Menggapai Puncak Marapi

Kata teman saya @mhdalma, di gunung inilah legenda Cerita Mak Lampir berasal, bukan dari Gunung Merapi di Jawa Tengah-Yogyakarta sana, tetapi di sini, di Sumatera Barat. Cerita harimau jadi-jadian dan Datuk Panglima Kumbang yang sempat tenar di salah satu televisi swasta nasional tersebut aslinya berasal dari Gunung Marapi, pakai ‘a’. Samar-samar, masih terpatri dalam ingatan kisah itu pertama kali saya dengar dari radio bersama keluarga menjelang waktu tidur dulu, dua puluh tahun yang lalu.

Taman Eidelweis Puncak Marapi.
Mungkin ada benarnya, karena Datuk sendiri adalah gelar yang umum digunakan di Masyarakat Minang. Entah kenapa, cerita ini diadaptasi ke Tanah Jawa yang juga mempunyai gunung berapi, yakni Merapi. Lain Merapi, lain pula Marapi. Setelah beberapa kali mendaki Gunung Merapi, akhirnya saya berkesempatan menikmati keindahan gunung merapinya Pulau Sumatera yang rancak bana!

Jalur Pendakian
Dari baca beberapa artikel di internet, ada dua jalur untuk menggapai puncak 2.891 mdpl ini, yakni Jalur Simabur dan Jalur Koto Baru. Sebagai manusia yang suka cari yang enak-enak, saya memilih Jalur Koto Baru yang jelas lebih mudah dengan jalur yang pasti, hehe..

Untuk Puncak, katanya juga ada tiga puncak, yakni Puncak Merpati, Puncak Elang sebagai puncak tertinggi kedua, dan yang paling tinggi yakni Puncak Garuda. Entahlah, perasaan saat itu Puncak Merpati bagi saya merupakan titik yang paling tinggi, yah, karena saya bukan penganut flat earth, mungkin saja saya yang salah.

Kembali ke Jalur Pendakian via Pasar Koto Baru yang merupakan jalur termudah untuk dicapai. Pertama-tama kita tinggal mencari travel atau angkutan antara Padang – Bukittinggi, karena Pasar Koto Baru berada di jalur ini, tepatnya Kabupaten Padang Panjang. Kalau dari Padang dapat ditempuh dua sampai tiga jam sedangkan dari Buktitinggi hanya setengah sampai satu jam saja. Bilang saja ke supir untuk minta diturunkan di Pasar Koto Baru, karena tempat ini sudah familiar untuk memulai pendakian Gunung Singgalang dan Marapi, seperti Selo untuk mendaki Merapi Merbabu dan Kledung untuk mendaki Sindoro Sumbing.

Langkah selanjutnya tinggal mencari ojek agar diantar ke Pos 1 atau Basecamp untuk melakukan pendaftaran sebelum melakukan pendakian. Harga ojek berkisar sepuluh sampai dua puluh ribu rupiah (2016) sementara biaya pendaftaran untuk tiga orang dan satu parkir bermalam motor dipatok empat puluh ribu (2016, entah bagaimana perinciannya, tidak ada tiket soalnya, hehe..). Ohya, bagi pengguna sepeda motor roda dua tersedia parkir menginap di Pos 1 Marapi.

Berjalan Pada Tengah Malam
Saat itu, kami memulai pendakian pada pukul dua belas malam dengan sistem tek tok. Secara overall, jalur pendakian enak untuk dilalui, pantas saja beberapa kawan menyebut Marapi dengan sebutan Gunung Wisata.  Setelah setengah jam berjalan, kita akan menjumpai Pesanggrahan di mana terdapat bangunan permanen dan lokasi untuk berkemah. Dari sini, jalur masih berupa tanah landai dengan beberapa tanjakan. Ketika kawan sudah menjumpai jalur berbatu, maka sejam lagi akan sampai di Cadas yang merupakan batas vegetasi.

