonyolan ini. Pikir sana sini,
kami coba akali dengan menggunakan kayu dan tali. Langsung saja kami berdua
berpencar mencari kayu. Khai menjaga barang-barang dan melihat kami berdua
mendirikan tenda-bivak, wajahnya antara takut malam ini tidur di luar tenda dan
heran dengan tingkah saya dan Juan.
Akhirnya,
tenda tanpa frame dapat berdiri dengan cukup sukses. Semoga tidak ada badai
malam ini!
Ke Puncak 3
Malam itu
kami tidur lebih cepat agar keesokan harinya dapat bangun lebih awal, tepatnya
pukul tiga pagi untuk summit attact. Singkat cerita, kira-kira tepat sebelum
matahari keluar dari peraduannya kami bertiga sudah sampai di Puncak 1 Guntur.
Beristirahat cukup lama untuk menikmati matahari terbit yang jarang-jarang
dapat kami nikmati dari puncak gunung.
Wajah-wajah
gembira terlihat di mana-mana. Pemandangan sunrise
di puncak gunung memang tiada duanya, apalagi ditemani secangkir kopi panas.
Ah, nikmatnya.
Setelah
sarapan pagi, kami melanjutkan perjalanan ke Puncak 2. Cukup melelahkan
tampakanya bagi Juan dan Khai, sehingga ketika sampai di puncak 2 dan saya ajak
ke Puncak 3, mereka lebih memilih menunggu di Puncak 2 saja. Okelah, langsung
saja saya tanjap gas ke Puncak 3!
Jalurnya sangat
jelas, kalau dari Puncak 2 terlihat cukup terjal, namun saat dijalani ternyata
masih cukup aman, tidak perlu menggunakan kedua tangan untuk berjalan. Tidak
lama, saya sampai Puncak 3 dan terkaget ternyata masih ada puncak yang lebih
tinggi! Sial! Lebih sial lagi, ada yang sedang camp di Puncak 4! Belakangan
saya baru baca ternyata Guntur memiliki 5 puncak.
Saya
perhatikan jalur menuju Puncak 4 dari Puncak 3 sangat terjal, bahkan pada
beberapa bagian tampak vertikal walau terlihat jelas ada jalur ke sana.
Belakangan juga saya tahu dari Juan, ada jalur lain untuk menuju ke Puncak 4
dan 5. Hehe.. segera saja saya rayu Juan agar dapat mengantarkan saya ke sana.
Kecelakaan Saat Turun
Saat turun
dari Puncak 1 melalui trek berpasir, di depan kami ada sedikit antrian, tanya
sana sini rupanya ada dua pendaki yang terperosok dan terluka. Segera saja saya
melipir untuk ikut membantu mereka, hitung-hitung saya pernah belajar
pertolongan pertama sehingga salah rasanya kalau tidak mempraktekan ilmu saya
saat itu.
Pendaki
tersebut terperosok saat ‘berlari’ turun dan kepalanya terkena batu. Tungkai
kananya lecet serta sempat tidak sadarkan diri. Segera saya lakukan pertolongan
sebisanya, menutup luka agar pendarahan berhenti dan memastikan tanda vital
korban tetap terjaga. Setelah dipastikan tidak ada tulang yang patah, kami
ramai-ramai memindahkan korban ke tepi agar dapat beristirahat dengan nyaman.
Memindahkan
korban tidak semudah diucapkan, medan yang miring dan berpasir membuatnya lebih
susah, namun dengan kerja sama akhirnya korban bisa dipindahkan. Korban satunya
tidak terlalu parah, hanya lecet-lecet pada tungkai dan lengan dan dapat
dipindahkan dengan dipapah.
| Menuju Puncak. |
| Lereng yang Berkabut. |
| Minum Kopi di Puncak 1 Guntur. |
| Tahapan Pembuatan Tenda-Bivak. |
| Pose Bertiga di Puncak 1 Guntur. |
| Membantu Pendaki yang Cidera. |
| Menuju Puncak 2 Guntur. |
Setelah
kedua korban sadar dan pulih kembali, dapat berjalan kembali walau harus
sedikit dibantu kawannya, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke bawah
yang masih panjang. Dalam hati, saya selalu bersyukur bahwa perlengkapan
pertolongan pertama selalu ada di backpack
dan tentu saja bersyukur pernah belajar bagaimana melakukan pertolongan pertama.
terima kasih atas kabarnya gan, semoga berkah.
ReplyDeletesama-sama...
ReplyDeleteWah, blognya baguys nih gann bisa buat referensi kita kalo lagi bikin artikel
ReplyDeletetrims...
Delete