Dari Cadas, dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menuju Puncak Merpati melewati jalur berpasir dan batu. Sehingga kalau ditotal, kami saat itu menghabiskan total enam jam perjalanan dengan banyak waktu istirahat. Sementara untuk Taman Eidelweis masih berjarak kurang lebih 45 menit dari puncak, turun ke arah timur.

Untuk sumber air, kita dapat mengambil di Pos Pesanggrahan pada awal pendakian yang airnya masih segar. Atau dapat juga mengambil di Cadas atau di Taman Eideilweis, namun info dari teman pendakian, sumber di sini kurang bagus airnya, sehingga lebih baik persiapkan dari bawah. Sementara, untuk lokasi bertenda, tidak perlu dikuatirkan karena sepanjang jalur banyak tempat lapang untuk mendirikan tenda. Cadas sendiri dapat menampung sampai puluhan tenda yang ternyata di sini juga ada warung seperti di Puncak Lawu, hehe..

Ohya, hati-hati ketika berjalan dalam gelap malam, di gunung satu ini masih banyak berkeliaran babi hutan dan ular pohon. Saat melakukan pendakian, kami sempat menjumpai babi hutan di Pos 1 dan ular pohon di tengah jalan. Pantas saja, tukang ojek yang mengantar saya ke Pos 1 pada pukul sembilan malam tidak berani sendirian, “Takut diseruduk babi hutan.” Kata si tukang ojek yang awalnya kupikir hanya bercandaan saja.

Luasnya Puncak Marapi
Jangan banyangkan seperti Puncak Merapi yang bergirigi, kita dapat bermain bola sepak di atas Puncak Marapi, dua laga sekaligus malahan. Ya, puncak gunung satu ini berupa hamparan pasir dan bebatuan yang luas. Di tengahnya terdapat kawah dengan kaldera yang lumayan luas, asap belerang masih rajin membumbung ke atas.

Uniknya, pada sebelah timur (atau utara ya?) terdapat dua lubang menganga seperti kawah kecil. Pada kedua lubang tersebut juga mengeluarkan asap belerang. Dari kejauhan seperti sumur raksasa saja, sayang saya belum sempat melihat dari dekat. Namun, ada perasaan khawatir juga karena tampaknya, pinggiran kedua lubang tersebut tampak bukan dari bebatuan yang kokoh alih-alih terlihat labil. Jangan sampai karena penasaran malah masuk ke jurang bukan.
 
Ladang dan Singgalang.

Pos 1 Basecamp Marapi.

Pesanggrahan.

Jalur Marapi.

Cadas.

Sampah Berserakan di Cadas.

Menuju Puncak.

Singgalang dan Tandike.

Puncak Marapi.

Puncak Merpati.

Kawah Marapi.

Going Down.

Jengkel karena Banyak Perusak Gunung
Pada akhir pekan, pengunjung Gunung Marapi dapat mencapai 300-400 orang. Suatu angka yang lumayan besar untuk Gunung Marapi. Angka yang lumayan besar berpotensi merusak gunung jika pendaki bersangkutan tidak bertanggung jawab, tidak bisa menjaga keindahan gunung, atau tidak bisa berlaku adil pada alam sekitar.

Sayangnya, saat mendaki gunung cantik ini, masih banyak, sangat banyak malahan, sampah berserakan di mana-mana. Penumpukan sampah terutama terjadi di Cadas yang merupakan lokasi berkemah favorit (padahal tempat ini lebih terekspos oleh angin). Sempat pula, saya menegur adek-adek pendaki pemula yang masih saja memetik bunga abadi dengan seenaknya, seperti hal yang sudah wajar untuk dilakukan. Apa jadinya jika setiap pekan setengah dari angka 400 tadi melakukan hal ini?

Semoga kedepannya mereka diberikan kesadaran untuk ikut melestarikan alam Indonesia.


Keep safe, clean, and fun climbing! (dm, 2 November 2016)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...